MATARAM — Harapan untuk meningkatkan perekonomian keluarga terus tumbuh dari masyarakat penerima manfaat Program Desa Berdaya Provinsi NTB. Salah satunya Subuhiah, warga Kampung Petemon, Kelurahan Pagutan Timur, Kota Mataram.
Subuhiah merupakan salah satu Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Desa Berdaya Provinsi NTB. Kondisi keluarganya menjadi perhatian Tim PPID Dinas Koperasi UKM NTB Bagian PPID Asrobi Abdihi yang melakukan kunjungan bersama tiga orang pendamping Desa Berdaya, Selasa (15/9/2026).
Dalam kesehariannya, Subuhiah bekerja sebagai pencuci pakaian atau laundry secara manual dengan mengandalkan tenaga tangan. Dalam seminggu, ia biasanya menerima dua hingga tiga kali orderan dengan penghasilan sekitar Rp50 ribu dari setiap pekerjaan.
Penghasilan tersebut digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, mengingat suaminya, Kadri, bekerja sebagai peladen sekaligus buruh bangunan dengan pendapatan yang tidak tetap.
Selain mencuci pakaian, Subuhiah juga menjalankan usaha sampingan sederhana dengan memelihara ayam milik orang lain. Sistemnya menggunakan pola bagi hasil ketika ayam yang dipelihara sudah berkembang biak.
Subuhiah dan Kadri memiliki tiga orang anak laki-laki. Dua di antaranya masih duduk di bangku sekolah dasar, sementara anak bungsunya belum bersekolah.
Bantuan KPM yang nantinya diterima Subuhiah rencananya akan digunakan sebagai modal untuk mengembangkan usaha laundry dan ternak ayam. Ia berharap usaha tersebut dapat berkembang sehingga mampu menopang kebutuhan keluarga, termasuk membiayai pendidikan anak-anaknya agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Namun, di balik rencana tersebut, terdapat keraguan yang sempat dirasakan Subuhiah. Saat Tim Diskop UKM NTB dan pendamping Desa Berdaya berkunjung ke rumahnya yang sederhana dan berada di dekat aliran kali, Subuhiah bahkan sempat meminta agar dirinya tidak lagi menjadi penerima bantuan.
Alasannya, sang suami berencana merantau ke Kalimantan pada pekan berikutnya. Ia khawatir tidak ada yang akan membantu mengurus ternak ayam yang menjadi bagian dari rencana pengembangan usahanya.
Tim Diskop UKM NTB bersama pendamping Desa Berdaya kemudian memberikan penjelasan secara perlahan mengenai tujuan dan manfaat bantuan KPM. Bantuan tersebut bukan sekadar bantuan konsumtif, tetapi diharapkan menjadi modal untuk mendorong keluarga penerima manfaat agar memiliki usaha yang lebih produktif dan mampu meningkatkan kemandirian ekonomi.
Setelah mendapatkan pemahaman, Subuhiah mulai melihat peluang baru dari bantuan tersebut. Keraguannya perlahan berubah menjadi semangat.
Ia pun mulai memiliki cita-cita untuk mengembangkan usaha laundry dengan modal yang lebih memadai serta membangun kandang ayam sendiri.
Kisah Subuhiah menjadi gambaran bahwa pemberdayaan tidak selalu dimulai dari usaha besar. Dari rumah sederhana, mesin cuci yang belum dimiliki, dan ternak ayam yang masih merupakan titipan orang lain, tumbuh sebuah harapan untuk membangun kehidupan keluarga yang lebih baik.
Melalui Program Desa Berdaya, pemerintah berharap KPM tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga mampu memanfaatkannya sebagai pijakan untuk mengembangkan usaha, meningkatkan pendapatan, dan secara bertahap keluar dari kondisi ekonomi yang sulit.
Bagi Subuhiah, bantuan tersebut kini bukan lagi sesuatu yang membuatnya ragu. Ia melihatnya sebagai kesempatan untuk memulai langkah baru demi masa depan keluarganya dan pendidikan ketiga anaknya. (Tim KM Abdi Mataram)
