Renungan Ahad Pagi
Ada saatnya hidup terasa penuh sesak oleh kecemasan: memikirkan rezeki, masa depan, penilaian manusia, kebutuhan keluarga, dan berbagai persoalan yang belum menemukan jalan keluar. Namun, iman mengajarkan bahwa manusia tidak diciptakan untuk menggantungkan hati kepada makhluk, melainkan kepada Allah Yang Mahakuasa, tempat seluruh kebutuhan bermuara dan kepada-Nya setiap pertolongan sejati kembali.
Kita sering cemas terhadap sesuatu yang sebenarnya belum tentu terjadi. Kita takut kehilangan pekerjaan, takut kekurangan uang, takut tidak disukai orang, takut masa depan menjadi gelap, takut usaha tidak berhasil, takut kebutuhan tidak terpenuhi. Pikiran terus berkelana mencari jalan keluar, sementara hati semakin lelah karena merasa harus mengendalikan segala sesuatu. Padahal, ada banyak perkara dalam kehidupan yang memang berada di luar kemampuan manusia. Di situlah seorang mukmin belajar satu perkara besar: berikhtiar dengan sungguh-sungguh, tetapi menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Dunia ini pada hakikatnya sementara. Apa yang hari ini kita genggam, suatu saat akan kita tinggalkan. Rumah, kendaraan, jabatan, kekayaan, pujian, popularitas, bahkan orang-orang yang kita cintai, semuanya berada dalam ketetapan Allah. Tidak ada satu pun yang benar-benar menjadi milik kita secara mutlak. Kita hanya diberi kesempatan untuk menikmati, menggunakan, menjaga, dan mempertanggungjawabkannya.
Allah berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 20:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.
Ayat ini bukan mengajarkan kita untuk meninggalkan dunia atau tidak berusaha. Islam tidak pernah memerintahkan manusia menjadi malas, miskin karena tidak mau bekerja, atau pasrah tanpa ikhtiar. Yang diajarkan adalah jangan menjadikan dunia sebagai tempat bergantungnya hati. Gunakan dunia untuk menuju akhirat, bukan menjadikan dunia sebagai tujuan terakhir.
Karena itu, ketika kebutuhan terasa berat, jangan merendahkan diri dengan meminta-minta kepada manusia jika masih ada jalan untuk berusaha. Jangan menjadikan manusia sebagai tempat menggantungkan seluruh harapan. Mintalah kepada Allah terlebih dahulu, kemudian bergeraklah mencari sebab yang halal. Jika Allah membukakan jalan melalui manusia, bersyukurlah kepada Allah dan berterima kasih kepada manusia. Namun hati tetap mengetahui bahwa manusia hanyalah perantara, sedangkan pemberi pertolongan yang sebenarnya adalah Allah.
Allah mengajarkan kepada kita:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.
Inilah inti pendidikan tauhid. Kita boleh meminta bantuan kepada manusia dalam perkara yang memang mampu mereka lakukan, tetapi jangan sampai hati meyakini bahwa keselamatan, rezeki, kemudahan, dan keberhasilan berada secara mutlak di tangan mereka. Seorang dokter dapat mengobati, tetapi Allah Yang memberi kesembuhan. Seorang atasan dapat memberikan pekerjaan, tetapi Allah Yang membuka rezeki. Seorang sahabat dapat menolong, tetapi Allah Yang menggerakkan hatinya untuk menolong. Sebab itu, jangan berhenti pada sebab. Pandanglah Zat Yang menciptakan sebab.
Allah berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 51:
قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Katakanlah, “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.”
Perhatikan kalimatnya: “Dialah Pelindung kami.” Betapa menenteramkannya keyakinan ini. Ketika manusia tidak mampu menolong, Allah tetap mampu. Ketika pintu manusia tertutup, pintu Allah tidak pernah tertutup. Ketika semua jalan yang kita perkirakan buntu, Allah mampu menghadirkan jalan dari arah yang tidak pernah kita sangka.
Allah bahkan menjanjikan:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.
Surah At-Talaq ayat 2–3 tersebut memberikan pelajaran yang sangat dalam: jalan keluar tidak selalu datang melalui jalan yang kita pikirkan. Rezeki tidak selalu datang melalui pintu yang kita ketuk. Pertolongan tidak selalu datang dari orang yang kita harapkan. Allah memiliki cara sendiri untuk menolong hamba-Nya.
