Renungan Senin Pagi
Ada manusia yang tampak miskin di mata dunia, tetapi sesungguhnya memiliki kekayaan yang tidak ternilai di sisi Allah. Harta boleh sedikit, rumah boleh sederhana, dan kehidupan boleh jauh dari kemewahan. Namun, jika hatinya dipenuhi rasa syukur, jiwanya tenang, dan hidupnya tidak dikuasai iri serta dengki, ia telah menikmati anugerah yang sering terlupakan. Sebab, kekayaan sejati bukan sekadar banyaknya harta, melainkan kemampuan hati untuk merasa cukup atas karunia Allah.
Tidak semua orang yang memiliki banyak harta merasakan kebahagiaan. Ada yang rumahnya besar, kendaraannya mewah, tabungannya berlimpah, tetapi pikirannya selalu gelisah. Ia takut kehilangan, khawatir kekayaannya berkurang, dan terus membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Ketika melihat orang lain lebih berhasil, hatinya merasa tertinggal. Ketika menyaksikan tetangganya memperoleh sesuatu yang baru, timbul keinginan untuk memiliki yang sama. Akhirnya, hidupnya habis untuk mengejar sesuatu tanpa pernah benar-benar menikmati apa yang telah dimilikinya.
Sebaliknya, ada orang yang hidup dalam kesederhanaan. Penghasilannya tidak besar, makanannya biasa, dan tempat tinggalnya jauh dari kemewahan. Namun, ia tetap bersyukur, bekerja dengan jujur, menjalani kehidupan dengan sabar, serta menikmati setiap karunia yang Allah berikan. Ia tidak merasa hina hanya karena hartanya lebih sedikit daripada orang lain. Baginya, kehormatan manusia tidak ditentukan oleh isi dompet, melainkan oleh ketakwaan, akhlak, dan kesungguhannya menjalani kehidupan.
Allah memberikan petunjuk yang sangat mendalam tentang hakikat kekayaan melalui firman-Nya dalam Surah An Nahl ayat 97:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya: “Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl: 97).
Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan yang baik tidak semata mata diukur dengan kekayaan materi. Keimanan dan amal saleh menjadi jalan menuju kehidupan yang bermakna. Kehidupan yang baik bukan berarti seseorang tidak pernah menghadapi kesulitan, tidak pernah sakit, atau selalu memperoleh apa yang diinginkan. Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang dijalani dengan iman, kesabaran, harapan, dan keyakinan bahwa setiap keadaan dapat dihadapi dengan tuntunan Allah.
Rasulullah saw. juga menjelaskan bahwa kekayaan yang paling mendasar terletak di dalam hati. Beliau bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Artinya: “Kekayaan itu bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.” (HR. al Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengingatkan kita agar tidak terjebak dalam pandangan yang hanya mengagungkan kekayaan lahiriah. Banyaknya harta memang dapat membantu memenuhi kebutuhan, memberikan kenyamanan, dan membuka kesempatan untuk berbuat baik. Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya. Bahkan, harta yang diperoleh secara halal dan digunakan untuk menolong sesama dapat menjadi sarana ibadah. Namun, harta seharusnya berada di tangan, bukan menguasai hati.
Kekayaan jiwa berarti seseorang mampu mengendalikan keinginannya, tidak diperbudak oleh keserakahan, serta tidak mengukur harga dirinya berdasarkan kepemilikan orang lain. Ia tetap berusaha memperbaiki kehidupan, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai satu satunya tujuan. Ia bekerja keras tanpa melupakan ibadah, mencari rezeki tanpa menghalalkan segala cara, dan menikmati keberhasilan tanpa merendahkan mereka yang belum beruntung.
Allah juga berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat Ku, maka pasti azab Ku sangat berat.’” (QS. Ibrahim: 7).
Syukur bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah, melainkan menyadari karunia Allah, mengakui bahwa segala nikmat berasal dari Nya, serta menggunakannya untuk kebaikan. Orang yang bersyukur tidak harus berhenti berusaha. Ia tetap mencari penghasilan yang lebih baik, meningkatkan keterampilan, dan memperjuangkan masa depan keluarganya. Bedanya, ia tidak membiarkan keinginan memperoleh lebih banyak menghapus rasa terima kasih atas apa yang sudah ada.
