Magelang, 10 Agustus 2026 — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 23 Universitas Mercu Buana Yogyakarta melalui @PlaosanChronicles.23 melaksanakan program kerja dari Program Studi Peternakan berupa sosialisasi dan diskusi santai tentang pembuatan dan pemanfaatan silase sebagai pakan ternak kepada masyarakat Dusun Plaosan, Desa Muneng, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Silase Berkualitas: Hemat Pakan, Hasil Maksimal!” sebagai upaya memperkenalkan alternatif pengelolaan pakan yang sederhana, hemat, dan berkelanjutan.

KEGIATAN YANG DEKAT DENGAN MASYARAKAT
Kegiatan dilaksanakan melalui sosialisasi yang dikemas dalam suasana diskusi interaktif bersama bapak-bapak dan pemuda Dusun Plaosan. Pendekatan ini dipilih agar mahasiswa tidak hanya menyampaikan materi secara satu arah, tetapi juga dapat mendengarkan pengalaman dan kondisi nyata yang dihadapi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pakan ternak. Peserta diberikan ruang untuk berdiskusi mengenai ketersediaan hijauan (tumbuhan vegetatif yang dimanfaatkan untuk pakan utama hewan herbivora) serta kemungkinan pemanfaatan bahan-bahan yang terdapat di lingkungan sekitar.

MENGHADIRKAN SOLUSI DARI POTENSI YANG ADA DI SEKITAR
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut adalah ketersediaan hijauan yang sangat dipengaruhi oleh perubahan musim. Pada musim hujan, hijauan cenderung tersedia dalam jumlah melimpah. Namun, ketika memasuki musim kemarau, ketersediaan pakan dapat mengalami penurunan sehingga peternak perlu memiliki alternatif untuk menjaga keberlangsungan pakan ternaknya.
Melalui pembuatan silase, hijauan yang berlebih pada saat musim hujan dapat diawetkan dan disimpan sebagai cadangan untuk digunakan pada waktu mendatang. Tidak hanya rumput seperti rumput gajah, rumput raja, dan rumput odot, bahan pembuatan silase juga dapat berasal dari limbah pertanian, seperti jerami padi dan tongkol jagung.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengenalkan bahwa bahan pakan yang tersedia di sekitar masyarakat dapat dimanfaatkan dan diawetkan, sehingga tidak hanya bergantung pada ketersediaan hijauan setiap harinya,” ujar Fahar Raditya, sebagai penanggung jawab kegiatan.

