Renungan Rabu Pagi:
Setiap manusia akan menempuh perjalanan menuju kematian, meninggalkan rumah, keluarga, harta, jabatan, dan segala kebanggaan dunia. Ketika jasad dibaringkan di alam kubur, hanya amal yang terus menyertainya. Karena itu, sebelum waktu berakhir, marilah memperbaiki iman, meluruskan niat, memperbanyak kebaikan, dan menunaikan hak sesama agar perjalanan menuju alam barzakh menjadi awal harapan akan rahmat dan ampunan Allah.
Kehidupan dunia sering membuat manusia sibuk mengejar sesuatu yang akan ditinggalkannya. Kita bekerja siang dan malam untuk mengumpulkan harta, membangun rumah, meraih kedudukan, memperluas pergaulan, serta mendapatkan pengakuan dari sesama. Semua itu tidak selalu salah, selama diperoleh dengan cara halal dan digunakan untuk kebaikan. Namun, persoalan muncul ketika kesibukan mengejar dunia membuat manusia lupa mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat yang kekal.
Rasulullah ﷺ mengingatkan kita tentang kenyataan yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Beliau bersabda:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ
Artinya: “Ada tiga perkara yang mengikuti jenazah: keluarga, harta, dan amalnya. Dua perkara akan kembali, sedangkan satu perkara tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali, sementara amalnya tetap bersamanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengandung pelajaran yang sangat mendalam. Keluarga yang mencintai kita hanya dapat mengantarkan sampai batas tertentu. Mereka mungkin mengiringi jenazah, menangis, mendoakan, dan mengenang kebaikan kita. Namun, setelah pemakaman selesai, mereka kembali menjalani kehidupan masing-masing. Harta yang dahulu dikumpulkan dengan susah payah juga akan berpindah kepada ahli waris atau digunakan untuk keperluan lain. Jabatan, popularitas, jumlah pengikut, dan pujian manusia pun tidak dapat menggantikan amal saleh di hadapan Allah.
Yang tinggal bersama manusia adalah amalnya, dengan segala konsekuensi dan balasan yang telah Allah tetapkan. Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah berapa banyak orang yang mengenal kita, melainkan seberapa baik kita mengenal Allah dan menjalankan perintah-Nya. Bukan berapa besar kekayaan yang berhasil kita kumpulkan, melainkan seberapa halal sumbernya dan seberapa besar manfaatnya bagi kehidupan. Bukan pula seberapa tinggi kedudukan kita di mata manusia, melainkan bagaimana kedudukan kita di sisi Allah.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Kahfi ayat 46:
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا
Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi: 46).
Ayat ini tidak mengajarkan kita untuk membenci harta atau mengabaikan keluarga. Sebaliknya, Islam mengajarkan agar keduanya menjadi jalan menuju keridaan Allah. Harta dapat menjadi amal saleh apabila diperoleh secara halal, digunakan untuk menafkahi keluarga, membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, dan mendukung kemaslahatan umat. Anak-anak menjadi sumber kebaikan apabila dididik dengan iman, akhlak, dan tanggung jawab. Kedudukan duniawi pun dapat bernilai ibadah apabila digunakan untuk menegakkan keadilan dan menunaikan amanah.
Jangan sampai kita memiliki rumah megah, tetapi hati tidak pernah bersujud dengan khusyuk. Jangan sampai rekening bertambah, tetapi tangan terlalu berat untuk bersedekah. Jangan sampai nama kita dikenal banyak orang, tetapi orang-orang terdekat justru terluka oleh perkataan dan perilaku kita. Jangan pula kita begitu sibuk memperbaiki citra di hadapan manusia sampai lupa memperbaiki keadaan hati di hadapan Allah.
Allah SWT berfirman dalam Surah Az-Zalzalah ayat 7–8:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Artinya: “Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8).
Ayat tersebut menumbuhkan kesadaran bahwa tidak ada kebaikan yang terlalu kecil untuk dilakukan. Senyuman yang tulus, perkataan yang menenangkan, bantuan kepada tetangga, kejujuran dalam berdagang, kesabaran menghadapi kesulitan, serta kesediaan memaafkan orang lain merupakan bagian dari kebaikan yang patut dijaga. Demikian pula, dosa yang dianggap sepele tidak boleh diremehkan, sebab kebiasaan buruk dapat mengeraskan hati apabila terus dipelihara tanpa pertobatan.
