Renungan Jumat Pagi
Alhamdulillah, setiap tarikan napas yang masih Allah anugerahkan merupakan nikmat yang tidak ternilai. Kebahagiaan, kesehatan, kesempatan beribadah, dan kemampuan menjalani aktivitas adalah karunia besar yang sering terlupakan. Pada saat yang sama, setiap ujian yang datang juga mengandung hikmah yang belum tentu langsung terlihat. Semua bergantung pada cara pandang seorang mukmin dalam menyikapi setiap ketetapan Allah dengan iman, syukur, sabar, dan tawakal.
Sering kali manusia mengira bahwa semua yang menyenangkan pasti merupakan anugerah, sedangkan semua yang menyakitkan pasti merupakan musibah. Padahal, pandangan seperti itu belum tentu benar menurut ukuran iman. Apa yang tampak sebagai nikmat bisa berubah menjadi petaka apabila menjauhkan seseorang dari Allah. Sebaliknya, sesuatu yang tampak sebagai musibah justru dapat menjadi jalan menuju keselamatan, kedewasaan, dan kemuliaan di sisi-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam menilai sesuatu. Firman-Nya:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).
Ayat ini mengajarkan bahwa penilaian manusia sering kali didasarkan pada perasaan sesaat, sedangkan Allah mengetahui seluruh akibat yang akan terjadi di masa depan. Karena itu, seorang mukmin hendaknya membangun keyakinan bahwa semua ketetapan Allah mengandung hikmah, sekalipun belum mampu dipahami saat ini.
Nikmat yang melimpah dapat berubah menjadi musibah apabila membuat seseorang lalai dari ibadah, sombong, meremehkan orang lain, atau tenggelam dalam kemaksiatan. Harta yang banyak, jabatan yang tinggi, ilmu yang luas, bahkan kesehatan yang prima dapat menjadi sebab kehancuran apabila tidak disyukuri dan digunakan di jalan yang diridhai Allah. Sebaliknya, kekurangan harta, sakit, kehilangan, atau kegagalan dapat menjadi anugerah apabila melahirkan kesabaran, memperbanyak doa, mendekatkan diri kepada Allah, serta membersihkan hati dari kesombongan.
Allah berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa hakikat anugerah bukan sekadar banyaknya nikmat, melainkan kemampuan untuk mensyukurinya. Syukur menjadikan nikmat semakin berkah, sedangkan kufur nikmat menjadikan karunia kehilangan nilai bahkan berubah menjadi sebab datangnya azab.
Di sisi lain, Allah juga memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar ketika menghadapi ujian.
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
Artinya:
“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.’ Mereka itulah yang memperoleh keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan bahwa setiap keadaan seorang mukmin mengandung kebaikan.
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Artinya:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika memperoleh kesenangan, ia bersyukur sehingga itu menjadi kebaikan baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar sehingga itu pun menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim).
Hadis ini menjadi pedoman hidup yang sangat indah. Seorang mukmin tidak pernah menjadi orang yang benar-benar rugi. Ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur. Ketika memperoleh ujian, ia bersabar. Dalam kedua keadaan itu, ia tetap mendapatkan pahala dan kedekatan kepada Allah.
Musibah juga menjadi sarana penghapus dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ، وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ، وَلَا حُزْنٍ، وَلَا أَذًى، وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
Artinya:
“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, maupun dukacita, bahkan hingga tertusuk duri, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu, janganlah terburu-buru menyimpulkan bahwa musibah adalah tanda kebencian Allah. Bisa jadi justru itulah bentuk kasih sayang-Nya agar seorang hamba kembali mengingat-Nya, memperbaiki amalnya, membersihkan dosanya, dan mengangkat derajatnya.
Hari ini, ketika kita masih diberi kesempatan bernapas, masih dapat tersenyum, masih mampu bersujud, masih memiliki keluarga, sahabat, dan kesempatan berbuat baik, maka itu adalah anugerah yang patut disyukuri. Jangan sampai nikmat tersebut berubah menjadi musibah karena kelalaian, kesombongan, atau kemaksiatan. Sebaliknya, apabila sedang menghadapi kesulitan, jangan berputus asa. Yakinlah bahwa Allah sedang mendidik, membersihkan, dan mempersiapkan sesuatu yang lebih baik bagi hamba-Nya yang tetap beriman.
Marilah kita memandang setiap peristiwa dengan mata hati yang diterangi iman. Jadikan syukur sebagai teman saat lapang dan sabar sebagai teman saat sempit. Dengan demikian, anugerah akan semakin membawa keberkahan, sedangkan musibah akan berubah menjadi jalan menuju kemuliaan. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mampu bersyukur ketika diberi nikmat, bersabar ketika diuji, bertawakal dalam setiap keadaan, serta senantiasa ridha terhadap seluruh ketetapan-Nya. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin. (Dr. H.Muhtadi Hairi,M.Pd)
