Renungan Selasa Pagi
Banyak orang merasa dirinya gagal ketika cita cita belum tercapai, usaha belum membuahkan hasil, pekerjaan yang diharapkan tidak didapatkan, atau perjuangan yang dilakukan belum menghasilkan perubahan nyata. Cara pandang seperti ini sering membuat seseorang kehilangan semangat dan harapan. Padahal Al Qur’an mengajarkan bahwa kegagalan sejati bukanlah ketika hasil belum datang, melainkan ketika manusia berhenti berusaha, kehilangan iman, dan menyerah dari rahmat Allah SWT.
Dalam kehidupan sehari hari, ukuran keberhasilan sering kali ditentukan oleh hasil yang tampak di hadapan mata. Seseorang dianggap berhasil ketika memperoleh kekayaan, jabatan, nilai akademik yang tinggi, atau pencapaian yang membanggakan. Sebaliknya, ketika hasil yang diinginkan belum terwujud, banyak orang langsung menilai dirinya gagal. Cara pandang ini lahir dari kecenderungan manusia yang hanya melihat ujung perjalanan, sementara Allah SWT melihat seluruh proses, niat, kesungguhan, kesabaran, dan ketakwaan yang menyertai perjalanan tersebut.
Al Qur’an mengajarkan bahwa kehidupan dunia adalah tempat ujian, bukan tempat menerima seluruh hasil secara instan. Allah SWT berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang orang yang sabar.”
(QS. Al Baqarah: 155)
Ayat ini menunjukkan bahwa kesulitan, kehilangan, dan berbagai bentuk kegagalan yang tampak dalam pandangan manusia sesungguhnya merupakan bagian dari ujian kehidupan. Ujian bukanlah tanda kebencian Allah kepada hamba Nya. Justru sering kali ujian menjadi sarana untuk mengangkat derajat, membersihkan dosa, dan membentuk pribadi yang lebih kuat.
Banyak kisah para nabi yang menunjukkan bahwa keberhasilan menurut Allah tidak selalu sama dengan keberhasilan menurut manusia. Nabi Nuh AS berdakwah selama ratusan tahun, namun pengikutnya hanya sedikit. Jika diukur dengan standar manusia, mungkin dakwah itu dianggap tidak berhasil. Akan tetapi di sisi Allah, Nabi Nuh adalah salah satu rasul ulul azmi yang memperoleh kedudukan mulia karena keteguhan dan kesabarannya.
Demikian pula Nabi Ibrahim AS. Beliau menghadapi penolakan, pengusiran, bahkan ancaman pembakaran. Namun semua kesulitan itu tidak menjadikannya gagal. Justru melalui ujian tersebut, Allah menjadikannya imam bagi umat manusia. Ini mengajarkan bahwa keberhasilan dalam Islam tidak hanya diukur dari hasil yang cepat terlihat, tetapi dari keteguhan menjalankan kebenaran.
Allah SWT berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al Insyirah: 5-6)
Perhatikan bahwa Allah tidak mengatakan kemudahan datang setelah kesulitan, melainkan bersama kesulitan. Artinya, di dalam setiap ujian selalu terdapat hikmah, pelajaran, peluang, dan jalan keluar yang mungkin belum terlihat oleh manusia. Ketika seseorang gagal dalam satu rencana, bisa jadi Allah sedang menyiapkan jalan yang lebih baik untuk dirinya.
Tidak sedikit orang yang ditolak dalam suatu pekerjaan, namun kemudian memperoleh pekerjaan yang lebih sesuai. Ada yang mengalami kerugian usaha, tetapi dari pengalaman itu lahir kebijaksanaan dan strategi yang mengantarkannya pada keberhasilan yang lebih besar. Ada pula yang gagal mencapai target tertentu, namun kegagalan itu menjadi sarana untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Karena itu, seorang mukmin tidak boleh berputus asa. Allah SWT berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: Wahai hamba hamba Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa dosa semuanya. Sungguh Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Az Zumar: 53)
Jika seseorang yang bergelimang dosa saja dilarang berputus asa dari rahmat Allah, maka terlebih lagi orang yang sedang berjuang meraih cita cita dan kebaikan. Putus asa bukanlah sifat seorang mukmin. Seorang mukmin akan terus melangkah, memperbaiki ikhtiar, memperkuat doa, dan memperdalam tawakal kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun selain orang mukmin. Jika ia memperoleh kesenangan, ia bersyukur maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar maka itu pun baik baginya.”
(HR. Muslim)
Hadis ini mengubah cara pandang seorang mukmin terhadap kegagalan. Apa pun yang terjadi dalam hidupnya tetap mengandung kebaikan selama ia menjalaninya dengan iman, sabar, syukur, dan tawakal. Dengan demikian, kegagalan bukanlah akhir perjalanan, melainkan bagian dari proses pendidikan Allah kepada hamba Nya.
Kegagalan yang sesungguhnya menurut Al Qur’an adalah ketika seseorang kehilangan iman, meninggalkan salat, menjauh dari Al Qur’an, enggan bertaubat, dan berhenti berbuat baik. Adapun kegagalan duniawi yang sering kita keluhkan hanyalah episode sementara dalam perjalanan panjang menuju keberhasilan yang hakiki.
Allah SWT berfirman:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar benar berada dalam kerugian. Kecuali orang orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.”
(QS. Al Ashr: 1-3)
Surah ini menegaskan bahwa kerugian yang hakiki bukanlah kehilangan harta, jabatan, atau kesempatan dunia, melainkan kehilangan iman dan amal saleh. Oleh sebab itu, ketika suatu target belum tercapai, jangan terburu buru menuduh diri sebagai orang gagal. Bisa jadi Allah sedang mengajarkan kesabaran, menguatkan mental, membersihkan niat, atau mengarahkan langkah menuju tujuan yang lebih baik.
Maka, ketika nilai akademik belum sesuai harapan, bisnis mengalami kerugian, lamaran kerja ditolak, atau target belum tercapai, jangan memandangnya sebagai akhir segalanya. Pandanglah sebagai bagian dari tarbiyah Ilahiyah, pendidikan langsung dari Allah SWT. Teruslah berikhtiar, berdoa, memperbaiki diri, dan menjaga keimanan. Sebab dalam pandangan Al Qur’an, keberhasilan sejati bukan hanya tentang mencapai tujuan dunia, melainkan tetap teguh di jalan Allah hingga akhir hayat dan kembali kepada Nya dengan hati yang penuh iman dan ketakwaan. (Dr. H. Muhtadi Hairi, M.Pd)
