MATARAM — Ada cara sederhana untuk membaca sebuah kota: lihat apa yang tumbuh di tanahnya.
Di kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pagutan, sekitar 82 hektare lahan tidak dibiarkan sekadar menjadi hamparan hijau yang sunyi. Sebagian lahannya mulai dihidupkan. Cabai dan tomat ditanam, dirawat, lalu hari ini dipanen.
Panen perdana cabai di kawasan tersebut menjadi penanda bahwa lahan yang sebelumnya belum sepenuhnya produktif dapat diberi kehidupan baru. Bukan hanya untuk menghasilkan komoditas pangan, tetapi juga membuka ruang edukasi, rekreasi, sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan Kota Mataram.
Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, menyebut panen cabai tersebut sebagai langkah awal yang akan diperluas ke sejumlah lahan milik pemerintah daerah lainnya.
“Ini panen perdana kita, panen satu komoditas yang penting, cabai. Saya menyampaikan apresiasi kepada Dinas Pertanian karena sudah mempersiapkan dan memanfaatkan lahan seperti ini menjadi produktif,” kata Mohan.
Menurutnya, hasil panen perdana cukup menggembirakan. Cabai yang dipanen memiliki kualitas baik, berukuran besar dan segar. Bahkan, hasil panen tersebut langsung terserap melalui offtaker dengan jumlah sekitar 60 kilogram.
Bagi pemerintah, angka itu bukan sekadar hasil panen. Ia menjadi bukti bahwa ketika lahan, kelompok tani dan kebijakan dipertemukan, sesuatu yang produktif bisa tumbuh dari ruang yang sebelumnya tidak menghasilkan.
Mohan pun meminta Sekretaris Daerah Kota Mataram untuk mendata lahan-lahan milik pemerintah yang belum produktif agar dapat dikembangkan dengan konsep serupa.
“Ini masih dikelola oleh kelompok. Mereka sudah bisa bekerja dan menghasilkan. Saya juga minta Pak Sekda mendata lahan-lahan kita yang bisa ditempatkan untuk seperti ini di kawasan atau wilayah lain,” ujarnya.
Pengembangan lahan tersebut, kata Mohan, untuk sementara tetap menggunakan skema non-budgeter dengan melibatkan kelompok tani dan gabungan kelompok tani (gapoktan) yang telah dibentuk.
Harapannya sederhana: lahan menghasilkan, kelompok tani berdaya, dan masyarakat ikut merasakan manfaatnya.
Lebih jauh, RTH Pagutan juga diarahkan menjadi ruang agrowisata dan edukasi. Masyarakat maupun wisatawan nantinya dapat datang dan merasakan pengalaman memetik hasil hortikultura secara langsung. Bagi pelajar, kawasan ini dapat menjadi ruang belajar terbuka untuk mengenal pertanian dan proses pangan dari dekat.
Di sisi lain, gerakan menanam cabai juga menjadi bagian dari ikhtiar menjaga stabilitas harga. Cabai merupakan salah satu komoditas yang kerap memengaruhi inflasi ketika pasokannya terbatas dan harga melonjak.
Karena itu, menanam cabai di lahan pemerintah, pekarangan maupun ruang produktif lainnya bukan sekadar urusan pertanian. Ia adalah cara sebuah kota menjaga dapurnya tetap menyala.
Gerakan ini diperkuat melalui sinergi Pemerintah Kota Mataram dan Tim Penggerak PKK untuk mendorong pemanfaatan lahan secara konsisten.
Panen tersebut turut dihadiri Sekda Kota Mataram H. L. Alwan Basri, Ketua TP PKK Kota Mataram Hj. Kinnastri Mohan Roliskana, Ketua GOW Kota Mataram Hj. Waridah Mujiburrahman, para asisten Setda, Kepala Dinas Pertanian L. Jauhari, serta jajaran OPD Kota Mataram.
Dari RTH Pagutan, pesan itu tumbuh bersama cabai yang dipanen: lahan yang dirawat akan memberi kehidupan. Dan kota yang mampu menghidupkan lahannya, sedang menanam ketahanan untuk masa depan.**(TK-DISKOMINFO)
