Lombok Barat, 22 Juni 2026 – Pengembangan produk olahan berbahan baku lokal terus didorong untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian sekaligus memperkuat daya saing pelaku usaha. Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) oleh tim dosen Fakultas Pertanian Universitas Mataram bersama Kelompok Wanita Tani Melati di Desa Suranadi Kecamatan Narmada. Kegiatan ini dilakukan dengan sumber dana DIPA BLU Skema Kemitraan Universitas Mataram Tahun Anggaran 2026. Pengabdian ini diketuai oleh Rifani Nur Sindy Setiawan bersama tim Abdullah Usman, Asri Hidayanti, Eka Nurminda Dewi Mandalika, dan Farah Ainun Jamil.
Dalam kegiatan tersebut, mitra yang selama ini aktif memproduksi dodol nangka dan dodol sirsak mendapatkan pelatihan pembuatan abon nangka. Kegiatan ini diarahkan untuk memperluas pilihan produk sekaligus meningkatkan kemampuan mitra dalam menentukan harga jual berdasarkan struktur biaya produksi yang sebenarnya.
Kelompok Wanita Tani Melati selama ini telah mengembangkan usaha pengolahan buah lokal menjadi produk dodol. Nangka dan sirsak menjadi salah satu bahan baku yang dimanfaatkan dalam kegiatan produksi. Pengalaman tersebut menjadi modal penting bagi mitra untuk mengembangkan produk olahan lain dengan memanfaatkan komoditas yang sama.
Tim PKM melihat peluang pengembangan tersebut melalui diversifikasi produk. Salah satu produk yang diperkenalkan adalah abon nangka. Produk ini dikembangkan sebagai alternatif olahan nangka yang memiliki karakteristik berbeda dengan dodol dan dapat menyasar segmen konsumen yang lebih beragam.
Menurut Ibu Salmiati selaku ketua KWT Melati, diversifikasi produk penting dilakukan oleh UMKM agar usaha tidak hanya bergantung pada satu jenis produk.
“Kegiatan pengembangan produk berbahan dasar buah nangka sangat bermanfaat bagi kelompok kami karena inovasi baru ini dapat kami kembangkan dan menambah produk baru pada usaha kami. Kami berharap semoga ada inovasi-inovasi baru yang dapat dikembangkan serta kegiatan pemberdayaan dapat dilakukan lagi kedepannya,” ujarnya.

Hasil Pengolahan Abon Nangka
Menurutnya, pengembangan produk juga perlu diikuti dengan penguatan aspek manajemen usaha. Produk yang memiliki potensi pasar tetap membutuhkan perhitungan biaya yang tepat agar dapat memberikan keuntungan bagi pelaku usaha.
Bagi mitra, kegiatan ini memberikan pengalaman baru dalam mengembangkan olahan berbahan baku lokal. Pengetahuan mengenai HPP juga dapat diterapkan pada produk yang selama ini telah diproduksi, termasuk dodol nangka dan dodol sirsak.
Dengan demikian, hasil pelatihan tidak hanya diarahkan untuk pengembangan abon nangka. Kemampuan menghitung biaya produksi diharapkan dapat digunakan dalam seluruh lini produk UMKM.
Tim PKM berharap kegiatan tersebut dapat mendorong mitra untuk terus melakukan inovasi dan memperkuat pengelolaan usaha. Pemanfaatan buah lokal melalui diversifikasi produk juga diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi komoditas sekaligus membuka peluang pengembangan pasar bagi produk olahan UMKM.
Kegiatan ini menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat kapasitas pelaku UMKM melalui penerapan pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan usaha. Pengembangan inovasi produk yang diikuti dengan pengelolaan biaya produksi yang baik diharapkan dapat menjadi dasar bagi UMKM untuk meningkatkan daya saing secara berkelanjutan.
