Renungan Sabtu Pagi
Seorang mukmin tidak hanya diajarkan memperbanyak ibadah, tetapi juga menjaga kesinambungan amal agar tetap hidup dalam setiap keadaan. Ketika suatu hari tahajud tidak dapat dilakukan sebanyak biasanya karena keterbatasan waktu, muncul pertanyaan apakah kekurangan itu dapat ditambah melalui salat dhuha. Pertanyaan seperti ini mencerminkan semangat untuk terus mendekat kepada Allah, sekaligus menjadi kesempatan memahami tuntunan syariat secara benar, proporsional, dan penuh hikmah.
Dalam perjalanan menuju Allah, setiap amal saleh memiliki kedudukan, waktu, keutamaan, dan hikmah yang berbeda. Salat tahajud dan salat dhuha sama sama merupakan salat sunnah yang sangat dianjurkan. Keduanya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, membersihkan hati, menguatkan jiwa, dan membuka pintu rezeki serta keberkahan. Namun, masing masing memiliki waktu pelaksanaan dan keutamaan yang tidak saling menggantikan secara mutlak.
Allah Swt. berfirman:
وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَتَهَجَّدۡ بِهِۦ نَافِلَةٗ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامٗا مَّحۡمُودٗا
“Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah engkau sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”
(QS. Al Isra’ [17]: 79)
Ayat ini menunjukkan bahwa tahajud mempunyai kedudukan yang sangat mulia. Rasulullah saw. sendiri sangat menjaga ibadah malam ini meskipun beliau telah dijamin memperoleh ampunan Allah. Tahajud bukan sekadar menambah jumlah rakaat, melainkan melatih keikhlasan, kesabaran, dan kesungguhan seorang hamba ketika kebanyakan manusia sedang terlelap.
Rasulullah saw. bersabda:
أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
“Salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.”
(HR. Muslim)
Hadis ini memperlihatkan betapa tingginya kedudukan salat malam. Oleh sebab itu, apabila suatu ketika seseorang hanya mampu melaksanakan dua rakaat tahajud karena waktu yang sangat sempit, janganlah merasa amalnya menjadi sia sia. Dua rakaat yang dilakukan dengan ikhlas lebih dicintai Allah daripada banyak rakaat tetapi dilakukan tanpa kekhusyukan.
Islam adalah agama yang realistis. Tidak setiap malam seseorang memiliki kondisi fisik, kesehatan, atau kesempatan yang sama. Ada kalanya pekerjaan, perjalanan, sakit, atau sebab lain membuat waktu tahajud menjadi terbatas. Dalam keadaan demikian, syariat tidak mengajarkan rasa putus asa. Yang diperintahkan adalah tetap menjaga ibadah sesuai kemampuan.
Allah Swt. berfirman:
فَاتَّقُوا ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ
“Maka bertakwalah kepada Allah menurut kemampuanmu.”
(QS. At Taghabun [64]: 16)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa Allah tidak membebani seorang hamba di luar kemampuannya. Yang dinilai bukan hanya banyaknya amal, tetapi juga keikhlasan hati, kesungguhan niat, dan istiqamah dalam melaksanakannya.
Lalu bagaimana dengan salat dhuha? Apakah rakaatnya boleh ditambah apabila tahajud berkurang?
Secara syariat, tidak ada dalil yang menyatakan bahwa rakaat dhuha menjadi pengganti rakaat tahajud yang berkurang. Begitu pula sebaliknya. Salat tahajud tetap merupakan ibadah malam, sedangkan salat dhuha adalah ibadah yang memiliki waktu dan keutamaannya sendiri. Menambah rakaat dhuha merupakan amal yang baik selama masih berada dalam tuntunan syariat, tetapi niatnya bukan untuk mengganti kekurangan tahajud secara khusus, melainkan untuk memperbanyak amal saleh.
Rasulullah saw. bersabda:
يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى
“Pada setiap pagi, setiap persendian salah seorang di antara kalian wajib dikeluarkan sedekahnya. Setiap bacaan tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, dan dua rakaat salat dhuha telah mencukupi semua itu.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa salat dhuha memiliki keutamaan yang sangat besar sebagai ungkapan syukur atas nikmat anggota tubuh yang masih berfungsi dengan baik. Oleh karena itu, memperbanyak rakaat dhuha merupakan amalan yang sangat baik selama dilakukan dengan niat mengharap rida Allah.
Seorang mukmin hendaknya memahami bahwa setiap ibadah memiliki identitas masing masing. Tahajud tidak kehilangan kemuliaannya hanya karena jumlah rakaatnya sedikit. Dhuha juga tidak kehilangan nilainya meskipun hanya dua rakaat. Yang paling penting adalah menjaga kesinambungan ibadah tersebut.
Rasulullah saw. bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus menerus meskipun sedikit.”
(HR. Al Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberikan pelajaran yang sangat dalam. Allah lebih mencintai ibadah yang konsisten daripada ibadah yang banyak tetapi hanya sesekali dilakukan. Karena itu, apabila biasanya seseorang melaksanakan delapan rakaat tahajud, kemudian pada suatu malam hanya mampu dua rakaat, jangan meninggalkannya sama sekali. Dua rakaat itu tetap bernilai besar di sisi Allah.
Demikian pula apabila pada pagi harinya memiliki waktu yang lapang, ia dapat memperbanyak rakaat salat dhuha sebagai bentuk syukur dan semangat memperbanyak amal saleh. Namun, hendaknya tidak meyakini bahwa rakaat dhuha tersebut menjadi pengganti resmi rakaat tahajud yang berkurang. Niatkan semata mata untuk menghidupkan sunnah Rasulullah saw. dan mengharap pahala dari Allah.
Keseimbangan dalam beribadah merupakan ciri seorang mukmin yang matang. Ia tidak hanya mengejar kuantitas, tetapi juga kualitas. Ia memahami bahwa Allah Maha Mengetahui segala keadaan hamba Nya. Ketika suatu amal berkurang karena uzur yang dibenarkan, Allah tetap membuka pintu amal lain agar seorang hamba tidak berhenti melangkah menuju ridha Nya.
Marilah kita menjadikan tahajud sebagai cahaya malam yang menghidupkan hati, dan menjadikan dhuha sebagai cahaya pagi yang mengawali hari dengan syukur dan optimisme. Bila suatu ketika salah satunya tidak dapat dilakukan secara maksimal, jangan jadikan hal itu alasan untuk melemahkan semangat beribadah. Teruslah melangkah sesuai kemampuan, karena Allah tidak melihat semata banyaknya rakaat, tetapi juga ketulusan hati, keikhlasan niat, dan kesungguhan seorang hamba dalam menaati perintah Nya. Semoga Allah memberikan kepada kita kekuatan untuk menjaga tahajud, menghidupkan dhuha, memelihara istiqamah dalam seluruh amal saleh, serta mengakhiri kehidupan kita dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin. (Dr. H. Muhtadi Hairi.,M.Pd)
