Renungan Ahad Pagi
Kebahagiaan tidak selalu lahir dari banyaknya harta, tingginya kedudukan, atau luasnya kenikmatan dunia. Kebahagiaan tumbuh ketika hati mengenal Pemberi rezeki, bersungguh-sungguh dalam ikhtiar, lalu menerima ketetapan Allah dengan syukur dan qanaah. Hati yang qanaah mampu menikmati karunia sederhana, tidak diperbudak keinginan, serta tetap tenang ketika apa yang diharapkan belum menjadi bagian dari kehidupannya.
Qanaah adalah sikap menerima karunia Allah setelah seseorang menempuh sebab dan berikhtiar dengan sungguh-sungguh. Qanaah bukan alasan untuk bermalas-malasan, berhenti bekerja, atau meninggalkan usaha. Seorang mukmin tetap diperintahkan mencari rezeki yang halal, berusaha memperbaiki keadaan, dan menggunakan kemampuan yang Allah titipkan. Namun setelah usaha dilakukan, hatinya tidak menggugat takdir ketika hasil belum sesuai harapan.
Allah mengingatkan bahwa kehidupan yang baik tidak semata-mata diukur dari banyaknya kepemilikan, tetapi dari kualitas iman dan amal saleh. Allah Ta’ala berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 97:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka pasti Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.”
Ketenangan hati juga merupakan karunia besar yang tidak dapat dibeli dengan kekayaan. Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan ukuran kebahagiaan yang sangat indah. Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu anhuma, beliau bersabda:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَكَانَ رِزْقُهُ كِفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ
“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa qanaah terhadap apa yang telah diberikan kepadanya.”
(HR. Muslim, no. 1054)
Hadis ini mengajarkan bahwa keberuntungan tidak selalu berarti memiliki segala sesuatu yang diinginkan. Ada kalanya keberuntungan justru berupa rezeki yang cukup, hati yang tidak tamak, dan kemampuan menikmati apa yang ada tanpa terus-menerus merasa kurang. Betapa banyak manusia memiliki banyak harta, tetapi jiwanya tetap gelisah karena pandangannya selalu tertuju kepada apa yang belum dimiliki.
Karena itu, qanaah harus berjalan bersama syukur. Ketika mendapatkan kelapangan, seorang mukmin memuji Allah. Ketika mendapatkan keterbatasan, ia bersabar. Ketika keinginannya belum terwujud, ia tetap berbaik sangka kepada Allah. Ia memahami bahwa Allah lebih mengetahui apa yang benar-benar dibutuhkan hamba-Nya.
Jangan biarkan perbandingan dengan kehidupan orang lain merampas nikmat yang sedang berada di tangan. Rumah sederhana dapat menjadi sumber ketenteraman. Penghasilan yang cukup dapat menjadi keberkahan. Keluarga yang rukun dapat menjadi nikmat yang jauh lebih berharga daripada kemewahan yang hanya tampak dari luar. Kebahagiaan akan terasa ketika seseorang berhenti menghitung kekurangan dan mulai menyadari begitu banyak karunia Allah yang selama ini telah diterimanya.
Qanaah bukan berarti tidak memiliki cita-cita. Qanaah berarti cita-cita tidak menjadikan hati sombong ketika berhasil dan tidak menghancurkan jiwa ketika gagal. Seorang yang qanaah tetap bekerja keras, tetapi menggantungkan hatinya kepada Allah, bukan kepada hasil semata. Ia berusaha sebaik mungkin, kemudian menyerahkan hasil kepada Rabb yang mengatur seluruh urusan.
Marilah kita belajar merasa cukup tanpa berhenti berusaha, bersyukur tanpa menunggu kaya, dan bersabar tanpa kehilangan harapan. Sebab rezeki yang paling indah bukan hanya yang banyak, melainkan yang halal, berkah, mencukupi, dan membuat hati semakin dekat kepada Allah.
Ya Allah, karuniakanlah kepada kami rezeki yang halal dan berkah. Ajarkanlah kami untuk bersyukur ketika menerima, bersabar ketika kehilangan, dan qanaah terhadap ketetapan-Mu. Jangan jadikan dunia memenuhi tangan kami tetapi mengosongkan hati kami. Jadikanlah hati kami tenteram dengan mengingat-Mu, ridha terhadap pemberian-Mu, serta kuat dalam menjalankan ketaatan hingga akhir kehidupan. (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
