Puasa Ramadhan masih sepuluh hari lagi. Justru menurut literatur hadis seperti diriwayatkan Al Baihaqi, puasa yang dibagi tiga fase itu, sepuluh hari terakhir ini disebut sebagai tahap untuk memastikan keyakinan pada kewajiban dan janji Allah (imaanan wahtisaban) akan membebaskan mereka yang berpuasa, jika dijalankan dengan benar, dari hukuman neraka setelah fase kasih sayang dan ampunan.
Komitmen berpuasa itu setidaknya ditunjukkan dengan tak melewatkan momentum malam malam Ramadhan dengan ibadah di mesjid mesjid agar tak sungkan menagih janji Allah itu dan berlebaran dengan suasana jiwa yang baru.
Ada pula yang sudah mulai bersiap mudik ke tempat tempat asal dengan mengintai harga tiket transportasi sambil menghitung tabungan dan menyusun rencana.
Menurut beberapa riset mandiri, daya beli masyarakat Indonesia selama Ramadhan dan Lebaran dari tahun ke tahun menunjukkan tren peningkatan secara volume konsumsi (nominal), namun cenderung menurun secara riil (kualitas belanja) akibat tekanan inflasi dan penurunan pendapatan riil, terutama pada tahun 2024-2025.
Sepertinya, data ini bisa diartikan kalau di tahun 2026 ini dengan tekanan ekonomi yang masih sulit, keramaian di toko toko baju tak berarti nilai transaksi besar karena pengunjung yang selektif dan berhati berhati menghabiskan uang. Mungkin yang dulunya membeli baju untuk sholat IdulFitri, untuk halal bilhalal dan tambahan lain jika ada acara khusus sekarang hanya membeli satu set baju untuk semua acara.
Di Epicentrum Mal hari ini, Bunda Sinta M Iqbal berpesan pada limapuluh anak yatim yang beruntung mendapatkan voucher belanja senilai lima ratus ribu dari donatur amal agar membeli baju yang bagus tapi tidak sekadar untuk perayaan tapi bisa dipakai lama sebagai pengingat dan motivasi untuk tak lupa berbagi di masa depan setelah sukses. Meski sayangnya, program amal salah satu badan amal itu, mengajak anak anak yatim belanja lebaran ke mal untuk membahagiakan mereka namun di sisi lain niatan membeli perlengkapan lebaran yang bermanfaat itu harus sangat terbatas karena harga harga di pusat belanja seperti mal jauh lebih mahal dari toko toko busana yang memutar suara takbir di beberapa titik favorit karena tambahan pajak.
Jika tren ekonomi saat puasa dan lebaran bisa dianalisa, maka sebenarnya tak sulit menera tren pencapaian la allakum tattaqun (agar menjadi orang bertakwa) dalam skala masyarakat.
Dunia yang sedang dilanda krisis di banyak dimensi ini semoga bisa dihadapi dengan jiwa yang tenang. Pasrah karena menyerahkan segala urusan kepada Yang Maha Mengatur sambil meneruskan kebiasaan kebiasaan ibadah di bulan penuh berkah yang belum lagi berakhir ini.
Bukankah Allah tak butuh puasa dan sholat kita tapi karena kita yang bergantung kepada kedekatan jiwa kita padaNya agar tak guncang ketika ditimpa retorika dunia yang kian tak masuk akal. (Oleh : Zammi Suryadi Tim KM Mataram)
