Renungan Ahad Pagi:
Seorang suami sering kali ringan tangan kepada teman dan lingkar pergaulannya, namun tanpa sadar justru lalai kepada orang-orang yang paling dekat dan paling berhak atas dirinya. Padahal, dalam ajaran Islam, keluarga adalah ladang amal utama yang tak hanya bernilai kewajiban, tetapi juga pahala besar. Dari sanalah keberkahan hidup bermula, dari rumah yang dijaga dengan tanggung jawab dan cinta.
Ada pemandangan yang tidak asing dalam kehidupan sehari-hari. Seorang suami tampak begitu dermawan ketika bersama teman-temannya. Ia tak segan membayar kopi, mentraktir makan, bahkan menjadi orang pertama yang menuju kasir setiap kali berkumpul. Sikap seperti ini tentu baik, karena Islam memang menganjurkan kedermawanan dan kemurahan hati. Namun, kebaikan itu menjadi kurang sempurna ketika di saat yang sama, anak dan istri di rumah justru harus menunggu, bahkan kekurangan perhatian dan nafkah.
Islam telah menata dengan sangat rapi tentang skala prioritas dalam berbuat baik, khususnya dalam hal memberi nafkah. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam Al-Qur’an:
وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُۥ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ
“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang patut.” (QS. Al-Baqarah: 233)
Ayat ini menegaskan bahwa nafkah kepada keluarga bukan sekadar anjuran, melainkan kewajiban yang akan dimintai pertanggungjawaban. Bahkan dalam kondisi sempit sekalipun, Allah tetap memberikan tuntunan:
لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِۦ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُۥ فَلْيُنفِقْ مِمَّآ ءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari apa yang Allah berikan kepadanya.” (QS. At-Talaq: 7)
Dalam sebuah kisah yang diriwayatkan dalam hadis sahih, terdapat pelajaran yang sangat dalam tentang prioritas ini. Zainab, istri dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه, adalah seorang wanita yang memiliki harta. Ketika Rasulullah ﷺ menganjurkan para sahabat untuk bersedekah, ia pun bersemangat ingin menginfakkan perhiasannya di jalan Allah. Namun, sebelum melangkah lebih jauh, suaminya berkata dengan penuh kebijaksanaan:
“Lebih baik engkau bersedekah kepada aku dan anak-anakmu terlebih dahulu daripada kepada orang lain.”
Zainab pun merasa ragu, karena ia ingin memastikan bahwa tindakannya benar di sisi Allah. Ia kemudian mendatangi Rasulullah ﷺ untuk meminta penjelasan. Maka beliau bersabda:
صَدَقَ ابْنُ مَسْعُودٍ، زَوْجُكِ وَوَلَدُكِ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتِ بِهِ عَلَيْهِمْ
“Benar apa yang dikatakan Ibnu Mas’ud. Suami dan anakmu lebih berhak untuk engkau sedekahi.” (HR. Bukhari)
Hadis ini memberikan penegasan bahwa memberi kepada keluarga sendiri tidak hanya memenuhi kewajiban, tetapi juga bernilai sedekah yang berpahala besar. Bahkan dalam kondisi tertentu, ia lebih utama dibandingkan memberi kepada orang lain. Karena di dalamnya terdapat dua kebaikan sekaligus: menjalankan kewajiban dan meraih pahala sedekah.
Rasulullah ﷺ juga bersabda dalam hadis yang lain:
دِينَارٌ أَنفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَدِينَارٌ أَنفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ
“Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan kepada keluargamu.” (HR. Muslim)
Betapa Islam begitu memuliakan peran seorang suami dalam keluarganya. Nafkah yang diberikan kepada istri dan anak bukan sekadar rutinitas duniawi, tetapi ibadah yang akan menjadi cahaya di akhirat. Setiap rupiah yang diberikan dengan niat yang benar akan bernilai di sisi Allah, bahkan bisa jadi lebih besar daripada sedekah yang diberikan kepada orang lain.
Maka, seorang suami perlu merenung. Jangan sampai ia dikenal sebagai orang yang dermawan di luar rumah, tetapi justru pelit atau lalai terhadap keluarganya sendiri. Jangan sampai anak dan istri merasa kekurangan, sementara orang lain merasakan kelapangan darinya. Karena sejatinya, keberkahan hidup itu berawal dari rumah yang terpenuhi hak-haknya.
Menjadi dermawan itu baik, tetapi menempatkan prioritas adalah bagian dari hikmah. Islam tidak melarang memberi kepada teman atau orang lain, tetapi mengajarkan urutan yang benar dalam berbuat baik. Keluarga adalah amanah, dan amanah itu harus ditunaikan dengan penuh tanggung jawab.
Pada akhirnya, bukan seberapa banyak kita memberi, tetapi kepada siapa kita mendahulukan pemberian itu. Dan dalam Islam, keluarga adalah yang pertama. Dari sana, cinta tumbuh, keberkahan mengalir, dan pahala berlipat ganda. (Dr. Drs. H. Muhtadi Hairi, M.Pd)
