Renungan Senin Pagi
Pikiran yang terus diulang tidak selalu berhenti sebagai lintasan di dalam kepala. Ia dapat memengaruhi perasaan, membentuk kebiasaan, lalu perlahan mengarahkan keputusan dan jalan hidup seseorang. Karena itu, Islam mengajarkan manusia untuk menjaga hati, mengendalikan prasangka, memperbanyak dzikir, dan menumbuhkan harapan kepada Allah.
Ketika seseorang terus berkata, “Aku pasti gagal”, “masa depanku buruk”, atau “aku tidak mungkin berubah”, kalimat-kalimat itu dapat berkembang menjadi keyakinan. Akibatnya, ia takut sebelum mencoba, menyerah sebelum berjuang, dan hanya melihat masalah tanpa melihat kemungkinan jalan keluar.
Allah berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Ketenangan tidak selalu berarti semua persoalan telah selesai. Utang mungkin belum lunas, pekerjaan belum pasti, kesehatan belum sepenuhnya pulih, dan masa depan masih menjadi tanda tanya. Namun hati tetap dapat memiliki tempat bersandar ketika mengingat Allah.
Karena itu, bedakan antara memikirkan masalah dan tenggelam di dalam masalah. Memikirkan masalah untuk mencari solusi adalah ikhtiar. Sedangkan terus mengulang kemungkinan buruk tanpa tindakan hanya akan menguras tenaga dan ketenangan.
Islam mengajarkan tawakal, bukan pasrah tanpa usaha. Allah berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 159:
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ
“Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”
Berpikirlah, bermusyawarahlah, ambillah keputusan, lakukan ikhtiar terbaik, kemudian serahkan hasilnya kepada Allah.
Pikiran juga perlu dijaga dari prasangka. Allah mengingatkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 12 agar menjauhi banyak prasangka karena sebagian prasangka adalah dosa. Pikiran yang dibiarkan dapat berubah menjadi ucapan, kemudian menjadi tindakan.
Namun tidak setiap pikiran buruk yang melintas menjadikan seseorang berdosa. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah memaafkan apa yang terlintas dalam hati umatnya selama tidak diucapkan atau dilakukan.
Karena itu, ketika pikiran negatif muncul, jangan langsung mempercayainya. Katakan kepada diri sendiri: “Ini kekhawatiranku, bukan kepastian. Ini dugaanku, bukan fakta.”
Jika muncul masalah, tanyakan: apakah ini dapat saya kendalikan? Jika bisa, lakukan satu langkah yang memungkinkan hari ini. Jika tidak, serahkan kepada Allah. Dzikir, istighfar, salawat, membaca Al-Qur’an dan doa membantu hati menemukan kembali tempat bersandarnya.
Allah berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Kita boleh lelah, menangis, dan mengakui bahwa suatu keadaan terasa berat. Tetapi jangan menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk berputus asa dari rahmat Allah.
Ubahlah perlahan bahasa batin kita. Dari “aku pasti gagal” menjadi “aku akan berusaha dan menyerahkan hasil kepada Allah”. Dari “semuanya akan buruk” menjadi “aku belum mengetahui apa yang akan terjadi”. Dari “aku tidak sanggup” menjadi “aku akan melakukan apa yang mampu kulakukan hari ini”.
Mulailah pagi dengan mengingat Allah, bukan langsung memenuhi pikiran dengan berbagai informasi dari ponsel. Jalani hari dengan iman dan ikhtiar. Pada malam hari, lakukan muhasabah: pikiran apa yang paling sering muncul hari ini? Apakah ia mendekatkan diri kepada Allah atau justru menjauhkan?
Pikiran adalah salah satu pintu menuju tindakan. Maka jagalah pintu itu. Penuhi ruang batin dengan dzikir, ilmu, doa, harapan, husnuzan kepada Allah, dan keberanian melakukan kebaikan.
Seorang mukmin bukanlah orang yang tidak pernah memiliki pikiran buruk. Ia adalah orang yang ketika menyadari pikirannya mulai menjauh dari kebenaran, segera mengarahkannya kembali kepada Allah.
Ia mungkin jatuh berkali-kali, tetapi tidak berhenti pulang. Selama hati masih mau kembali kepada Allah, selalu ada jalan untuk memperbaiki kehidupan. (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
