Renungan Rabu Pagi
Ada masa ketika manusia begitu sibuk mengejar kesempurnaan hingga lupa bahwa dirinya memang diciptakan sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan. Kita bisa salah memilih, keliru berbicara, gagal memenuhi harapan, bahkan tersandung oleh kelemahan diri. Namun Islam tidak mengajarkan manusia untuk berputus asa karena kesalahan, melainkan bangkit, memperbaiki diri, bertobat, belajar, dan terus berjalan menuju Allah dengan hati yang rendah.
Keinginan untuk menjadi manusia yang baik adalah sesuatu yang mulia. Kita ingin menjadi anak yang membanggakan orang tua, pasangan yang menyenangkan, orang tua yang bijaksana, sahabat yang dapat dipercaya, pekerja yang bertanggung jawab, dan seorang hamba yang taat kepada Allah. Kita ingin setiap keputusan benar, setiap ucapan tepat, setiap langkah menghasilkan kebaikan. Akan tetapi, keinginan tersebut dapat berubah menjadi beban ketika kita menuntut diri sendiri untuk tidak pernah salah.
Padahal, manusia bukan malaikat. Manusia memiliki nafsu, emosi, keterbatasan pengetahuan, kelemahan ingatan, keterbatasan kemampuan, dan pengalaman yang terus berkembang. Karena itu, kehidupan manusia tidak selalu berjalan lurus tanpa kesalahan. Ada keputusan yang ternyata keliru setelah dijalani. Ada perkataan yang baru kita sesali setelah keluar dari mulut. Ada sikap yang baru kita pahami kekeliruannya setelah melihat dampaknya kepada orang lain.
Kesalahan tidak selalu menjadi tanda bahwa seseorang adalah manusia buruk. Kesalahan dapat menjadi pintu menuju kesadaran apabila diikuti dengan kejujuran, penyesalan, pertobatan dan perbaikan. Yang perlu ditakuti bukan semata-mata pernah jatuh, tetapi ketika seseorang jatuh lalu merasa tidak perlu bangkit. Yang berbahaya bukan sekadar pernah berbuat salah, tetapi ketika kesalahan dibela, diulang, dinormalisasi, dan akhirnya membuat hati kehilangan kepekaan terhadap kebenaran.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam adalah orang yang banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak melakukan kesalahan adalah mereka yang banyak bertobat.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah.
Perhatikan bagaimana Islam memandang manusia dengan sangat realistis. Rasulullah ﷺ tidak mengatakan bahwa manusia yang baik adalah manusia yang tidak pernah berbuat salah. Sebaliknya, manusia terbaik di antara mereka yang berbuat salah adalah mereka yang kembali kepada Allah dengan bertobat.
Artinya, kesalahan tidak harus menjadi akhir perjalanan. Kesalahan dapat menjadi titik balik. Kegagalan dapat menjadi ruang belajar. Penyesalan dapat menjadi pintu perubahan. Bahkan air mata yang jatuh karena menyadari kesalahan dapat menjadi awal dari kehidupan yang lebih dekat dengan Allah.
Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
QS. Az-Zumar: 53.
Ayat ini mengajarkan sebuah harapan yang sangat besar. Allah tidak memanggil orang-orang yang telah sempurna. Allah memanggil hamba-hamba yang bahkan telah melampaui batas terhadap dirinya sendiri. Mereka tetap dipanggil sebagai “hamba-hamba-Ku”. Sebuah panggilan yang mengandung kasih sayang sekaligus membuka jalan untuk kembali.
Karena itu, jangan menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk membenci diri sendiri. Jika dahulu kita pernah salah, akuilah. Jika pernah menyakiti seseorang, mintalah maaf. Jika pernah mengambil keputusan yang keliru, belajarlah darinya. Jika pernah lalai beribadah, kembalilah. Jika pernah jauh dari Allah, jangan menunggu diri menjadi sempurna untuk mendekat kepada-Nya.
Salah satu perangkap terbesar dalam kehidupan adalah menunggu menjadi baik terlebih dahulu sebelum mulai melakukan kebaikan. Seseorang berkata, “Nanti kalau hati saya sudah tenang, saya akan rajin beribadah.” Yang lain berkata, “Kalau hidup saya sudah tertata, saya akan berubah.” Ada pula yang merasa, “Saya terlalu banyak dosa untuk kembali kepada Allah.”
Pikiran seperti itu justru dapat menjadi penghalang untuk bertumbuh. Kita tidak perlu menunggu sempurna untuk mulai memperbaiki diri. Kita memperbaiki diri justru agar perlahan-lahan menjadi lebih baik.