Amal saleh tidak terbatas pada ibadah ritual. Salat, puasa, zakat, dan membaca Al-Qur’an merupakan kewajiban serta jalan mendekatkan diri kepada Allah. Di samping itu, bekerja dengan jujur, menunaikan utang, merawat orang tua, mendidik anak, menjaga lisan, dan menolong orang yang kesusahan juga dapat bernilai ibadah apabila dilakukan sesuai tuntunan syariat dan disertai niat yang benar. Seorang muslim hendaknya berusaha menyatukan kesalehan kepada Allah dengan akhlak yang baik kepada sesama manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya: “Sesungguhnya segala amal itu bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengingatkan bahwa amal bukan hanya tentang apa yang terlihat, melainkan juga tentang niat yang tersembunyi di dalam hati. Sedekah yang diumumkan demi memperoleh pujian tidak sama dengan sedekah yang diberikan karena mengharap rida Allah. Ilmu yang digunakan untuk merendahkan orang lain berbeda nilainya dari ilmu yang diamalkan untuk membimbing dan memberikan manfaat. Oleh sebab itu, sebelum beramal, luruskan niat; ketika beramal, jagalah keikhlasan; setelah beramal, jangan merasa paling berjasa.
Kita juga perlu memahami bahwa keselamatan akhirat tidak diperoleh dengan kesombongan terhadap amal sendiri. Amal saleh merupakan kewajiban dan sebab datangnya rahmat Allah, sedangkan seorang hamba tetap membutuhkan ampunan, pertolongan, dan kasih sayang-Nya. Jangan merasa sudah cukup baik sehingga berhenti memperbaiki diri. Jangan pula berputus asa ketika menyadari banyaknya kesalahan masa lalu. Selama pintu tobat masih terbuka, hendaknya kita kembali kepada Allah dengan penyesalan yang sungguh-sungguh, meninggalkan dosa, dan bertekad tidak mengulanginya.
Allah SWT berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya: “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53).
Ayat ini merupakan panggilan penuh harapan bagi orang yang ingin memperbaiki hidupnya. Betapa pun panjang perjalanan dalam kelalaian, jangan menjadikannya alasan untuk terus menjauh dari Allah. Mulailah dari salat yang dijaga, lisan yang dikendalikan, rezeki yang dibersihkan dari yang haram, dan hubungan yang diperbaiki. Jika pernah menzalimi seseorang, berusahalah mengembalikan haknya dan meminta maaf. Sebab, pertobatan tidak boleh hanya berhenti pada penyesalan pribadi ketika masih ada hak manusia yang harus diselesaikan.
Di antara amal yang patut kita persiapkan adalah amal yang manfaatnya terus mengalir setelah kematian. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ، إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Artinya: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).
Hadis ini mengajarkan pentingnya meninggalkan warisan kebaikan. Kita dapat berusaha membangun sarana yang bermanfaat, membantu penyediaan air bersih, mendukung pendidikan, mengajarkan ilmu yang benar, menulis sesuatu yang bermanfaat, atau mendidik anak agar tumbuh menjadi pribadi beriman dan berakhlak mulia. Kemampuan setiap orang berbeda-beda. Tidak semua orang mampu mendirikan bangunan besar atau membiayai proyek sosial, tetapi setiap orang dapat berbuat sesuai kemampuan, kesempatan, dan keikhlasannya.
Jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu tua untuk mendekat kepada Allah. Jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan. Jangan menunggu kehilangan seseorang untuk menyadari pentingnya kasih sayang. Kehidupan tidak pernah menjanjikan bahwa kesempatan hari ini akan tersedia kembali esok hari. Karena itu, manfaatkan umur sebelum datang kematian, manfaatkan kesehatan sebelum datang penyakit, dan manfaatkan waktu luang sebelum kesibukan menyita kesempatan beramal.
Kematian bukan sekadar perpisahan antara jasad dan kehidupan dunia, melainkan pintu menuju fase kehidupan berikutnya, yaitu alam barzakh, sebelum manusia dibangkitkan dan menjalani pengadilan Allah pada hari kiamat. Kita tidak mengetahui bagaimana keadaan akhir setiap manusia, sebab keputusan mutlak berada di tangan Allah. Namun, wahyu telah memberikan petunjuk agar kita mempersiapkan diri dengan iman, amal saleh, tobat, dan akhlak mulia.
Maka, jangan ukur keberhasilan hidup hanya dari apa yang berhasil dikumpulkan, tetapi ukurlah juga dari kebaikan yang berhasil ditanamkan. Jangan hanya memikirkan siapa yang akan mewarisi harta kita, tetapi pikirkan pula nilai manfaat yang kita tinggalkan. Jangan hanya berharap banyak orang hadir ketika kita meninggal, tetapi berusahalah agar kehidupan kita di dunia dipenuhi amal yang diridai Allah.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang ikhlas, teguh dalam ketaatan, ringan menolong sesama, bersih dari kezaliman, dan istiqamah dalam kebaikan. Semoga keluarga dan harta yang dititipkan kepada kita menjadi sarana beribadah, bukan sebab kelalaian. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal saleh kita, melapangkan kubur kita, melindungi kita dari azab kubur, serta menganugerahkan rahmat dan keselamatan pada hari kebangkitan.
Amin ya Rabbal ‘alamin. (Dr. H. Muhtadi Hairi, M.Pd)
