Renungan Sabtu Pagi
Sering kali manusia merasa gelisah ketika harapan tidak segera menjadi kenyataan. Kita menginginkan sesuatu terjadi sesuai rencana, namun Allah menuliskan jalan yang berbeda. Padahal, setiap ketetapan-Nya lahir dari ilmu, hikmah, dan kasih sayang yang sempurna. Apa yang benar-benar menjadi bagian kita tidak akan pernah tertukar, dan apa yang bukan milik kita tidak akan mampu dipertahankan meskipun dikejar dengan seluruh tenaga.
Kalimat yang berbunyi, “Yang menjadi takdirmu akan menjadi milikmu, sekalipun dirimu tidak pernah memintanya,” mengandung makna yang dapat menjadi pengingat agar hati tidak berlebihan dalam mengejar dunia, sekaligus tidak mudah berputus asa ketika kehilangan sesuatu. Namun, perlu dipahami bahwa ungkapan tersebut bukanlah hadis Nabi ﷺ, melainkan sebuah nasihat yang sejalan dengan ajaran Islam selama dipahami secara benar. Islam mengajarkan keseimbangan antara berikhtiar sekuat tenaga dan berserah diri kepada ketentuan Allah setelah semua usaha dilakukan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا
“Dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat.” (QS. Al-Furqan: 2)
Ayat ini menjelaskan bahwa tidak ada satu pun yang terjadi secara kebetulan. Seluruh makhluk, rezeki, umur, kesehatan, kebahagiaan, ujian, bahkan setiap detik kehidupan manusia telah berada dalam ilmu Allah dan ditetapkan dengan ukuran yang paling sempurna. Tidak ada yang terlalu cepat dan tidak ada yang terlalu lambat menurut ketentuan-Nya.
Karena itu, seorang mukmin tidak akan mudah dikuasai rasa iri terhadap apa yang dimiliki orang lain. Ia yakin bahwa Allah membagikan rezeki dengan penuh keadilan dan hikmah. Bisa jadi sesuatu yang tampak indah di mata manusia justru menjadi sebab kebinasaan baginya, sementara sesuatu yang dianggap berat ternyata menjadi jalan menuju kemuliaan di sisi Allah.
Allah Ta’ala juga berfirman:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Betapa sering manusia baru menyadari hikmah suatu peristiwa setelah waktu berlalu. Ada pekerjaan yang gagal didapatkan, ternyata Allah menggantinya dengan pekerjaan yang lebih baik. Ada hubungan yang berakhir, ternyata Allah mempertemukan dengan pasangan yang lebih saleh. Ada kehilangan yang menyakitkan, namun justru menjadikan seseorang lebih dekat kepada Allah. Semua itu menunjukkan bahwa ilmu manusia sangat terbatas, sedangkan ilmu Allah meliputi segala sesuatu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia memperoleh kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran kebahagiaan seorang mukmin bukanlah banyaknya kenikmatan, melainkan kedekatannya kepada Allah dalam setiap keadaan. Saat lapang ia bersyukur, saat sempit ia bersabar. Dengan demikian, hidupnya selalu bernilai ibadah.
Meyakini takdir bukan berarti meninggalkan usaha. Islam memerintahkan umatnya bekerja, belajar, berdoa, dan memperbaiki diri. Setelah semua dilakukan, barulah hati bertawakal kepada Allah. Tawakal bukan alasan untuk bermalas-malasan, melainkan puncak dari ikhtiar yang disertai keyakinan penuh kepada Rabb semesta alam.
Rasulullah ﷺ bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Bersungguh-sungguhlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah lemah. Jika engkau tertimpa sesuatu, janganlah berkata, ‘Seandainya aku berbuat begini tentu akan menjadi begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah, ‘Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan.’ Karena ucapan ‘seandainya’ membuka pintu godaan setan.” (HR. Muslim)
Hadis ini menjadi pedoman hidup yang sangat lengkap. Pertama, kita diperintahkan berusaha. Kedua, kita diminta memohon pertolongan kepada Allah. Ketiga, kita dilarang menyerah. Keempat, ketika hasil tidak sesuai harapan, kita diajarkan menerima takdir tanpa tenggelam dalam penyesalan yang berlebihan.
Hati yang yakin kepada takdir akan lebih tenang menghadapi kehidupan. Ia tidak mudah sombong ketika berhasil, sebab menyadari bahwa semua merupakan karunia Allah. Ia juga tidak mudah putus asa ketika gagal, karena percaya bahwa Allah sedang menyiapkan kebaikan yang belum terlihat oleh pandangan manusia.
Sabar bukan berarti diam tanpa usaha, melainkan tetap berada di jalan yang benar meskipun ujian terasa berat. Tenang bukan berarti tidak memiliki masalah, tetapi mampu menjaga hati agar tetap percaya kepada janji Allah. Menjalani takdir bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar, melainkan menerima hasil dengan lapang dada setelah mengerahkan kemampuan terbaik.
Allah juga mengingatkan:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab Lauh Mahfuz sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 22–23)
Semoga Allah menghiasi hati kita dengan kesabaran ketika menghadapi ujian, memberikan ketenangan dalam menjalani setiap ketetapan-Nya, menguatkan langkah kita untuk terus berikhtiar dalam kebaikan, serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang ridha terhadap takdir-Nya. Sebab, apa yang telah Allah tetapkan untuk kita tidak akan pernah meleset, dan apa yang tidak ditakdirkan bagi kita tidak akan pernah menjadi milik kita. Tugas kita adalah terus beriman, beramal saleh, memperbanyak doa, menjaga keikhlasan, dan mempercayakan hasil akhirnya kepada Allah Yang Maha Bijaksana. (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
