Renungan Ahad Pagi:
Kehidupan mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki cara pandang, pengalaman, dan pemahaman yang berbeda. Menghadapi persoalan yang sama pun tidak selalu membuat seseorang mengambil tindakan serupa. Karena itu, kita perlu terus belajar mendengarkan, memahami, dan mengoreksi diri. Kedewasaan bukan tentang selalu merasa benar, melainkan kesediaan menerima nasihat, mengakui kesalahan, dan menghargai perbedaan dengan bijaksana.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 13:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13).
Ayat ini mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling merendahkan, melainkan kesempatan untuk saling mengenal dan belajar. Kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kemampuannya memenangkan perdebatan, tetapi oleh ketakwaannya kepada Allah. Karena itu, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah kita mempertahankan kebenaran berdasarkan ilmu, atau sekadar mempertahankan ego yang tidak ingin dikalahkan?
Mendengarkan orang lain merupakan bentuk kedewasaan. Terkadang, kita ingin dimengerti, tetapi enggan memahami. Kita ingin dihargai, tetapi mudah meremehkan. Padahal, setiap orang mempunyai pengalaman, kondisi batin, dan kemampuan menghadapi masalah yang berbeda. Sesuatu yang terasa ringan bagi kita mungkin menjadi ujian berat bagi orang lain.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengajarkan agar kita menjaga lisan ketika menghadapi perbedaan. Tidak semua pendapat harus dibalas dengan perdebatan. Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan suara keras. Terkadang, menahan ucapan yang menyakitkan jauh lebih bijaksana daripada memenangkan pertengkaran. Namun, menghargai perbedaan bukan berarti membenarkan semua pendapat. Kebenaran tetap harus ditimbang berdasarkan ilmu dan petunjuk Allah.
Allah SWT berfirman dalam surah Az-Zumar ayat 18:
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya: “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Az-Zumar: 18).
Orang bijaksana bersedia mendengarkan nasihat, sekalipun datang dari seseorang yang berbeda pandangan dengannya. Ia tidak menolak kebenaran karena persoalan pribadi dan tidak menganggap dirinya selalu benar. Sebab, mengakui kekeliruan bukanlah kehinaan, melainkan tanda keberanian untuk terus memperbaiki diri.
Rasulullah SAW bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarah.” (HR. Muslim).
Dalam hadis yang sama, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Karena itu, ilmu seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan keangkuhan. Kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan kehilangan adab. Kita boleh mempertahankan prinsip, tetapi tetap harus menghormati orang lain.
Allah SWT berfirman dalam surah Ali ‘Imran ayat 159:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ
Artinya: “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali ‘Imran: 159).
Ayat ini mengajarkan pentingnya kelembutan, pemaafan, dan musyawarah. Kebenaran perlu disampaikan dengan cara yang baik agar tidak berubah menjadi sumber permusuhan. Sebelum menghakimi seseorang, cobalah memahami keadaannya. Sebelum menyimpulkan bahwa ia salah, berilah kesempatan untuk menjelaskan. Kita tidak mengetahui seluruh perjuangan yang tersembunyi di balik tindakan seseorang.
Allah SWT berfirman dalam surah Al-Isra ayat 36:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra: 36).
Jangan membangun penilaian berdasarkan dugaan. Jangan menganggap seseorang berniat buruk hanya karena tindakannya berbeda dari harapan kita. Belajarlah melihat persoalan secara utuh, memeriksa kebenaran, dan menahan diri dari prasangka.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
Artinya: “Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan ia akan membuatnya buruk.” (HR. Muslim).
Kelembutan bukan kelemahan, melainkan kemampuan mengendalikan diri. Kita tidak harus memenangkan setiap perdebatan untuk membuktikan kebenaran. Terkadang, kemenangan sejati adalah ketika kita mampu menjaga lisan, mempertahankan adab, dan menyelesaikan persoalan tanpa menyakiti hati orang lain.
Hidup bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling benar. Hidup adalah perjalanan untuk terus belajar menjadi manusia yang lebih baik. Ketika bertemu dengan pandangan berbeda, dengarkanlah. Ketika keliru, akuilah. Ketika dinasihati, renungkanlah. Dan ketika menghadapi seseorang yang berbeda cara menyelesaikan masalah, berusahalah memahami sebelum menghakimi.
Semoga Allah melembutkan hati kita, menjauhkan kita dari kesombongan, serta membimbing kita agar senantiasa berkata baik dan berlaku adil. Semoga kita tidak hanya ingin dimengerti, tetapi juga mau memahami; tidak hanya ingin dihargai, tetapi juga mampu menghargai. Sebab, kita hanyalah manusia yang memiliki keterbatasan dan membutuhkan petunjuk Allah sepanjang perjalanan hidup. Aamiin. (Dr. H. Muhtadi Hairi, M.Pd)
