Mataram – Suasana religius dan penuh kekhusyukan menyelimuti peringatan Nuzulul Quran 1447 Hijriah yang digelar di Musholla Al Islah, Pondok Indah, Pagutan Barat, Kota Mataram, Sabtu malam (07/03/2026). Jama’ah yang berasal dari berbagai latar belakang suku dan daerah memadati musholla untuk mengikuti rangkaian kegiatan keagamaan tersebut.
Warga yang hadir merupakan masyarakat heterogen yang tinggal di kawasan Pondok Indah, terdiri dari suku Sasak, Mbojo, Sumbawa, Dompu hingga Jawa. Kebersamaan mereka mencerminkan kerukunan dan semangat persatuan dalam merayakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam, yakni turunnya Al-Qur’an.
Ketua Takmir Musholla Al Islah, Dr. H. Muhtadi Hairi, M.Pd, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut dengan lancar serta tingginya antusiasme masyarakat.
“Alhamdulillah di malam ini, malam 18 Ramadhan, kita dapat berkumpul di musholla yang indah dan sejuk ini dalam rangka memperingati Nuzulul Quran. Semoga kegiatan seperti ini terus memperkuat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan kebahagiaannya karena penceramah yang diundang akhirnya dapat hadir meski memiliki jadwal yang sangat padat.
Menurutnya, penceramah yang dihadirkan merupakan salah satu profesor termuda di Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram yang memiliki konsentrasi keilmuan di bidang teologi, filsafat Islam dan teknologi pendidikan.
Selain itu, dalam kesempatan tersebut ia juga melaporkan perkembangan pembangunan musholla kepada jamaah. Ia menyampaikan bahwa pemasangan keramik di bagian luar musholla telah selesai berkat sumbangan jamaah melalui gerakan “Ikhlas Beramal”.
“Alhamdulillah, sumbangan jamaah yang masuk malam ini tercatat sekitar sepuluh juta rupiah. Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh jamaah yang telah berpartisipasi,” katanya.
Sementara itu, tausyiah disampaikan oleh Guru Besar UIN Mataram Prof. Dr. TGH. Abdul Fattah, M.Fil.I. Dalam ceramahnya, ia menjelaskan makna Nuzulul Quran sebagai peringatan turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.
“Peringatan Nuzulul Quran pada hakikatnya adalah memperingati turunnya Al-Qur’an pertama kali yang dibawa Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW saat beliau berkhalwat di Gua Hira di Jabal Nur,” jelasnya.
Ia menuturkan wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah Surah Al-Alaq ayat 1–5 yang dimulai dengan perintah membaca, “Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq”.
Dalam ceramahnya, Prof. Abdul Fattah juga menjelaskan bahwa Al-Qur’an memang pertama kali turun pada bulan Ramadhan, namun dalam beberapa riwayat disebutkan tanggalnya berbeda-beda.
Menurut sebagian riwayat yang dinukil dari Sayyidah Aisyah, kata dia, wahyu pertama turun pada tanggal 24 Ramadhan. Namun di Indonesia peringatannya lazim dilaksanakan pada tanggal 17 Ramadhan.
Ia menjelaskan bahwa penetapan tanggal 17 Ramadhan di Indonesia juga merujuk pada penafsiran terhadap ayat Al-Qur’an dalam Surah Al-Anfal yang menyebut istilah Yaumul Furqan, yakni hari pembeda antara yang hak dan batil.
Acara berlangsung dengan khidmat hingga akhir kegiatan. Jamaah yang hadir mengikuti tausyiah dengan penuh perhatian, menciptakan suasana kebersamaan dan spiritualitas yang kuat di tengah bulan suci Ramadhan.
Peringatan Nuzulul Quran tersebut diharapkan semakin meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur’an sekaligus mempererat silaturahmi antarwarga di lingkungan Pondok Indah Pagutan Barat, Kota Mataram. (Abdi KM Mataram)
