Renungan Ahad Pagi
Ada masa ketika seseorang memilih tidak lagi selalu tersedia, tidak terus mengalah, dan tidak selalu mendahulukan kepentingan orang lain. Keputusan itu sering dianggap egois, padahal boleh jadi ia sedang belajar menjaga amanah diri dan menetapkan batas yang sehat.
Islam mengajarkan kebaikan, tetapi tidak mengajarkan kita membiarkan diri terus-menerus dizalimi. Ada perbedaan antara ikhlas dan membiarkan diri dimanfaatkan, antara sabar dan menerima kezaliman, antara rendah hati dan merendahkan diri, serta antara memaafkan dan membiarkan kesalahan yang sama terus berulang.
Allah berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Manusia memiliki batas kemampuan. Karena itu, tidak perlu merasa bersalah hanya karena tidak mampu memenuhi semua kebutuhan dan keinginan orang lain. Berkata, “Maaf, kali ini saya tidak dapat membantu,” bukanlah kejahatan. Beristirahat, menjaga waktu, menolak permintaan di luar kemampuan, atau mengambil jarak dari hubungan yang merusak juga bukan berarti kehilangan kebaikan.
Rasulullah ﷺ memberikan kaidah:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain.”
Batas bukanlah kebencian. Batas adalah cara menjaga agar hubungan tidak berubah menjadi eksploitasi. Yang perlu dihentikan bukan kebaikannya, melainkan ketidakbijaksanaannya.
Tetaplah baik, tetapi jangan kehilangan akal sehat. Tetaplah menolong, tetapi ketahuilah kemampuan. Tetaplah memaafkan, tetapi belajarlah dari kesalahan. Tetaplah menyayangi, tetapi jangan kehilangan prinsip. Mengalahlah ketika mengalah membawa kebaikan, dan bersikaplah tegas ketika ketegasan diperlukan.
Namun, menjaga diri jangan dijadikan alasan mengabaikan kewajiban. Anak tetap memiliki kewajiban kepada orang tua, pasangan memiliki tanggung jawab kepada pasangannya, dan orang yang menerima amanah wajib menjaganya. Menetapkan batas harus tetap dilakukan secara adil dan dalam tuntunan Allah.
Jangan pula mencari nilai diri dari seberapa banyak orang membutuhkanmu. Kamu tidak harus selalu tersedia untuk membuktikan bahwa kamu baik. Kamu tidak harus selalu mengalah untuk membuktikan bahwa kamu dewasa. Kemuliaan manusia bukan ditentukan oleh penilaian orang lain, melainkan ketakwaannya kepada Allah.
Jika kebaikanmu pernah dimanfaatkan, jangan menyesal telah menjadi orang baik. Ambillah pelajaran dan perbaiki cara memberi. Jangan biarkan perilaku buruk orang lain mencuri akhlak baikmu.
Tetaplah lembut tanpa menjadi lemah. Jadilah pemaaf tanpa menjadi lalai. Jadilah suka menolong tanpa merasa harus menyelamatkan semua orang. Jadilah rendah hati tanpa kehilangan kehormatan.
Jadilah baik karena Allah, bukan karena ingin dipuji, takut ditinggalkan, ingin dianggap paling pengertian, atau takut disebut egois.
Kebaikan tidak harus selalu berkata iya. Kadang kebaikan adalah berkata tidak agar keburukan yang lebih besar tidak terjadi. Kadang kasih sayang membutuhkan jarak agar tidak semakin saling melukai. Dan kadang menjaga diri merupakan bentuk syukur atas amanah kehidupan yang Allah titipkan.
Maka, berhenti selalu mengalah bukan berarti berubah menjadi egois. Boleh jadi itu tanda bahwa kita mulai belajar mencintai dengan lebih dewasa, menolong dengan lebih bijaksana, dan menjalani kehidupan dengan batas yang tetap berada dalam tuntunan Allah.
Semoga Allah menjadikan kita tetap lembut tanpa menjadi lemah, tegas tanpa menjadi kasar, pemaaf tanpa menjadi lalai, dan tetap berbuat baik tanpa membiarkan kezaliman berlangsung.
آمِين يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
