Renungan Jumat Pagi:
Banyak orang tekun menjalankan ibadah, rajin bersedekah, menjaga salat, dan mempererat silaturahim. Namun, tidak semua amal yang tampak baik di hadapan manusia otomatis bernilai di sisi Allah. Ada persoalan mendasar yang sering terlupakan, yaitu niat dan keikhlasan. Sebab, amal bukan hanya dinilai dari bentuknya, melainkan juga dari tujuan dan landasan keimanan yang menyertainya.
Dalam kehidupan beragama, kita sering merasa cukup ketika telah memperbanyak amal kebaikan. Kita bersedekah, membantu orang miskin, menyantuni anak yatim, membangun masjid, menghadiri pengajian, dan menjaga hubungan persaudaraan. Semua itu merupakan perbuatan terpuji. Namun, Islam mengajarkan bahwa banyaknya amal belum tentu menjamin keselamatan seseorang di akhirat. Ada satu perkara yang menentukan nilai seluruh amal tersebut, yakni keikhlasan karena Allah.
Ikhlas bukan sekadar tidak memamerkan ibadah atau menghindari pujian manusia. Ikhlas berarti menempatkan Allah sebagai satu-satunya tujuan utama dalam beramal. Seseorang boleh berharap mendapatkan keberkahan rezeki, kesehatan, ketenteraman, dan kemudahan hidup melalui doa dan ibadahnya. Namun, jangan sampai Allah hanya dijadikan sarana untuk memenuhi kepentingan dunia, sementara keridaan-Nya bukan menjadi tujuan utama.
Allah berfirman dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5:
وَمَآ أُمِرُوٓا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Artinya: “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat serta menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.”
Ayat ini menegaskan bahwa kemurnian niat merupakan fondasi penghambaan. Salat, zakat, sedekah, dan berbagai bentuk kebaikan harus diarahkan kepada Allah. Jangan sampai seseorang rajin beramal hanya ketika sedang membutuhkan sesuatu, tetapi melupakan Allah ketika keinginannya telah terpenuhi.
Rasulullah ﷺ juga memberikan pedoman yang sangat mendasar tentang persoalan niat. Beliau bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya: “Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengingatkan bahwa dua orang dapat melakukan pekerjaan yang sama, tetapi memperoleh nilai yang berbeda di hadapan Allah. Dua orang bersedekah dalam jumlah yang sama. Yang satu melakukannya karena mengharap rida Allah, sedangkan yang lain menginginkan popularitas, pujian, dan pengakuan masyarakat. Secara lahiriah keduanya tampak sama, tetapi tujuan batinnya berbeda.
Persoalan lain yang perlu diwaspadai adalah riya, yaitu melakukan ibadah atau kebaikan agar mendapatkan perhatian dan pujian manusia. Allah mengingatkan dalam Surah Al-Ma’un ayat 4-6:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ٤ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ٥ الَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ ٦
Artinya: “Maka celakalah orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya.”
Peringatan ini bukan berarti kita harus menyembunyikan seluruh amal. Sedekah secara terbuka pun diperbolehkan apabila membawa kemaslahatan, memberikan teladan, dan tetap terjaga keikhlasannya. Yang menjadi persoalan adalah ketika penilaian manusia lebih penting daripada penilaian Allah.
Rasulullah ﷺ juga memperingatkan tentang orang yang beramal untuk memperoleh pujian. Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِيَ غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Artinya: “Aku adalah Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amal yang di dalamnya ia mempersekutukan Aku dengan selain-Ku, Aku meninggalkannya bersama kesyirikannya.” (HR. Muslim).
Hadis ini mengandung peringatan serius agar tidak mencampurkan penghambaan kepada Allah dengan tujuan-tujuan yang merusak kemurnian ibadah. Bahkan, persoalan ini harus dibedakan dari harapan memperoleh pahala dan karunia Allah, sebab mengharapkan surga dan takut terhadap neraka merupakan bagian dari ajaran Islam.
Ada pula hadis tentang orang-orang yang tampaknya memiliki banyak amal, tetapi ternyata mengalami kerugian besar pada hari kiamat. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
Artinya: “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut? Para sahabat menjawab, Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak mempunyai uang dan harta benda. Rasulullah bersabda, Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala salat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga datang dengan membawa dosa karena mencela orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Maka diberikanlah pahala kebaikannya kepada orang-orang yang pernah dizaliminya. Apabila pahala kebaikannya telah habis sebelum seluruh tanggungannya selesai, diambillah dosa orang-orang yang dizaliminya, lalu dibebankan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim).
Hadis tersebut memberikan pelajaran bahwa ibadah tidak boleh dipisahkan dari akhlak dan tanggung jawab sosial. Rajin salat tetapi gemar menyakiti orang lain, bersedekah tetapi mengambil hak sesama, atau rajin menghadiri pengajian tetapi menyebarkan fitnah merupakan pertentangan antara ibadah dan perilaku. Kesalehan harus tercermin dalam hubungan dengan Allah sekaligus hubungan dengan manusia.
Karena itu, marilah kita membiasakan diri memeriksa niat sebelum beramal, menjaga keikhlasan ketika melaksanakan amal, dan melakukan introspeksi setelahnya. Jangan terlalu sibuk menghitung jumlah sedekah, banyaknya salat sunah, atau panjangnya daftar kegiatan keagamaan, sementara hati belum tentu bersih dari kesombongan, kebencian, dan keinginan mendapatkan pengakuan.
Kita juga tidak boleh mudah menghakimi amal orang lain sebagai riya atau tertolak. Hanya Allah yang mengetahui isi hati dan menentukan diterima atau tidaknya suatu amal. Tugas kita adalah memperbaiki diri, bukan mengambil alih hak Allah untuk menilai manusia.
Yang perlu kita khawatirkan bukan hanya sedikitnya amal, melainkan rusaknya tujuan dalam beramal. Jangan sampai sepanjang hidup kita mengumpulkan kebaikan, tetapi lupa menjaga keikhlasan, keimanan, dan akhlak. Semoga Allah menjadikan setiap salat, sedekah, silaturahim, dan pengabdian kita sebagai amal saleh yang diterima.
Sebab, kebahagiaan sejati bukanlah ketika manusia mengenal kita sebagai orang yang paling dermawan atau paling rajin beribadah, melainkan ketika Allah meridai kehidupan dan amal kita.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْإِخْلَاصَ فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu keikhlasan dalam perkataan dan perbuatan.”
Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (Dr. Drs. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
