Renungan Rabu Pagi
Kemuliaan sejati bukanlah ketika manusia memuji kita, melainkan ketika Allah meridai kehidupan kita. Seorang mukmin belajar memperbaiki dirinya tanpa merasa lebih baik daripada orang lain. Ia mengejar kedudukan mulia di sisi Allah, merendahkan dirinya di hadapan-Nya, dan tetap tampil sewajarnya di tengah manusia. Inilah keseimbangan hati yang melahirkan keikhlasan, ketawadukan, ketenangan, serta kemuliaan akhlak dalam setiap perjalanan kehidupan sehari-hari.
“Jadilah engkau orang yang paling baik dalam pandangan Allah. Jadilah engkau orang yang paling hina dalam pandanganmu sendiri. Jadilah engkau orang yang sewajarnya dalam pandangan orang lain.” Nasihat ini mengajarkan tiga arah pandangan yang harus dijaga seorang mukmin: bagaimana kedudukan kita di sisi Allah, bagaimana kita memandang diri sendiri, dan bagaimana kita bersikap di hadapan manusia.
Yang pertama dan paling utama adalah pandangan Allah. Jangan terlalu sibuk membangun citra di hadapan manusia hingga lupa memperbaiki keadaan di hadapan-Nya. Allah berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Ukuran kemuliaan ternyata bukan kekayaan, jabatan, popularitas, banyaknya pengikut, atau tingginya penghormatan manusia. Ukurannya adalah takwa. Karena itu, lebih baik tidak dikenal di bumi tetapi dikenal karena ketaatan di langit, daripada dipuji manusia sementara hati semakin jauh dari Allah.
Namun, keinginan menjadi baik di sisi Allah jangan berubah menjadi perasaan bahwa kita telah menjadi orang baik. Di sinilah nasihat kedua menemukan maknanya: jadilah orang yang paling hina dalam pandanganmu sendiri. Artinya bukan membenci atau merendahkan martabat diri, tetapi jangan merasa suci, jangan mudah membanggakan amal, dan jangan merasa lebih tinggi daripada orang lain. Allah mengingatkan:
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)
Semakin seseorang mengenal Allah, seharusnya semakin ia menyadari kekurangan dirinya. Ketika selesai beribadah, ia tidak sibuk menghitung pahala, tetapi bertanya: apakah amal ini diterima? Ketika mampu bersedekah, ia tidak merasa lebih dermawan. Ketika rajin beribadah, ia tidak meremehkan orang yang masih belajar mendekat kepada Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji zarrah.” (HR. Muslim)
Kesombongan terkadang tidak terlihat dalam pakaian atau ucapan. Ia dapat bersembunyi dalam hati ketika kita merasa lebih saleh, lebih berilmu, lebih berjasa, atau lebih pantas dihormati. Karena itulah amal yang besar membutuhkan penjagaan hati yang lebih besar.
Adapun di hadapan manusia, jadilah sewajarnya. Tidak perlu sibuk meminta penghormatan, tetapi juga tidak perlu mempertontonkan kerendahan diri agar dianggap tawaduk. Berbuatlah baik tanpa sibuk mengumumkan kebaikan. Jika dipuji, kembalikan pujian kepada Allah. Jika diremehkan, jangan kehilangan harga diri. Jika tidak dikenal, jangan gelisah. Sebab tujuan perjalanan seorang mukmin bukan menjadi besar dalam pandangan manusia, tetapi selamat ketika menghadap Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Maka rawatlah wilayah yang dilihat Allah: hati dan amal. Jangan terlalu lelah mengatur penilaian manusia, sebab kita tidak mungkin membuat semua orang menyukai kita. Perbaikilah niat, bersihkan hati, perbanyak amal, dan sembunyikan sebagian kebaikan hanya antara diri kita dengan Allah.
Jadilah mulia tanpa merasa mulia. Jadilah baik tanpa merasa paling baik. Beramallah tanpa menuntut pujian. Ketika dipuji, takutlah jika pujian itu melebihi keadaan diri kita. Ketika dicela, periksalah diri sebelum membela diri. Semoga ketika manusia melihat kita sebagai orang biasa, Allah justru mencatat kita sebagai hamba yang istimewa karena ketakwaan, keikhlasan, dan kerendahan hati. (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
