Renungan Kamis Pagi:
Hati yang mengenal keluasan rahmat Allah SWT tidak akan tergesa-gesa menghakimi perjalanan orang lain. Ia memahami bahwa setiap jiwa memiliki rahasia, setiap manusia sedang bertumbuh, dan tidak semua yang belum dipahaminya pantas dibencinya. Sebab, di balik setiap perjalanan, ada ujian, perjuangan, air mata, serta kesempatan untuk kembali kepada Allah dengan penuh harapan.
Allah SWT adalah Zat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Rahmat-Nya meliputi seluruh makhluk, sementara pengetahuan manusia sangat terbatas untuk memahami keadaan sesamanya. Sering kali kita hanya melihat seseorang dari kesalahan yang tampak, tanpa mengetahui pergulatan batin yang sedang dihadapinya. Kita melihat langkahnya yang tertatih, tetapi tidak mengetahui berapa banyak air mata yang telah jatuh dalam perjuangannya. Kita melihat kekurangannya, tetapi tidak mengetahui doa-doa yang diam-diam dipanjatkannya.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 156:
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
Artinya: “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”
Ayat ini mengajarkan bahwa rahmat Allah begitu luas. Tidak sepantasnya seorang hamba merasa dirinya lebih berhak menentukan siapa yang pantas mendapatkan kasih sayang Allah. Tugas kita bukan mengambil alih kedudukan Allah sebagai Hakim Yang Mahaadil, melainkan berusaha menjadi manusia yang membawa kebaikan, memberikan nasihat dengan kelembutan, dan membuka pintu harapan bagi mereka yang sedang berjuang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ
Artinya: “Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengingatkan bahwa kasih sayang bukan sekadar perasaan, melainkan tuntunan iman yang harus diwujudkan dalam kehidupan. Menyayangi bukan berarti membenarkan setiap kesalahan. Menasihati bukan berarti merendahkan. Mengingatkan bukan berarti mempermalukan. Seorang mukmin hendaknya mampu membedakan antara ketegasan terhadap kesalahan dan kebencian terhadap orang yang melakukannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering tergoda untuk menilai seseorang hanya berdasarkan satu peristiwa. Padahal, manusia bukanlah kumpulan kesalahan yang pernah dilakukannya. Ia adalah jiwa yang masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Seseorang yang hari ini terjatuh mungkin esok menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah. Seseorang yang dahulu jauh dari kebaikan mungkin kelak menjadi teladan bagi banyak orang.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.”
Ayat ini mengajarkan pentingnya menjaga hati dan pikiran. Jangan sampai prasangka menjelma menjadi tuduhan, tuduhan berubah menjadi kebencian, lalu kebencian melahirkan tindakan yang menyakiti sesama. Tidak semua yang terlihat buruk benar-benar sebagaimana yang kita bayangkan. Ada keadaan yang tidak kita ketahui, ada alasan yang belum kita pahami, dan ada kenyataan yang hanya diketahui oleh Allah SWT.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Artinya: “Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)
Hadis ini menjadi tuntunan agar kita tidak menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan pembicaraan. Apabila mengetahui kesalahan seseorang, hendaknya kita menasihatinya secara pribadi, dengan adab dan niat yang tulus. Sebab, tujuan nasihat adalah memperbaiki, bukan mempermalukan; menyelamatkan, bukan menjatuhkan.
Mengenal keluasan rahmat Allah juga berarti menyadari bahwa diri kita sendiri tidak luput dari kesalahan. Kita pun pernah keliru, pernah lalai, pernah membutuhkan pertolongan, dan pernah berharap agar orang lain memahami keadaan kita. Maka, sebagaimana kita menginginkan pengampunan dan kesempatan untuk berubah, berikan pula ruang kepada sesama untuk memperbaiki kehidupannya.
Allah SWT berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya: “Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Ayat ini merupakan seruan penuh harapan bagi setiap jiwa yang ingin kembali. Jangan pernah merasa bahwa seseorang telah kehilangan seluruh kesempatan untuk menjadi baik. Selama kehidupan masih berlangsung, pintu tobat tetap terbuka. Jangan pula kita menjadi penghalang bagi orang lain untuk mendekat kepada Allah melalui sikap kasar, ucapan yang menyakitkan, atau penghakiman yang berlebihan.
Hati yang lapang adalah hati yang memahami bahwa setiap manusia sedang menempuh perjalanan menuju Allah. Ada yang berjalan cepat, ada yang tertatih, ada yang baru memulai, dan ada yang sedang berusaha bangkit setelah terjatuh. Kita tidak mengetahui bagaimana akhir perjalanan seseorang. Karena itu, jangan merasa paling suci, jangan mudah membenci, dan jangan menutup pintu harapan bagi sesama.
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang lembut hatinya, luas kasih sayangnya, bijaksana dalam menilai, dan tulus dalam menasihati. Semoga kita mampu melihat manusia dengan pandangan kasih sayang, tanpa kehilangan keteguhan dalam memegang kebenaran. Sebab, hati yang mengenal rahmat Allah akan senantiasa berusaha menjadi jalan kebaikan, bukan alasan bagi orang lain untuk menjauh dari-Nya. (Dr. Drs. H. Muhtadi Hairi, M.Pd)