Karena itu, jangan terlalu sibuk memikirkan “siapa yang akan menolong saya?” Ubahlah pertanyaan itu menjadi “apa yang Allah kehendaki agar saya lakukan?” Jika sedang kesulitan, berdoalah. Jika sedang kekurangan, berusahalah. Jika sedang sakit, berobatlah. Jika sedang menghadapi masalah, carilah solusi. Jika membutuhkan bantuan manusia, mintalah dengan cara yang baik. Tetapi setelah semua itu dilakukan, serahkan hasilnya kepada Allah.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan ketergantungan hati kepada Allah melalui nasihat yang sangat indah kepada Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
يَا غُلَامُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
“Wahai anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” Hadis riwayat Tirmidzi.
Hadis tersebut bukan berarti kita dilarang meminta bantuan kepada manusia. Maksudnya adalah membangun ketergantungan hati kepada Allah. Manusia boleh menjadi sebab, tetapi Allah adalah Musabbibul Asbab, Zat Yang menetapkan dan menggerakkan seluruh sebab.
Betapa banyak orang kehilangan ketenangan karena terlalu memikirkan pendapat manusia. Ia bekerja bukan karena Allah, tetapi karena ingin dipuji. Ia bersedekah bukan karena Allah, tetapi karena ingin dianggap dermawan. Ia membantu bukan karena Allah, tetapi karena berharap suatu hari akan dibantu. Ia kecewa ketika kebaikannya tidak dibalas. Ia sakit hati ketika pengorbanannya tidak dihargai.
Padahal, jika hati sejak awal mengharap Allah, manusia tidak akan mudah membuat kita kecewa. Kita berbuat baik karena Allah melihat. Kita menolong karena Allah mengetahui. Kita bekerja dengan jujur karena Allah mencatat. Kita bersabar karena Allah menjanjikan pahala. Kita memaafkan karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.
Inilah kebebasan hati yang sesungguhnya. Bukan berarti kita tidak membutuhkan siapa pun, tetapi kita tidak menjadikan siapa pun sebagai Tuhan kecil dalam kehidupan kita. Kita menghormati manusia, tetapi tidak menghambakan hati kepada manusia. Kita mencintai manusia, tetapi tidak menggantungkan keselamatan jiwa kepada manusia. Kita menerima pertolongan manusia, tetapi mengetahui bahwa sumber segala pertolongan adalah Allah.
Allah berfirman:
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Dia memberikan kebaikan kepadamu, Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” Surah Al-An’am ayat 17.
Ayat ini mengajari kita untuk tidak berlebihan dalam kecemasan. Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan kekuatan pikiran kita sendiri. Ada Allah yang menguasai segala sesuatu. Ada Allah yang mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Ada Allah yang melihat jalan keluar ketika kita hanya melihat jalan buntu.
Maka, ketika malam terasa panjang karena persoalan hidup, bangunlah dan mengadulah kepada Allah. Saat hati gelisah, berwudhulah dan dirikan salat. Saat rezeki terasa sempit, perbanyak istighfar, doa, ikhtiar, sedekah, dan perbaiki ketakwaan. Saat menghadapi kesulitan, jangan hanya mengeluh kepada manusia. Bawalah keluhan itu kepada Allah dalam sujud yang panjang.
Tidak ada doa yang terlalu sederhana bagi Allah. Tidak ada masalah yang terlalu besar bagi-Nya. Tidak ada kesulitan yang membuat Allah kebingungan. Tidak ada kebutuhan yang membuat perbendaharaan-Nya berkurang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ، وَلَنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Barang siapa berusaha untuk bersabar, Allah akan menjadikannya mampu bersabar. Barang siapa berusaha menjaga kehormatan diri, Allah akan menjadikannya mampu menjaga kehormatan diri. Barang siapa berusaha merasa cukup, Allah akan mencukupkannya.” Hadis riwayat Bukhari dan Muslim.
Qanaah bukan berarti tidak memiliki cita-cita. Tawakal bukan berarti tidak bekerja. Zuhud bukan berarti membenci dunia. Menjaga kehormatan diri bukan berarti menolak semua bantuan. Semuanya adalah pendidikan hati agar manusia tidak diperbudak oleh kebutuhan, keinginan, gengsi, dan penilaian manusia.
