Oplus_16908288
LOMBOK TIMUR – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur menggelar Festival 1 Muharram 1448 H selama tujuh hari penuh, mulai Senin (15/6/2026) hingga Minggu (21/6/2026). Berpusat di GOR Selong, perayaan tahun baru Islam kali ini tampil beda dengan memadukan syiar keagamaan, ruang ekonomi kreatif, dan gerakan sosial. Salah satu inovasi yang mencuri perhatian adalah program “Ngopi Sambil Berinfak” yang diinisiasi oleh BAZNAS Lombok Timur.
Melalui program “Ngopi Sambil Berinfak”, BAZNAS Lombok Timur melibatkan pelaku UMKM binaan (mustahik) untuk menjajakan kopi dan aneka camilan di stand bazar. Menariknya, setiap transaksi yang dilakukan oleh pengunjung sudah mencakup unsur sedekah, di mana hasil keuntungan penjualan akan disalurkan kembali melalui program infak BAZNAS.
Ketua BAZNAS Lombok Timur, Drs. H. Muhammad Kamli, menjelaskan bahwa kehadiran mereka di festival ini merupakan komitmen untuk mendukung pemerintah sekaligus menggerakkan ekonomi umat.
“Setiap orang yang mengonsumsi kopi maupun hasil UMKM dari mustahik binaan, sudah include di dalamnya pemberian (sedekah). Program ini mengajak masyarakat untuk berinfak dan bersedekah kapan pun dan di mana pun, tanpa harus menunggu momen tertentu,” ujar Kamli saat ditemui di GOR Selong, Rabu (17/6/2026).
Festival yang berlangsung sepekan ini mengintegrasikan unsur budaya, modernitas, dan religiusitas. Setelah sukses menggelar pawai pada dua hari pertama, memasuki hari ketiga festival diramaikan oleh stand bazar UMKM dan hiburan rakyat. Rangkaian acara ini dijadwalkan mencapai puncaknya pada Minggu (21/6/2026) malam dengan penampilan spesial dari Band GIGI pada pukul 21.00 WITA.
Melalui kemasan yang inklusif ini, Pemkab Lombok Timur dan BAZNAS membuktikan bahwa peringatan hari besar Islam dapat menjadi ceruk produktif yang efektif untuk memberdayakan ekonomi masyarakat lokal.
Bagi umat Islam, 1 Muharram merupakan momentum sakral untuk introspeksi diri (muhasabah) dan mempererat solidaritas sosial, sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Qur’an Surah Yunus ayat 6 mengenai tanda-tanda kebesaran Allah pada pergantian siang dan malam.
Menanggapi dinamika di masyarakat terkait hukum memperingatinya, Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., dalam acara Ngaji Budaya sebelumnya, menegaskan bahwa peringatan Tahun Baru Hijriah sama sekali bukan bentuk penyimpangan agama.
“Memperingati 1 Muharram itu bukan mengandung bid’ah,” tegas Menag.
Ia menambahkan bahwa esensi dari peringatan ini adalah membangkitkan kesadaran jiwa dan menerapkan konsep ekoteologi—yakni menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan demi terciptanya kedamaian.
