Renungan senin Pagi
Pernahkah kita berbaring di bawah langit malam yang dipenuhi bintang, lalu merasakan betapa kecilnya diri ini di tengah luasnya alam semesta? Perasaan itu sesungguhnya bukan sekadar kekaguman terhadap angkasa, melainkan panggilan hati untuk mengenal kebesaran Allah. Semakin dalam manusia merenungi ciptaan-Nya, semakin nyata bahwa seluruh alam berdiri tegak bukan karena kebetulan, tetapi karena kekuasaan Allah Yang Mahakuasa.
Ketika seseorang menyaksikan dokumenter tentang luar angkasa, ia mungkin akan dibuat takjub oleh penjelasan mengenai gravitasi, planet-planet, galaksi, dan ruang hampa yang seolah tak bertepi. Ada ungkapan yang menyatakan bahwa ketika kita berbaring di atas rerumputan pada malam hari, sebenarnya kita bukan sedang melihat ke atas, melainkan sedang melihat ke bawah menuju jurang kehampaan yang tak terbatas. Manusia tidak terjatuh ke ruang kosong itu semata-mata karena adanya gravitasi yang menahan tubuhnya tetap berada di permukaan bumi.
Bagi seorang mukmin, pengetahuan semacam itu bukanlah alasan untuk semakin mengagungkan hukum-hukum alam semata, melainkan menjadi jalan untuk semakin mengenal kebesaran Sang Pencipta hukum tersebut. Gravitasi tidak bekerja dengan sendirinya. Matahari tidak bersinar karena kemauannya sendiri. Bumi tidak berputar atas kehendaknya sendiri. Seluruh jagat raya tunduk kepada aturan yang telah Allah tetapkan sejak awal penciptaannya. Semakin luas ilmu pengetahuan berkembang, semakin banyak pula bukti yang menunjukkan bahwa alam semesta berjalan dengan keteraturan yang luar biasa. Keteraturan itu tidak mungkin lahir tanpa adanya Zat Yang Maha Mengatur.
Allah berfirman:
﴿إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾
Artinya:
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, maupun berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata, ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari azab neraka.'” (QS. Ali ‘Imran: 190-191).
Ayat ini mengajarkan bahwa perenungan terhadap alam semesta bukan sekadar aktivitas ilmiah, tetapi juga ibadah hati. Semakin seseorang berpikir tentang langit yang luas, semakin ia menyadari betapa lemahnya dirinya. Kesadaran itulah yang melahirkan kerendahan hati, rasa syukur, dan ketundukan kepada Allah.
Allah juga mengingatkan manusia tentang kokohnya langit yang berdiri dengan aturan-Nya.
﴿اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُّسَمًّى يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُم بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ﴾
Artinya:
“Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Dia mengatur segala urusan dan menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya agar kamu meyakini pertemuan dengan Tuhanmu.” (QS. Ar-Ra’d: 2).
Segala hukum yang mengatur alam semesta merupakan bagian dari sunnatullah. Allah menciptakan sebab dan akibat agar manusia berpikir, belajar, dan mengambil hikmah. Namun seorang mukmin tidak berhenti pada hukum-hukum itu. Ia melampauinya dengan mengenali Zat yang menciptakan seluruh hukum tersebut.
Rasulullah ﷺ pun mengajarkan agar umatnya memperbanyak tafakur terhadap ciptaan Allah, namun tidak mencoba membayangkan hakikat zat-Nya.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
تَفَكَّرُوا فِي خَلْقِ اللَّهِ وَلَا تَفَكَّرُوا فِي اللَّهِ
Artinya:
“Berpikirlah tentang ciptaan Allah, dan janganlah kalian memikirkan hakikat Zat Allah.”
Hadis ini mengajarkan keseimbangan antara akal dan iman. Akal dipersilakan menjelajahi seluruh rahasia alam, tetapi hati tetap menyadari bahwa Allah Mahatinggi dan tidak dapat dijangkau oleh khayalan manusia.
Di tengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, seorang Muslim tidak boleh merasa bahwa agama dan sains saling bertentangan. Justru keduanya saling menguatkan apabila ditempatkan pada porsinya. Ilmu pengetahuan menjelaskan bagaimana alam bekerja, sedangkan wahyu menjelaskan mengapa alam ini diciptakan. Ilmu menunjukkan mekanisme, sedangkan iman menunjukkan tujuan. Keduanya akan menghantarkan manusia kepada pengakuan bahwa tidak ada satu pun ciptaan yang sia-sia.
Saat memandang langit malam, jangan hanya menghitung jumlah bintang. Renungkan pula betapa besar kasih sayang Allah yang menjaga bumi tetap layak dihuni, mengatur udara yang kita hirup, menggerakkan bumi tanpa membuat manusia terlempar ke angkasa, serta menyiapkan seluruh kebutuhan makhluk-Nya dengan sangat teliti. Semua itu adalah nikmat yang sering kali luput dari perhatian karena telah menjadi kebiasaan sehari-hari.
Kesadaran akan kebesaran alam semesta juga seharusnya mengikis kesombongan manusia. Betapa banyak orang merasa dirinya hebat hanya karena harta, jabatan, atau ilmu yang dimiliki. Padahal jika dibandingkan dengan luasnya galaksi, bumi hanyalah setitik debu. Jika bumi hanyalah setitik debu, maka manusia lebih kecil lagi. Namun justru makhluk yang sangat kecil inilah yang diberi kehormatan untuk mengenal Allah, beribadah kepada-Nya, dan menjadi khalifah di muka bumi.
Oleh karena itu, setiap kali langit malam terbentang di atas kepala kita, jangan biarkan hati hanya dipenuhi rasa kagum terhadap keindahan kosmos. Jadikanlah setiap bintang sebagai pengingat akan kebesaran Allah, setiap hembusan angin sebagai bukti kasih sayang-Nya, dan setiap tarikan napas sebagai nikmat yang patut disyukuri. Sebab hakikat perjalanan hidup manusia bukanlah mengagumi luasnya alam semesta, melainkan menemukan Sang Pencipta di balik seluruh keagungan ciptaan-Nya. Ketika hati telah sampai pada pengakuan itu, maka rasa takut berubah menjadi ketenangan, rasa kecil berubah menjadi kerendahan hati, dan setiap pandangan ke langit akan menjadi jalan untuk semakin dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Dr.H. Muhtadi Hairi.,M.Pd)
