Tetap Teguh Saat Diremehkan
Renungan Sabtu Pagi
Jangan habiskan hidup untuk memikirkan siapa yang menertawakanmu ketika jatuh, meremehkanmu ketika gagal, atau merasa iri ketika engkau berhasil. Allah tidak menilai manusia dari tepuk tangan mereka, tetapi dari iman, kesabaran, keikhlasan, dan kesungguhannya dalam menjalani amanah. Tetaplah melangkah, perbaiki diri, dan jadikan setiap ujian sebagai jalan untuk semakin dekat kepada Allah.
Dalam kehidupan, tidak semua orang akan peduli terhadap perjuangan kita. Ada yang hanya hadir ketika kita berhasil, tetapi menghilang ketika kita mengalami kesulitan. Ada pula yang merasa senang melihat kelemahan kita, bahkan menertawakan kegagalan yang sedang kita rasakan. Namun, seorang mukmin tidak boleh menggantungkan kekuatan hatinya kepada penilaian manusia. Sebab manusia berubah-ubah, sedangkan Allah senantiasa mengetahui seluruh perjuangan hamba-Nya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran ayat 139:
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang yang beriman.”
Ayat ini bukan sekadar dorongan agar manusia kuat menghadapi kehidupan, tetapi merupakan tuntunan agar seorang mukmin tidak kehilangan harapan ketika mengalami kegagalan. Jatuh bukan berarti selesai. Kehilangan bukan berarti Allah meninggalkan. Kegagalan bukan berarti seluruh masa depan telah tertutup. Bisa jadi sesuatu yang kita anggap sebagai kehancuran justru menjadi jalan yang mengantarkan kita kepada kematangan, kesabaran, dan kedekatan kepada Allah.
Allah juga mengingatkan:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5–6)
Perhatikan bagaimana Allah mengulang janji tersebut. Kesulitan tidak datang sendirian. Bersamanya terdapat kemudahan yang mungkin belum terlihat oleh mata kita. Karena itu, jangan mengukur pertolongan Allah hanya berdasarkan apa yang tampak hari ini. Tugas kita adalah berusaha, berdoa, bersabar, dan bertawakal.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ
“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah, dan pada masing-masing ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.” (HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan sikap yang sangat penting. Jangan terlalu sibuk memikirkan komentar orang sampai lupa memperbaiki kehidupan sendiri. Jangan menjadikan ejekan sebagai alasan untuk berhenti. Jangan pula menjadikan keberhasilan sebagai alasan untuk sombong. Ketika jatuh, bangkitlah. Ketika gagal, evaluasilah. Ketika berhasil, bersyukurlah. Ketika dipuji, ingatlah bahwa semua nikmat berasal dari Allah.
Di sisi lain, Islam juga tidak membenarkan kita membalas orang yang menyakiti dengan kesombongan dan keburukan. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik daripada mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa orang yang hari ini kita pandang rendah mungkin justru lebih mulia di sisi Allah. Karena itu, jangan membalas ejekan dengan ejekan. Jangan membalas iri dengan kebencian. Tetap jaga lisan, akhlak, dan hati. Biarkan perjalanan hidup kita menjadi jawaban melalui amal, bukan melalui pertengkaran.
Jika hari ini engkau sedang jatuh, jangan merasa seluruh dunia sedang meninggalkanmu. Bisa jadi Allah sedang mengajarimu agar tidak bergantung kepada manusia. Jika hari ini ada yang menertawakanmu, jangan biarkan tawanya menentukan nilai dirimu. Jika suatu hari Allah mengangkat derajatmu, jangan gunakan keberhasilan itu untuk merendahkan mereka yang pernah meremehkanmu.
Teruslah berjalan dengan hati yang tenang. Tidak semua orang harus memahami perjuanganmu. Tidak semua orang harus mengetahui air matamu. Tidak semua pencapaian harus diumumkan. Yang terpenting adalah Allah mengetahui setiap usaha yang engkau lakukan. Jadikan ridha Allah sebagai tujuan, bukan pengakuan manusia.
Maka, semangatilah dirimu sendiri dengan iman. Perbaiki apa yang masih kurang. Tinggalkan kebiasaan yang buruk. Belajarlah dari kegagalan. Bersyukurlah atas keberhasilan. Dan ketika manusia tidak peduli, ingatlah bahwa Allah tidak pernah lalai terhadap hamba-Nya. Sebab kemenangan terbesar bukanlah ketika orang-orang yang meremehkan kita akhirnya mengakui keberhasilan kita, melainkan ketika hati kita tetap dekat kepada Allah dalam keadaan apa pun. (Dr. H. Muhtadi Hairi, M.Pd)
