Renungan Sabtu Pagi
Kadang manusia sampai pada suatu titik ketika keramaian terasa melelahkan, percakapan tidak lagi menenangkan, dan ia ingin menepi dari banyak orang. Bukan karena membenci kehidupan, melainkan karena ada begitu banyak suara di dalam dirinya yang perlu didengarkan. Dalam kesendirian, manusia sering sedang berdialog dengan hati, mengurai kegelisahan, menimbang perjalanan, dan mencari kembali arah hidup di hadapan Allah dengan penuh kesadaran.
Menepi tidak selalu berarti menyerah. Ada kalanya seseorang membutuhkan ruang untuk merenung, mengevaluasi diri, menangisi kesalahan, dan mengumpulkan kembali kekuatan. Namun jangan biarkan kesendirian berubah menjadi ruang tempat pikiran buruk menguasai hati. Jadikan ia khalwat batin yang mendekatkan diri kepada Allah. Sebab ketika manusia merasa tidak seorang pun memahami pergulatan jiwanya, Allah mengetahui seluruh yang tersembunyi.
Allah berfirman:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf: 16)
Betapa menenangkan ayat ini. Ada pergulatan yang sulit diceritakan kepada manusia, tetapi tidak pernah tersembunyi dari Allah. Ada air mata yang jatuh tanpa diketahui siapa pun, tetapi Allah mengetahuinya. Ada pertanyaan yang terus berputar dalam kepala, sementara lidah tidak sanggup mengucapkannya. Allah tetap mengetahui semuanya.
Karena itu, ketika ingin menyendiri, bawalah Allah dalam kesendirian itu melalui salat, zikir, istigfar, membaca Al-Qur’an, dan doa. Jangan hanya berbicara kepada pikiran sendiri, sebab pikiran yang lelah dapat membawa manusia semakin jauh memasuki kecemasan. Berbicaralah kepada Allah. Mengadulah kepada-Nya sebagaimana Nabi Ya’qub mengadukan kesedihannya:
قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Dia (Ya’qub) menjawab, ‘Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Yusuf: 86)
Islam tidak mengajarkan manusia untuk memendam seluruh beban sendirian. Kita boleh menangis, beristirahat, meminta pertolongan, dan berbicara kepada orang yang amanah. Kekuatan bukan berarti tidak pernah lelah. Kekuatan justru tampak ketika seseorang mengetahui kepada siapa ia harus kembali ketika dirinya mulai kehilangan arah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik, dan hal itu tidak dimiliki siapa pun selain orang mukmin. Apabila memperoleh kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Apabila ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)
Maka, jika suatu hari engkau ingin menepi, menepilah untuk memperbaiki hati, bukan untuk membenci kehidupan. Diamlah sejenak untuk mendengar nurani, tetapi jangan memutus hubungan dengan orang-orang baik. Menangislah jika dada terasa sesak, tetapi setelah itu basuh wajah, berwudulah, lalu sujudlah.
Boleh jadi masa sunyi itu bukan akhir perjalanan. Bisa jadi Allah sedang menyediakan ruang agar kita melihat kembali apa yang selama ini tertutup oleh kebisingan dunia. Dalam sepi kita belajar bahwa tidak semua persoalan harus selesai hari ini, tidak semua pertanyaan harus segera mendapatkan jawaban, dan tidak semua kehilangan berarti kehancuran.
Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Jadi, ketika hidup terasa terlalu ramai, menepilah sebentar. Renungkan perjalananmu, tetapi jangan tenggelam dalam pikiranmu sendiri. Hadirkan Allah di sana. Sebab tujuan perenungan bukan sekadar menemukan jawaban tentang kehidupan, melainkan menemukan kembali Allah sebagai tempat bersandar. Setelah hati lebih tenang, bangkitlah perlahan. Tidak perlu menjadi kuat dalam satu malam. Cukuplah berjalan kembali sambil meyakini: selama Allah menjadi tujuan, kesunyian pun dapat menjadi jalan pulang. (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