Allah berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya dan dia mendapat siksa dari kejahatan yang diperbuatnya. Mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.’”
QS. Al-Baqarah: 286.
Ayat tersebut memberikan pelajaran bahwa kemampuan manusia memiliki batas. Allah mengetahui keterbatasan kita. Maka jangan membebani diri dengan tuntutan yang tidak pernah Allah tetapkan. Menjadi baik bukan berarti harus selalu berhasil. Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah menangis. Menjadi dewasa bukan berarti selalu tahu apa yang harus dilakukan. Menjadi hamba yang saleh bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan.
Yang membedakan adalah bagaimana kita merespons kesalahan tersebut.
Ada orang yang ketika gagal langsung menyimpulkan bahwa dirinya tidak berguna. Ada yang ketika melakukan kesalahan kemudian terus menghukum dirinya sendiri selama bertahun-tahun. Ada pula yang begitu takut mengecewakan orang lain hingga hidupnya dipenuhi kecemasan untuk selalu terlihat sempurna.
Islam mengajarkan jalan yang lebih seimbang. Kita diperintahkan untuk mengevaluasi diri, tetapi tidak diperintahkan untuk membenci diri. Kita diperintahkan menyesali dosa, tetapi tidak diperintahkan berputus asa dari rahmat Allah. Kita diperintahkan memperbaiki kesalahan, tetapi tidak dibebani kewajiban untuk menghapus seluruh kelemahan manusiawi dalam diri.
Allah berfirman:
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ ۗ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu, dengarlah serta taatlah, dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
QS. At-Taghabun: 16.
Kata “menurut kesanggupanmu” mengandung pelajaran penting. Dalam menjalani kehidupan, kita perlu berusaha sebaik mungkin, tetapi tetap menyadari bahwa kemampuan setiap orang berbeda. Jangan membandingkan seluruh perjalanan hidup kita dengan pencapaian orang lain. Kita tidak mengetahui beban yang mereka pikul, perjuangan yang mereka sembunyikan, atau air mata yang mereka tahan.
Begitu pula jangan terlalu keras kepada diri sendiri hanya karena perjalanan kita tidak secepat orang lain. Ada orang yang berubah dalam semalam setelah mendapatkan hidayah. Ada yang membutuhkan bertahun-tahun untuk memahami satu pelajaran kehidupan. Ada yang tumbuh melalui ilmu. Ada yang tumbuh melalui kehilangan. Ada yang tumbuh melalui kegagalan. Ada pula yang baru benar-benar mengenal dirinya setelah berkali-kali jatuh dan bangkit.
Semua itu bagian dari perjalanan.
Allah berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
QS. Al-Insyirah: 5–6.
Perhatikan bahwa Allah tidak mengatakan kehidupan akan bebas dari kesulitan. Allah justru memberikan kabar bahwa bersama kesulitan terdapat kemudahan. Ini mengajarkan kita untuk tidak menilai seluruh kehidupan hanya berdasarkan satu fase yang sedang kita alami.
Hari ini mungkin kita sedang kecewa. Hari ini mungkin kita merasa gagal. Hari ini mungkin kita merasa belum menjadi orang yang kita inginkan. Namun hari ini bukan seluruh cerita kehidupan kita.
Jangan menghakimi diri berdasarkan satu kesalahan.
Jangan menentukan masa depan berdasarkan satu kegagalan.
Jangan menyimpulkan bahwa hidup tidak memiliki harapan hanya karena hari ini terasa berat.
Selama masih hidup, pintu perbaikan masih terbuka. Selama hati masih mampu menyesal, masih ada kesempatan untuk berubah. Selama kaki masih mampu melangkah, kita masih dapat mendekat kepada Allah.
Kesempurnaan bukan syarat untuk memulai perjalanan kepada-Nya.
Yang Allah lihat adalah kesungguhan kita dalam berjalan.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan agar manusia tidak membebani dirinya dengan sesuatu yang berada di luar kemampuannya. Dalam sebuah hadis sahih disebutkan:
إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ
“Apabila aku memerintahkan kalian dengan sesuatu, maka kerjakanlah darinya semampu kalian. Dan apabila aku melarang kalian dari sesuatu, maka jauhilah.”
HR. Bukhari dan Muslim.
Hadis ini memberikan prinsip besar dalam kehidupan seorang Muslim: lakukan kebaikan dengan sungguh-sungguh sesuai kemampuan dan terus tingkatkan kemampuan tersebut. Jangan menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti, tetapi jangan pula menjadikan ambisi untuk menjadi sempurna sebagai alasan untuk menghancurkan diri sendiri.