MASYARAKAT PLAOSAN: TERBUKA, AKRAB, DAN MAU BERBAGI PENGALAMAN
Interaksi selama kegiatan mencerminkan karakter masyarakat Dusun Plaosan yang ramah, terbuka terhadap diskusi, serta memiliki pengalaman langsung dalam menghadapi persoalan pakan ternak. Kehadiran bapak-bapak dan pemuda dalam kegiatan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar dari masyarakat sekaligus berbagi pengetahuan yang dapat diterapkan sesuai kondisi lingkungan setempat.
Suasana yang santai membuat komunikasi berlangsung secara lebih dekat. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga turut menyampaikan pengalaman, kebutuhan, dan pandangan mereka. Dari interaksi tersebut, kegiatan KKN tidak hanya sekadar penyampaian program kerja, melainkan sebuah proses saling belajar antara mahasiswa dan masyarakat.
Selain diskusi mengenai teknik pengawetan pakan, terdapat kepedulian terhadap kehidupan para peternak yang harus memastikan ternaknya tetap memperoleh pakan yang cukup. Maka ketersediaan pakan bukan sekadar persoalan teknis, tetapi berkaitan dengan keberlangsungan usaha, penghasilan keluarga, serta tanggung jawab dalam merawat hewan ternak. Dengan demikian memperkenalkan cara memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar masyarakat menjadi langkah kecil dari kepedulian yang diharapkan dapat memberikan manfaat nyata.
MENGENALKAN PROSES PEMBUATAN SILASE
Pada sosialisasi, mahasiswa menjelaskan tahapan dasar pembuatan silase, mulai dari pencacahan hijauan dengan ukuran sekitar 3–5 cm, pelayuan hingga kadar air sekitar 65%, pencampuran dengan bahan tambahan, pemadatan di dalam wadah yang ditutup rapat, hingga proses fermentasi dalam kondisi tertutup selama kurang lebih 14–21 hari. Bahan tambahan yang diperkenalkan adalah dedak atau bekatul, dan juga Molase serta EM4 jika diperlukan.
Mahasiswa juga menyampaikan bagaimana karakteristik pembuatan silase yang baik, antara lain memiliki aroma asam yang segar, warna hijau kekuningan, serta tingkat keasaman sekitar pH 3,8–4,2. Informasi yang disampaikan diharapkan dapat menambah pengetahuan serta dapat membantu masyarakat mengenali kualitas silase sebelum digunakan sebagai pakan ternak.
DARI PAKAN BERLEBIH MENJADI CADANGAN UNTUK MASA SULIT
Pemanfaatan silase tidak hanya ditujukan untuk mengatasi kekurangan pakan pada musim kemarau. Pengawetan hijauan juga dapat membantu peternak mengelola ketersediaan pakan agar lebih terencana sepanjang tahun. Hijauan yang melimpah pada musim hujan tidak harus terbuang, tetapi dapat diolah menjadi cadangan pakan yang dapat dimanfaatkan ketika ketersediaannya mulai berkurang.
Dengan demikian, silase menjadi contoh sederhana bahwa potensi yang sering kali dianggap biasa di lingkungan sekitar dapat memiliki nilai manfaat yang lebih besar apabila dikelola dengan cara yang tepat. Pendekatan tersebut juga sejalan dengan semangat pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan KKN, yaitu tidak sekadar membawa solusi dari luar, tetapi mengoptimalkan sumber daya yang telah dimiliki masyarakat.
KKN SEBAGAI RUANG BERBAGI DAN MENGUATKAN MASYARAKAT
Bagi KKN Kelompok 23 Universitas Mercu Buana Yogyakarta, kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kontribusi dalam mendukung potensi masyarakat Dusun Plaosan, khususnya dalam bidang peternakan. Pengetahuan yang diberikan diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk mencoba mengelola pakan secara lebih efisien, mandiri, dan berkelanjutan.
“Harapannya, setelah kegiatan ini masyarakat tidak hanya mengetahui apa itu silase, tetapi juga dapat melihat peluang pemanfaatan hijauan dan limbah pertanian di sekitar sebagai cadangan pakan ternak,” kata Fahar Raditya.
Lebih jauh, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan KKN tidak selalu diukur dari seberapa besar program yang dilaksanakan, tetapi juga dari seberapa jauh pengetahuan dan kepedulian yang dibagikan dapat meninggalkan manfaat bagi masyarakat. Ketika mahasiswa datang untuk belajar, masyarakat menerima untuk berbagi, dan keduanya bertemu dalam semangat saling membantu, maka KKN menjadi jembatan yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kehidupan nyata.
Melalui sosialisasi silase ini, KKN Kelompok 23 berharap masyarakat Dusun Plaosan dapat semakin percaya diri dalam mengelola sumber daya yang tersedia di lingkungannya. Sebuah langkah sederhana dalam mengawetkan pakan diharapkan dapat menjadi bagian dari langkah yang lebih besar menuju peternakan yang efisien, mandiri, dan berkelanjutan.
TENTANG KEGIATAN
Nama Kegiatan: Sosialisasi Pembuatan Silase Pakan Ternak
Tema: “Silase Berkualitas: Hemat Pakan, Hasil Maksimal!”
Penyelenggara: KKN Kelompok 23 Universitas Mercu Buana Yogyakarta
Penanggung Jawab: Fahar Raditya
Program Studi: Peternakan
Tempat: Dusun Plaosan, Desa Muneng, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah
Peserta: Bapak-bapak dan pemuda Dusun Plaosan
Metode: Sosialisasi dan ngobrol santai
Media: Modul Silase Berkualitas: Hemat Pakan, Hasil Maksimal!
KONTAK MEDIA
KKN Kelompok 23 – @PlaosanChronicles.23
Universitas Mercu Buana Yogyakarta
Dusun Plaosan, Desa Muneng, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang
Instagram: @PlaosanChronicles.23
TikTok: @PlaosanChronicles.23
Email: PlaosanChronicle@gmail.com
