Renungan Ahad Pagi
Mengaku mencintai Allah adalah perkara mudah di lisan, tetapi cinta yang benar akan tampak pada arah hidup. Ia mengubah cara seseorang memandang dosa, nikmat, ujian, waktu, dan kesempatan bertaubat. Ketika cinta kepada Allah tumbuh dalam hati, ketaatan tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan jalan untuk menemukan ketenangan, keberkahan, dan keselamatan di dunia serta akhirat, dalam jalan hidup yang diridhai-Nya selalu.
Cinta kepada Allah bukan sekadar kalimat yang indah, bukan pula perasaan yang hanya memenuhi hati ketika sedang mendapatkan kebahagiaan. Cinta kepada Allah adalah ketundukan yang melahirkan ketaatan. Karena itu, seseorang yang mengaku mencintai Allah perlu bertanya kepada dirinya sendiri: apakah cintanya telah mengubah perilakunya, atau hanya berhenti pada ucapan?
Allah memberikan ukuran yang sangat jelas tentang cinta kepada-Nya. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Artinya:
“Katakanlah, ‘Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Ali ‘Imran: 31)
Ayat ini mengajarkan bahwa cinta kepada Allah memiliki bukti yang nyata, yaitu mengikuti Rasulullah ﷺ. Mengikuti beliau bukan sekadar mengagumi akhlaknya, tetapi berusaha menjalankan petunjuknya, meneladani ibadahnya, menjaga lisannya, memperbaiki akhlaknya, serta menjauhi perkara yang dilarang.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa iman memiliki hubungan erat dengan kecintaan kepada beliau. Dalam hadis sahih disebutkan:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Artinya:
“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Cinta yang benar kemudian membentuk keberanian untuk meninggalkan dosa. Sebab, bagaimana mungkin seseorang mengatakan mencintai Allah, tetapi setiap hari sengaja melakukan sesuatu yang dibenci-Nya? Manusia memang tidak luput dari kesalahan. Namun, orang yang mencintai Allah tidak akan merasa nyaman hidup dalam dosa. Ketika terjatuh, ia segera bangkit. Ketika lalai, ia segera mengingat Allah. Ketika berdosa, ia segera mengetuk pintu taubat.
Allah bahkan melarang hamba-Nya berputus asa dari rahmat-Nya:
قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
Artinya:
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
(QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini bukan alasan untuk terus berbuat dosa, melainkan panggilan agar seorang hamba segera kembali. Jangan menunda taubat hanya karena merasa masih memiliki banyak waktu. Tidak seorang pun mengetahui kapan perjalanan hidupnya berakhir. Kematian tidak menunggu seseorang menjadi baik terlebih dahulu.
Cinta kepada Allah juga terlihat dari cara seseorang menerima ketetapan-Nya. Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur. Ketika mendapatkan ujian, ia bersabar. Ketika rencana tidak sesuai harapan, ia tetap berusaha dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Ia memahami bahwa Allah lebih mengetahui apa yang baik bagi hamba-Nya daripada dirinya sendiri.
Allah berfirman:
وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Maka, jangan ukur cinta kepada Allah hanya dari apa yang kita rasakan. Ukurlah dari apa yang kita lakukan. Apakah salat semakin dijaga? Apakah lisan semakin dikendalikan? Apakah dosa yang dahulu dianggap biasa mulai ditinggalkan? Apakah hati semakin mudah memaafkan? Apakah ketika bersendirian kita tetap takut kepada Allah sebagaimana ketika dilihat manusia?
Cinta yang jujur akan melahirkan rasa malu untuk bermaksiat. Ia membuat hati gelisah ketika jauh dari Allah dan merasa tenang ketika kembali kepada-Nya. Ia mendorong seseorang memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, memperbaiki salat, memperbanyak amal saleh, serta menjaga hubungan dengan sesama manusia.
Karena itu, jangan berhenti pada pengakuan, “Aku mencintai Allah.” Buktikan cinta itu dalam ketaatan. Jika pernah jauh, kembalilah. Jika pernah jatuh, bangkitlah. Jika pernah banyak dosa, bertaubatlah. Jangan menunggu menjadi sempurna untuk mendekat kepada Allah, sebab justru dengan mendekat kepada-Nya, Allah membimbing kita menuju perbaikan.
Cinta kepada Allah bukan berarti hidup tanpa dosa dan kesalahan. Cinta kepada Allah berarti tidak betah berada dalam kesalahan, selalu ingin kembali, dan terus berusaha memperbaiki diri. Sebab hati yang mencintai Allah akan selalu mencari jalan pulang.
Semoga Allah menjadikan cinta kepada-Nya sebagai cinta yang paling utama dalam hati kita, menguatkan kita untuk menaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, menerima ketetapan-Nya dengan sabar dan ridha, serta menutup kehidupan kita dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin. (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