Kita boleh lelah.
Kita boleh menangis.
Kita boleh mengakui bahwa kita tidak tahu.
Kita boleh mengatakan bahwa kita membutuhkan pertolongan.
Kita boleh mengakui bahwa keputusan kemarin ternyata salah.
Yang tidak boleh adalah menjadikan semua itu sebagai alasan untuk berhenti memperbaiki diri.
Ada perbedaan besar antara “saya pernah gagal” dan “saya adalah orang gagal”. Kalimat pertama berbicara tentang sebuah peristiwa. Kalimat kedua menjadikan kegagalan sebagai identitas. Jangan biarkan kesalahan berubah menjadi label yang melekat sepanjang hidup.
Begitu pula ada perbedaan antara “saya melakukan dosa” dan “saya tidak layak mendapatkan ampunan”. Yang pertama adalah pengakuan terhadap kesalahan. Yang kedua adalah bentuk keputusasaan terhadap rahmat Allah.
Padahal Allah membuka pintu taubat selama manusia masih memiliki kesempatan untuk kembali.
Maka, jika hari ini kita merasa belum menjadi manusia yang kita harapkan, jangan menyerah. Mungkin kita memang belum sampai. Tetapi belum sampai bukan berarti tidak akan pernah sampai.
Teruslah belajar.
Teruslah memperbaiki ucapan.
Teruslah memperbaiki ibadah.
Teruslah memperbaiki hubungan dengan keluarga.
Teruslah belajar meminta maaf.
Teruslah belajar memaafkan.
Teruslah memperbaiki cara memperlakukan orang lain.
Teruslah berusaha meninggalkan dosa yang sama.
Jika kembali jatuh, bangkit lagi.
Jika kembali salah, perbaiki lagi.
Jika hati kembali lalai, ingatkan lagi.
Jika iman melemah, dekatilah kembali majelis ilmu, Al-Qur’an, doa dan lingkungan yang mengingatkan kepada Allah.
Jangan menunggu menjadi manusia sempurna untuk menjadi manusia yang bermanfaat.
Sebab bisa jadi, justru melalui kelemahan kita Allah mengajarkan kerendahan hati. Melalui kegagalan, Allah mengajarkan kesabaran. Melalui kehilangan, Allah mengajarkan ketergantungan kepada-Nya. Melalui kesalahan, Allah mengajarkan pentingnya taubat. Melalui keterbatasan, Allah mengajarkan bahwa manusia memang membutuhkan pertolongan-Nya.
Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk membuktikan bahwa kita tidak pernah salah. Hidup adalah perjalanan untuk semakin mengenal Allah, semakin mengenal diri, semakin matang dalam mengambil pelajaran, dan semakin sungguh-sungguh memperbaiki langkah.
Maka jangan tuntut dirimu untuk tidak pernah jatuh. Tuntutlah dirimu untuk selalu bangkit.
Jangan tuntut dirimu untuk selalu benar dalam segala hal. Tuntutlah dirimu untuk berani mengakui ketika salah.
Jangan tuntut dirimu untuk menjadi sempurna. Tuntutlah dirimu untuk terus bertumbuh.
Sebab manusia yang baik bukanlah manusia yang tidak memiliki kekurangan. Manusia yang baik adalah manusia yang menyadari kekurangannya, tidak sombong terhadap kelebihannya, tidak berputus asa ketika gagal, dan tidak berhenti berjalan menuju Allah.
Barangkali hari ini kita belum menjadi pribadi yang kita impikan.
Tidak apa-apa.
Selama kita masih mau belajar, kita sedang bertumbuh.
Selama kita masih mau bertobat, kita sedang kembali.
Selama kita masih mau memperbaiki diri, perjalanan belum selesai.
Dan selama Allah masih memberikan kita kesempatan untuk membuka mata pada pagi hari, itu adalah sebuah pesan yang sangat indah: masih ada waktu untuk menjadi lebih baik.
Tidak harus sempurna untuk bertumbuh.
Cukup jujur mengakui kelemahan, rendah hati menerima nasihat, bersedia memperbaiki kesalahan, dan terus melangkah dalam kebaikan.
Karena yang Allah minta dari kita bukan kesempurnaan manusia, melainkan ketakwaan, kesungguhan, dan hati yang senantiasa kembali kepada-Nya. (Dr. H. Mutadi Hairi,M.Pd)