Ada kalanya kita harus meminta bantuan. Islam tidak mengajarkan kesombongan. Jika benar-benar membutuhkan pertolongan dan ada orang yang mampu membantu, tidak mengapa meminta dengan cara yang baik. Namun jangan sampai permintaan itu membuat harga diri hilang, apalagi sampai melakukan sesuatu yang haram. Mintalah secukupnya kepada manusia, tetapi mintalah sebanyak-banyaknya kepada Allah.
Sebab manusia mempunyai batas, sedangkan Allah tidak terbatas. Manusia bisa lupa, Allah tidak pernah lupa. Manusia bisa berubah, Allah tidak pernah berubah. Manusia bisa meninggalkan kita, Allah tetap dekat dengan hamba-Nya. Manusia bisa tidak memahami kesedihan kita, Allah mengetahui bahkan apa yang tersembunyi di dalam dada.
Allah berfirman:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” Surah Qaf ayat 16.
Maka, jangan biarkan kecemasan menguasai seluruh kehidupan. Masa depan memang tidak kita ketahui, tetapi masa depan berada dalam pengetahuan Allah. Rezeki memang belum kita lihat, tetapi rezeki berada dalam ketetapan Allah. Jalan keluar memang belum tampak, tetapi Allah tidak pernah kehilangan jalan untuk menolong hamba-Nya.
Tugas kita adalah memperbaiki hubungan dengan Allah, memperkuat ikhtiar, menjaga kejujuran, memperbanyak doa, bersabar ketika diuji, bersyukur ketika diberi, dan tawakal setelah berusaha.
Jika hari ini belum mendapatkan apa yang diinginkan, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah tidak menyayangi kita. Bisa jadi Allah sedang menunda karena waktu yang tepat belum tiba. Bisa jadi Allah sedang mengalihkan kita dari sesuatu yang buruk. Bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita agar lebih dewasa. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik. Dan bisa jadi, yang paling kita butuhkan bukanlah perubahan keadaan, melainkan perubahan hati.
Hidup bukan tentang seberapa banyak manusia yang dapat kita andalkan. Hidup adalah tentang seberapa kuat kita mengenal Allah sebagai tempat bergantung. Ketika hati benar-benar mengenal Allah, kita tetap berusaha ketika sulit, tetap bersyukur ketika lapang, tetap tenang ketika kehilangan, dan tetap berharap ketika semua pintu tampak tertutup.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang tidak mudah dikuasai kecemasan, tidak hina karena mengejar penilaian manusia, tidak sombong ketika memiliki kelebihan, dan tidak putus asa ketika menghadapi kekurangan. Semoga Allah mengajarkan kepada kita makna tawakal yang benar: tangan tetap bekerja, kaki tetap melangkah, pikiran tetap berikhtiar, tetapi hati sepenuhnya bersandar kepada Allah.
Jika terasa berat, katakan dalam hati: Allah cukup bagiku. Jika belum menemukan jalan, teruslah mencari sambil berdoa. Jika manusia mengecewakan, jangan berhenti berharap kepada Allah. Jika dunia terasa sempit, ingatlah bahwa rahmat Allah jauh lebih luas daripada seluruh kesulitan yang sedang kita hadapi.
Jangan meminta kepada manusia untuk perkara yang hanya Allah mampu memberikannya. Jangan menggantungkan masa depan kepada makhluk. Mintalah kepada Allah, berusahalah melalui jalan yang halal, lalu percayakan hasilnya kepada-Nya. Sebab hati yang bersandar kepada Allah tidak berarti hidupnya tanpa masalah, tetapi ia memiliki tempat kembali ketika masalah datang.
Dan mungkin inilah ketenangan yang selama ini kita cari: bukan dunia yang selalu sesuai keinginan, melainkan hati yang yakin bahwa apa pun yang Allah tetapkan, selalu berada dalam ilmu, hikmah, dan kasih sayang-Nya.
Allahumma hasbunallahu wa ni‘mal wakil. Semoga Allah menjadi tempat kita bersandar, tempat kita mengadu, sumber pertolongan kita, dan tujuan terakhir dari seluruh harapan kita. (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
