Renungan Selasa Pagi:
Keimanan bukan sekadar pengakuan melalui lisan, bukan pula hanya terlihat dari banyaknya ibadah yang dilakukan. Keimanan sejati tercermin dari keadaan hati, sikap, dan perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu tandanya adalah ketika hati merasa bahagia karena melakukan kebaikan dan merasa sedih ketika terjerumus dalam kemaksiatan. Inilah bukti bahwa iman masih hidup.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ
Artinya:
“Barang siapa yang merasa gembira dengan kebaikannya dan merasa sedih dengan keburukannya, maka ia adalah seorang mukmin.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim. Hadis ini dinilai hasan atau sahih oleh sejumlah ulama hadis.
Saudaraku, hadis yang singkat ini mengandung pelajaran yang sangat mendalam tentang hakikat keimanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan bahwa salah satu tanda kejujuran iman seseorang dapat dilihat dari reaksi hatinya terhadap perbuatan yang dilakukannya. Hati seorang mukmin tidak bersikap sama terhadap kebaikan dan keburukan. Ia bersyukur ketika diberi kemampuan melakukan ketaatan dan merasa menyesal ketika melakukan dosa.
Ketika seseorang melaksanakan salat, bersedekah, membantu orang lain, berkata jujur, menjaga amanah, atau melakukan amal saleh lainnya, kemudian hatinya merasa bahagia karena mengharapkan keridaan Allah, kebahagiaan tersebut merupakan nikmat yang patut disyukuri. Namun, kegembiraan itu bukan untuk membanggakan diri, melainkan karena Allah telah memberinya kesempatan melakukan kebaikan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
Artinya:
“Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.'” (QS. Yunus: 58).
Ayat ini mengingatkan kita bahwa karunia terbesar bukanlah kekayaan, jabatan, kemasyhuran, ataupun banyaknya harta, melainkan petunjuk dan rahmat Allah yang mengantarkan manusia kepada keimanan dan ketaatan.
Sebaliknya, ketika seorang mukmin melakukan kesalahan, hatinya tidak merasa tenang. Ia menyesal, merasa takut kepada Allah, kemudian berusaha memperbaiki diri. Penyesalan semacam ini bukanlah kelemahan, melainkan salah satu jalan yang mendorong seseorang untuk kembali kepada Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
Artinya:
“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosa mereka. Siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135).
Perhatikanlah, Allah tidak menggambarkan orang beriman sebagai manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan. Akan tetapi, ketika melakukan kesalahan, mereka segera mengingat Allah, memohon ampunan, dan tidak terus-menerus mempertahankan kemaksiatan.
Inilah perbedaan antara hati yang masih hidup dengan hati yang mulai kehilangan kepekaan. Hati yang hidup akan merasa gelisah ketika melanggar perintah Allah. Sementara hati yang terbiasa dengan kemaksiatan dapat kehilangan rasa bersalah, bahkan terkadang membanggakan dosa yang dilakukannya.
Oleh karena itu, jangan pernah menganggap ringan dosa sekecil apa pun. Sebab, dosa yang terus-menerus dilakukan tanpa penyesalan dapat mengeraskan hati. Sebaliknya, jangan pula meremehkan kebaikan sekecil apa pun, karena boleh jadi suatu amal sederhana menjadi sebab datangnya rahmat dan ampunan Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَىٰ صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim).
Hadis ini mengajarkan bahwa kemuliaan seorang hamba tidak ditentukan oleh penampilan, kekayaan, ataupun kedudukan sosialnya. Yang menjadi ukuran adalah keadaan hati dan amal perbuatannya. Karena itu, marilah kita senantiasa membersihkan hati dari kesombongan, riya, iri hati, kebencian, dan berbagai penyakit batin yang dapat merusak keikhlasan.
Namun, ada satu hal penting yang harus dipahami. Merasa bahagia ketika berbuat baik tidak berarti boleh merasa paling suci. Demikian pula merasa sedih karena melakukan dosa tidak berarti harus berputus asa dari rahmat Allah. Seorang mukmin harus menyeimbangkan rasa syukur atas kebaikan dengan kerendahan hati, serta penyesalan atas dosa dengan harapan akan ampunan Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya:
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.'” (QS. Az-Zumar: 53).
Maka, apabila hari ini kita masih merasa bahagia ketika mampu berbuat baik dan masih merasa menyesal ketika terjatuh dalam dosa, hendaklah kita bersyukur kepada Allah. Peliharalah kepekaan hati tersebut dengan memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, menjaga salat, memperbanyak istigfar, serta menjauhi segala sesuatu yang mengundang kemurkaan-Nya.
Jangan biarkan dunia membuat hati kita lebih mencintai pujian manusia daripada keridaan Allah. Jangan biarkan banyaknya dosa menjadikan kita terbiasa dengan kemaksiatan. Dan jangan biarkan kesibukan mengejar kehidupan dunia membuat kita lupa mempersiapkan kehidupan akhirat.
Ingatlah, iman membutuhkan pemeliharaan. Ia dapat bertambah dengan ketaatan dan melemah karena kemaksiatan. Oleh sebab itu, teruslah memperbaiki diri, meskipun perubahan itu berlangsung sedikit demi sedikit.
Semoga Allah menjadikan hati kita hati yang hidup, lembut, peka terhadap kebenaran, bahagia dalam ketaatan, dan selalu menyesal apabila melakukan kesalahan. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita keikhlasan dalam beramal, kekuatan meninggalkan dosa, serta keteguhan untuk senantiasa berada di jalan yang diridai-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.
