Renungan Sabtu Pagi
Shalat bukan sekadar kewajiban yang dikerjakan ketika tubuh telah siap atau hati sedang bersemangat. Ia adalah panggilan Allah yang semestinya disambut dengan kesadaran, kerinduan, dan kegembiraan. Karena itu, seorang mukmin hendaknya berusaha meninggalkan rasa malas ketika menuju shalat, terutama shalat berjamaah. Di hadapan Allah, ia sedang bermunajat, mengadu, memohon ampun, dan mengharapkan rahmat-Nya.
Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma memberikan nasihat yang sangat dalam tentang sikap seorang mukmin ketika hendak melaksanakan shalat. Beliau berkata:
يُكْرَهُ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ إِلَى الصَّلَاةِ وَهُوَ كَسْلَانُ، وَلَكِنْ يَقُومُ إِلَيْهَا طَلْقَ الْوَجْهِ، عَظِيمَ الرَّغْبَةِ، شَدِيدَ الْفَرَحِ، فَإِنَّهُ يُنَاجِي اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ، وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَمَامَهُ يَغْفِرُ لَهُ وَيُجِيبُهُ إِذَا دَعَاهُ.
Artinya: “Dibenci seorang lelaki yang bangkit untuk shalat dalam keadaan malas. Namun hendaknya ia bangkit untuk shalat dengan wajah yang berseri, penuh keinginan, dan sangat gembira. Sebab, ia sedang bermunajat kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia. Sesungguhnya Allah berada di hadapannya; Dia mengampuninya dan mengabulkan doanya apabila ia berdoa kepada-Nya.”
Kemudian Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma membacakan firman Allah:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya di hadapan manusia dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit.” (QS. An-Nisa: 142).
Ayat tersebut memberikan peringatan keras agar kemalasan dalam shalat tidak menjadi kebiasaan. Namun, seseorang yang sesekali merasa berat atau lelah tidak serta-merta boleh dicap sebagai munafik. Yang perlu dilakukan adalah mengoreksi hati dan melawan kemalasan itu. Seorang mukmin dapat mengalami lelah, mengantuk, atau berat badan karena aktivitas. Akan tetapi, ia tetap berusaha memenuhi panggilan shalat dengan penuh kesadaran.
Shalat pada hakikatnya adalah perjumpaan seorang hamba dengan Rabb-nya dalam bentuk ibadah. Ketika takbir diucapkan, kesibukan dunia seharusnya ditinggalkan. Ketika membaca Al-Fatihah, seorang hamba sedang menghadap Allah. Ketika rukuk, ia merendahkan diri. Ketika sujud, ia menempatkan dirinya pada posisi paling dekat dengan Allah dalam doa.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
Artinya: “Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang sujud. Maka perbanyaklah doa.” (HR. Muslim).
Karena itu, membangun semangat menuju shalat merupakan bagian dari usaha memperbaiki kualitas hubungan dengan Allah. Jangan sampai seseorang lebih bersemangat memenuhi undangan manusia daripada memenuhi panggilan Rabb semesta alam. Jangan sampai langkah menuju tempat kerja begitu ringan, tetapi langkah menuju masjid terasa berat. Jangan sampai urusan dunia memperoleh tenaga terbaik, sedangkan ibadah diberikan sisa waktu dan sisa kekuatan.
Semangat shalat tidak selalu muncul dengan sendirinya. Ia perlu dilatih. Ketika azan terdengar, jangan terlalu banyak menunda. Segera tinggalkan pekerjaan yang dapat ditinggalkan. Berwudhulah dengan tenang. Kenakan pakaian yang baik. Berjalanlah menuju masjid dengan hati yang mengharap pahala. Ingatlah bahwa setiap langkah menuju shalat adalah bagian dari amal yang bernilai di sisi Allah.
Allah berfirman:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
Artinya: “Peliharalah semua shalat dan shalat wustha. Dan berdirilah untuk Allah dengan penuh ketaatan.” (QS. Al-Baqarah: 238).
Pesan penting dari nasihat Ibnu Abbas bukan sekadar agar wajah terlihat ceria ketika shalat. Lebih jauh daripada itu, ia mengajarkan agar hati memahami siapa yang sedang dipanggil dan kepada siapa kita sedang menghadap. Jika hati mengenal keagungan Allah, shalat tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan kebutuhan.
Maka, setiap kali azan berkumandang, mari bertanya kepada diri sendiri: apakah aku sedang memenuhi panggilan yang paling agung dengan hati yang hidup, atau hanya bergerak karena kebiasaan? Jika masih ada malas, jangan menyerah. Lawan dengan segera berdiri. Jika hati belum khusyuk, jangan meninggalkan shalat. Teruslah memperbaiki diri.
Sebab, orang yang mencintai Allah akan terus belajar menyambut panggilan-Nya. Shalat berjamaah bukan hanya tentang hadir bersama orang lain di masjid, tetapi juga tentang menghadirkan hati di hadapan Allah. Bangkitlah menuju shalat dengan wajah yang berseri, langkah yang ringan, harapan yang besar, dan hati yang rindu kepada ampunan serta rahmat-Nya. (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
