Renungan Senin Pagi
Dunia sering memikat pandangan manusia dengan keindahan yang mempesona, namun semua itu hanyalah sementara. Islam mengajarkan agar setiap kenikmatan dunia dijadikan jalan menuju kebahagiaan akhirat melalui ibadah, amal saleh, pengelolaan waktu, kesiapan menghadapi kematian, serta keyakinan teguh kepada kehidupan yang kekal setelah seluruh manusia dibangkitkan kelak.
Ungkapan bahwa dunia itu indah tetapi tidak abadi mengandung pelajaran yang sangat mendalam. Allah Subhanahu wa Ta’ala memang menciptakan dunia dengan segala pesonanya. Gunung yang menjulang, lautan yang luas, keluarga yang dicintai, harta yang dimiliki, jabatan yang dihormati, dan kesehatan yang dinikmati merupakan karunia yang patut disyukuri. Namun, semua itu bukanlah tujuan akhir kehidupan. Dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan tujuan sesungguhnya adalah kampung akhirat yang kekal.
Allah Ta’ala berfirman:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ
“…Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan…”
(QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini bukan melarang manusia menikmati dunia, melainkan mengingatkan agar tidak tertipu olehnya. Dunia ibarat bayangan yang akan menghilang ketika matahari terbenam. Betapa banyak orang yang mengejar dunia tanpa batas, namun ketika ajal tiba, semua yang dikumpulkan harus ditinggalkan.
Allah juga berfirman:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)
Karena itu, orang beriman menjadikan dunia sebagai ladang amal. Kekayaan dipakai untuk bersedekah. Ilmu digunakan untuk mengajarkan kebaikan. Jabatan dijadikan amanah untuk menegakkan keadilan. Dengan demikian, dunia menjadi kendaraan menuju ridha Allah, bukan tujuan yang melalaikan.
Kalimat berikutnya berbunyi, “Dia berat tetapi ringan untuk meninggalkan, itulah sholat.” Shalat memang terasa berat bagi jiwa yang lalai, tetapi sangat ringan bagi hati yang dipenuhi keimanan. Orang yang mengenal Rabbnya akan menemukan ketenangan luar biasa ketika berdiri menghadap-Nya.
Allah berfirman:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya shalat itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”
(QS. Al-Baqarah: 45)
Mengapa banyak orang merasa berat melaksanakan shalat? Karena hati telah dipenuhi urusan dunia sehingga panggilan Allah tidak lagi menjadi prioritas. Sebaliknya, orang yang hatinya hidup akan merasakan shalat sebagai kebutuhan, bukan beban. Ketika sedih ia shalat, ketika gembira ia shalat, ketika bingung ia shalat, bahkan ketika mendapat nikmat ia tetap shalat sebagai bentuk syukur.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ
“Dan dijadikan penyejuk hatiku berada dalam shalat.”
(HR. An-Nasa’i)
Hadis ini menunjukkan bahwa shalat adalah sumber ketenangan hati. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia mencintai shalat. Jangan sampai shalat hanya menjadi gerakan fisik tanpa kehadiran hati, sebab hakikat shalat adalah dialog seorang hamba dengan Rabbnya.
Ungkapan selanjutnya, “Dia datang tetapi tidak akan terulang, itulah waktu.” Waktu merupakan nikmat yang paling sering disia-siakan manusia. Setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali. Hari kemarin telah menjadi sejarah, hari ini adalah kesempatan, sedangkan esok belum tentu dimiliki.
Allah berfirman:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr: 1–3)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Al-Bukhari)
Gunakanlah waktu untuk membaca Al-Qur’an, memperbanyak dzikir, menuntut ilmu, bekerja secara halal, berbakti kepada orang tua, mendidik keluarga, dan membantu sesama. Jangan biarkan umur habis hanya untuk perkara yang sia-sia, sebab setiap detik akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Kemudian disebutkan, “Dia dekat tetapi tak bisa lari darinya, itulah kematian.” Kematian adalah kepastian yang tidak mengenal usia, jabatan, maupun kekayaan. Tidak ada seorang pun yang mampu menundanya walau hanya sesaat.
Allah berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)
Allah juga berfirman:
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, sekalipun kamu berada di dalam benteng yang kokoh.”
(QS. An-Nisa’: 78)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.”
(HR. At-Tirmidzi)
Mengingat kematian bukan untuk membuat seseorang putus asa, melainkan agar ia segera bertobat, memperbaiki ibadah, memperbanyak amal saleh, dan tidak menunda kebaikan. Orang yang mengingat kematian akan lebih mudah memaafkan, lebih sedikit mencintai dunia, dan lebih bersungguh-sungguh mempersiapkan bekal menuju kehidupan berikutnya.
Akhirnya, ungkapan, “Dia kekal tetapi tidak terlihat, itulah akhirat,” menjadi penutup yang menyadarkan setiap hati. Walaupun belum terlihat oleh mata, akhirat adalah kehidupan yang pasti. Di sanalah seluruh amal manusia akan diperhitungkan secara adil tanpa sedikit pun kezaliman.
Allah berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.”
(QS. Az-Zalzalah: 7–8)
Allah juga berfirman:
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Al-A’la: 17)
Semoga kita tidak termasuk orang yang tertipu oleh keindahan dunia, tidak lalai menjaga shalat, tidak menyia-nyiakan waktu, selalu mengingat datangnya kematian, dan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama kehidupan. Marilah memperbanyak istighfar, memperkuat keimanan, memperbaiki akhlak, serta memperbanyak amal saleh selama pintu tobat masih terbuka. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala meneguhkan hati kita di atas jalan yang lurus, mengampuni dosa-dosa kita, menerima seluruh amal ibadah kita, memberikan husnul khatimah ketika ajal menjemput, serta memasukkan kita ke dalam surga-Nya yang penuh kenikmatan dan kekal selama-lamanya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (Dr. H.Muhatdi Hairi,M.Pd)
