Renungan Selasa Pagi
Manusia sering mengukur kemenangan dari apa yang tampak: harta bertambah, jabatan meningkat, usaha berkembang, nama dikenal, atau keinginan tercapai. Padahal dunia terus berubah dan semua pencapaian itu dapat berakhir. Al-Qur’an mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukan sekadar berhasil memperoleh dunia, melainkan memperoleh keselamatan, keridaan, dan kebahagiaan yang Allah janjikan bagi orang beriman.
Dalam kehidupan, kita sering menyebut seseorang menang karena ia memperoleh kekayaan, berhasil menduduki jabatan, memenangkan persaingan, memiliki rumah mewah, kendaraan bagus, atau memperoleh penghargaan. Semua itu boleh menjadi nikmat apabila diperoleh dengan cara yang halal dan digunakan untuk kebaikan. Namun, Islam mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan tidak boleh berhenti pada pencapaian duniawi. Sebab dunia bersifat sementara, sedangkan kehidupan akhirat bersifat kekal.
Allah berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 185:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Artinya: Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan.
Ayat tersebut memberikan ukuran yang sangat jelas tentang kemenangan. Allah tidak mengatakan bahwa orang yang paling kaya adalah orang yang menang. Allah juga tidak menjadikan popularitas, jabatan, atau banyaknya pengikut sebagai ukuran utama kemenangan. Kemenangan yang hakiki adalah ketika seseorang diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.
Inilah yang disebut al falah. Secara umum, al falah mengandung makna keberhasilan, keberuntungan, keselamatan, dan tercapainya kebaikan yang diharapkan. Karena itu, ketika kita mendengar seruan hayya ‘alal falah dalam azan, kita sebenarnya sedang dipanggil menuju kemenangan yang jauh lebih besar daripada kemenangan dunia.
Allah berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ
Artinya: Sungguh, beruntunglah orang-orang yang beriman.
Kemudian Allah menjelaskan siapa orang-orang yang memperoleh al falah itu. Mereka adalah orang yang khusyuk dalam salatnya, menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak berguna, menunaikan zakat, menjaga kehormatan diri, memelihara amanah dan janji, serta memelihara salatnya. Semua itu disebutkan dalam Surah Al Mu’minun ayat 1 sampai 11.
Dengan demikian, al falah bukan sekadar hasil akhir, tetapi juga jalan hidup. Ia dibangun melalui iman, ibadah, akhlak, kesungguhan, kesabaran, kejujuran, dan ketakwaan. Seseorang mungkin kalah dalam sebuah persaingan dunia, tetapi tidak berarti ia gagal di hadapan Allah. Sebaliknya, seseorang mungkin tampak menang di mata manusia, tetapi jika kemenangan itu diperoleh dengan kezaliman, penipuan, kesombongan, atau kemaksiatan, ia harus berhati-hati karena keberhasilan duniawi belum tentu menjadi keberhasilan akhirat.
Rasulullah ﷺ juga memberikan gambaran tentang keberhasilan yang sebenarnya. Beliau bersabda:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
Artinya: Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang mencukupi, dan Allah menjadikannya merasa cukup dengan apa yang telah diberikan kepadanya. Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim.
Hadis tersebut mengajarkan bahwa keberuntungan tidak selalu identik dengan kelimpahan. Ada orang yang hartanya banyak tetapi hatinya selalu merasa kurang. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana tetapi hatinya tenteram karena bersyukur dan merasa cukup terhadap pemberian Allah. Kekayaan yang melahirkan kesyukuran lebih bermakna daripada kekayaan yang melahirkan kesombongan dan ketamakan.
Karena itu, jangan sampai kita tertipu oleh berbagai kemenangan duniawi. Mendapatkan sesuatu memang menyenangkan, tetapi kehilangan Allah demi mendapatkannya adalah kerugian yang sangat besar. Memiliki banyak harta adalah nikmat, tetapi jika harta membuat seseorang meninggalkan salat, melupakan zakat, merusak hubungan keluarga, dan menghalalkan segala cara, maka nikmat itu dapat berubah menjadi ujian yang berat.
Mulailah mengubah cara kita memahami kemenangan. Ketika berhasil melakukan salat tepat waktu, itu kemenangan. Ketika mampu menahan amarah, itu kemenangan. Ketika mampu memaafkan orang yang menyakiti, itu kemenangan. Ketika mampu meninggalkan dosa meskipun tidak ada manusia yang mengetahui, itu kemenangan. Ketika memperoleh rezeki halal lalu bersyukur dan berbagi, itu kemenangan. Ketika menghadapi kesulitan tetapi tetap percaya kepada Allah, itu juga kemenangan.
Dunia akan meninggalkan kita sebagaimana kita akan meninggalkan dunia. Jabatan akan berakhir, harta akan berpindah, tubuh akan melemah, pujian manusia akan berhenti, dan nama kita perlahan dilupakan. Yang akan menemani kita adalah iman dan amal yang kita bawa menghadap Allah.
Maka, jangan hanya mengejar kemenangan yang terlihat oleh manusia. Kejarlah al falah yang dinilai oleh Allah. Belajarlah memahami tanda-tandanya, kemudian praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga setiap langkah kita diarahkan menuju kemenangan yang tidak semu, bukan kemenangan yang berakhir dengan kekecewaan, tetapi kemenangan yang berujung pada ampunan, keridaan Allah, keselamatan dari neraka, dan kebahagiaan abadi di dalam surga. (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
