GEMBIRA menyambut bulan Ramadhan bukanlah perkara sepele dalam ajaran Islam. Ia bukan sekadar rasa senang karena pergantian waktu atau datangnya satu bulan tertentu dalam kalender.
Lebih dalam dari itu, kegembiraan atas hadirnya Ramadhan adalah ekspresi iman yang hidup, tanda hati yang peka, dan bukti kecintaan seorang hamba terhadap musim ketaatan yang Allah bentangkan.
Para ulama sejak generasi awal telah menaruh perhatian besar pada makna kegembiraan ini. Mereka menegaskan bahwa menghadirkan rasa gembira ketika datang musim-musim ibadah, terlebih Ramadhan, adalah bagian dari pengamalan iman. Karena Islam tidak hanya mengatur gerak lahiriah, tetapi juga kehidupan batin, termasuk rasa, harap, dan cinta kepada Allah.
Landasan utama tentang kegembiraan yang benar ditegaskan Allah Ta‘ala dalam firman-Nya:
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dengan itulah hendaknya mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)
Ayat ini menegaskan bahwa kegembiraan yang diperintahkan dalam Islam bukan kegembiraan duniawi semata. Bukan pula sekadar rasa puas karena harta, kedudukan, atau keberhasilan materi. Kegembiraan yang bernilai adalah kegembiraan karena karunia agama, iman, hidayah, dan kesempatan untuk taat kepada Allah.
Makna firman Allah, “Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan,” menunjukkan bahwa iman, Islam, Al-Qur’an, As-Sunnah, serta peluang untuk beribadah jauh lebih bernilai daripada seluruh harta dunia yang dikumpulkan manusia. Harta bersifat sementara dan pasti ditinggalkan, sedangkan iman dan amal saleh adalah bekal yang akan menyertai seorang hamba menuju akhirat.
Dalam penjelasan para ulama, ayat ini mengarahkan manusia agar bergembira dengan petunjuk dan agama yang benar, yaitu agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Inilah kegembiraan yang paling pantas dirasakan seorang mukmin. Sebab ia berkaitan dengan keselamatan hidup, ketenangan hati, dan masa depan yang abadi.
Sebuah kisah yang sering disebutkan untuk memperjelas makna ini adalah peristiwa ketika harta pajak dari Irak dibawa kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra. Jumlah unta yang datang sangat banyak hingga mengagumkan. Umar ra memuji Allah dengan ucapan, Alhamdulillah.
Namun, ketika ada yang berkata, “Ini adalah karunia dan rahmat Allah,” beliau menegaskan bahwa harta bukanlah maksud karunia dan rahmat Allah dalam ayat tersebut. Yang dimaksud adalah iman dan hidayah, sedangkan harta hanyalah sesuatu yang dikumpulkan manusia di dunia.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa melimpahnya harta bukan ukuran utama kegembiraan seorang beriman. Kegembiraan sejati adalah ketika Allah memberi iman dan membuka kesempatan untuk beramal serta menegakkan ketaatan.
Makna ini juga ditegaskan oleh para ulama kontemporer. Tidak ada amalan khusus yang disyariatkan untuk menyambut Ramadhan selain menyambutnya dengan rasa gembira, syukur, dan bahagia kepada Allah. Sebab dipertemukan dengan Ramadhan adalah nikmat besar.
Rasulullah ﷺ sendiri membahagiakan para sahabat dengan kabar datangnya Ramadhan, menjelaskan keutamaannya, serta pahala besar bagi orang yang berpuasa dan menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.
Menyambut Penuh Kesungguhan Persiapan
Generasi salafus shalih menyambut Ramadhan dengan kesungguhan yang luar biasa. Mereka mempersiapkan diri jauh hari, menyambutnya dengan harapan dan kegembiraan, karena mereka memahami betapa luasnya karunia Allah di bulan ini.
Waktu mereka dipenuhi dengan shalat, puasa, membaca Al-Qur’an, doa, sedekah, dan berbagai bentuk ketaatan lainnya. Mereka sadar bahwa Ramadhan adalah bulan dilipatgandakannya pahala, dibukanya pintu-pintu surga, ditutupnya pintu-pintu neraka, dan dibelenggunya setan-setan.
Ramadhan bagi mereka adalah musim semi iman, masa panen amal, dan pasar besar bagi kebaikan. Tidak ada bulan yang lebih berharga bagi seorang mukmin selain Ramadhan.
Kondisi ini patut dibandingkan dengan keadaan kita hari ini. Bagi sebagian orang, Ramadhan justru lebih identik dengan kesibukan mengurus makanan, hiburan, dan berbagai kesenangan duniawi. Waktu yang seharusnya digunakan untuk ibadah sering tersita oleh hal-hal yang kurang bernilai.
Tentu tidak semua demikian, karena masih ada hamba-hamba Allah yang diberi taufik untuk memuliakan Ramadhan. Namun secara umum, perbedaan ini layak menjadi bahan muhasabah bersama.
Betapa jauhnya perbedaan kegembiraan salafus shalih dengan kegembiraan kita. Kegembiraan mereka lahir dari peluang memperbanyak ibadah, sedangkan kegembiraan kita sering bercampur dengan urusan dunia.
Karena itu, sudah seharusnya kita memperbaiki cara menyambut Ramadhan. Menjadikan kegembiraan sebagai bentuk syukur karena Allah masih memberi umur, kesempatan, dan kemampuan untuk taat.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, melapangkan hati kita, dan menjadikan Ramadhan sebagai bulan perubahan menuju ketaatan yang lebih baik.
Ya Allah, ampunilah kami, rahmatilah kami, dan bimbinglah kami, wahai Rabb seluruh alam.[]
*) Ust. Drs. Khoirul Anam, penulis adalah Anggota Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Sumatera Utara, alumni Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, pengasuh kajian rutin Tafsir Al Qur’an di Rumah Qur’an Yahfin Siregar Tamora dan pengasuh Hidayatullah Al-Qur’an Learning Centre Medan