Ketika mendapatkan rezeki sedikit, ia bersyukur dan mengelolanya dengan bijaksana. Ketika memperoleh rezeki lebih banyak, ia bersyukur dan tidak melupakan kewajiban zakat, sedekah, serta membantu orang yang membutuhkan. Dalam keadaan sempit, ia bersabar tanpa menyerah. Dalam keadaan lapang, ia bersyukur tanpa menjadi sombong. Inilah keseimbangan yang perlu dirawat oleh setiap muslim.
Rasulullah saw. bersabda:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
Artinya: “Sungguh beruntung orang yang telah masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang telah diberikan kepadanya.” (HR. Muslim).
Hadis ini menunjukkan betapa besarnya karunia berupa kecukupan dan sifat qanaah. Qanaah bukan berarti malas, tidak mau maju, atau menerima ketidakadilan tanpa berusaha memperbaiki keadaan. Qanaah adalah kemampuan menerima ketetapan Allah dengan lapang dada, sembari terus berikhtiar melalui jalan yang halal. Seseorang boleh bercita cita memiliki rumah yang layak, penghasilan yang lebih baik, pendidikan yang tinggi, dan masa depan yang terjamin. Akan tetapi, ia tidak boleh kehilangan ketenangan hanya karena hasil usahanya belum sesuai harapan.
Kita juga perlu menyadari bahwa setiap manusia memiliki ujian yang berbeda. Ada yang diuji dengan kekurangan harta, ada yang diuji dengan kelimpahan, ada yang diuji dengan kesehatan, dan ada pula yang diuji melalui keluarga serta kedudukan. Karena itu, jangan mudah menyimpulkan bahwa orang yang hidup sederhana pasti lebih bahagia atau orang kaya pasti menderita. Kita tidak mengetahui seluruh isi hati seseorang. Yang dapat kita pelajari ialah bahwa setiap keadaan perlu dihadapi dengan iman, ikhtiar, syukur, dan tanggung jawab.
Jangan pula menjadikan kesederhanaan sebagai alasan untuk mengabaikan kebutuhan keluarga. Mencari nafkah, memenuhi kebutuhan anak, merawat orang tua, dan membangun kehidupan yang layak merupakan tanggung jawab yang bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar. Islam mengajarkan keseimbangan: tidak rakus mengejar dunia, tetapi juga tidak berpangku tangan menunggu pertolongan tanpa usaha.
Marilah kita belajar mengurangi kebiasaan membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain. Apa yang terlihat di mata belum tentu menggambarkan keseluruhan kenyataan. Kemewahan yang dipamerkan belum tentu mencerminkan ketenteraman, sedangkan kesederhanaan yang terlihat belum tentu menandakan kesengsaraan. Daripada menghabiskan waktu menghitung nikmat yang dimiliki orang lain, lebih baik kita menghitung nikmat yang telah Allah titipkan kepada diri sendiri.
Masih dapat bernapas, beribadah, menikmati makanan, bertemu keluarga, belajar memperbaiki diri, dan memiliki kesempatan untuk bertobat adalah karunia yang tidak boleh diremehkan. Tidak semua nikmat hadir dalam bentuk uang. Ada nikmat berupa kesehatan, persahabatan yang tulus, keluarga yang menyayangi, ilmu yang bermanfaat, serta hati yang mampu memaafkan.
Maka, apabila hari ini kita belum memiliki banyak harta, jangan merasa rendah diri. Tetaplah bekerja, berdoa, dan berusaha dengan cara yang halal. Apabila hari ini kita diberi kelapangan rezeki, jangan merasa lebih mulia daripada orang lain. Gunakan kelebihan itu untuk menebarkan manfaat. Sebab, ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah banyaknya kepemilikan, melainkan ketakwaan dan amal kebajikan.
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita rezeki yang halal dan berkah, hati yang lapang, jiwa yang qanaah, serta kemampuan untuk senantiasa bersyukur. Semoga kita tidak menjadi manusia yang miskin rasa syukur ketika bergelimang harta, dan tidak kehilangan harapan ketika hidup dalam kesederhanaan. Sebab, kekayaan yang paling menenteramkan bukanlah ketika kita memiliki segala sesuatu yang diinginkan, melainkan ketika kita mampu mensyukuri pemberian Allah, terus berbuat baik, dan menjalani kehidupan dengan hati yang merasa cukup. (Dr. Drs. H. Muhtadi Hairim, M.Pd)
