Renungan Rabu Pagi.
Di tengah kehidupan yang penuh perubahan, manusia sering menggantungkan harapan kepada harta, jabatan, kekuatan, dan sesama manusia. Ketika semua itu berubah atau hilang, hati menjadi gelisah dan kecewa. Al-Qur’an mengajarkan bahwa sumber ketenangan sejati lahir dari keyakinan bahwa seluruh kerajaan langit dan bumi adalah milik Allah. Dialah Pemilik, Pengatur, Pelindung, dan Penolong yang tidak pernah berkurang kekuasaan-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala meneguhkan keimanan kaum mukmin melalui firman-Nya yang agung dalam Surah Al-Baqarah ayat 107:
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
“Tidakkah engkau mengetahui bahwa milik Allah kerajaan langit dan bumi? Dan tidak ada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.”
Ayat ini mengandung fondasi tauhid yang sangat kuat. Allah mengingatkan manusia agar memahami siapa sesungguhnya yang memiliki seluruh alam semesta. Langit yang luas tanpa tiang, bumi yang dihuni miliaran manusia, gunung-gunung yang menjulang, lautan yang membentang, seluruhnya berada dalam kekuasaan Allah. Tidak ada satu pun yang keluar dari pengaturan-Nya. Tidak ada satu pun kejadian yang luput dari ilmu-Nya. Segala sesuatu berjalan sesuai kehendak dan hikmah-Nya.
Sering kali manusia merasa kuat karena memiliki kekayaan. Sebagian merasa aman karena memiliki jabatan. Sebagian lagi merasa dihormati karena pengaruh dan kedudukan. Namun sejarah kehidupan mengajarkan bahwa semua itu hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat dicabut. Banyak orang kaya yang jatuh miskin. Banyak penguasa yang kehilangan kekuasaan. Banyak tokoh besar yang akhirnya dilupakan. Semua itu menunjukkan bahwa kekuasaan manusia bersifat sementara, sedangkan kekuasaan Allah bersifat abadi.
Allah berfirman:
تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Maha Suci Allah yang di tangan-Nya segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Al-Mulk: 1)
Ayat ini menjelaskan bahwa kerajaan yang sesungguhnya berada di tangan Allah. Kekuasaan manusia hanyalah bagian kecil yang diberikan untuk menguji bagaimana manusia menggunakan amanah tersebut. Oleh sebab itu, seorang mukmin tidak boleh tertipu oleh gemerlap dunia. Ia boleh memiliki harta, tetapi hatinya tidak boleh diperbudak oleh harta. Ia boleh memiliki jabatan, tetapi tidak boleh bergantung kepada jabatan. Ia boleh memiliki kekuatan, tetapi harus menyadari bahwa sumber segala kekuatan adalah Allah.
Ketika Allah berfirman bahwa tidak ada pelindung dan penolong selain Dia, bukan berarti manusia dilarang saling membantu. Islam justru memerintahkan tolong-menolong dalam kebaikan. Namun seorang mukmin harus memahami bahwa hakikat pertolongan berasal dari Allah. Manusia hanyalah perantara. Jika Allah tidak menghendaki, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberikan manfaat atau menolak mudarat.
Allah berfirman:
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ
“Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya.”
(QS. Yunus: 107)
Betapa banyak manusia yang kecewa karena terlalu menggantungkan harapan kepada sesama manusia. Ketika pertolongan yang diharapkan tidak datang, hatinya menjadi hancur. Sebaliknya, orang yang menggantungkan hatinya kepada Allah akan tetap tegar. Ia menyadari bahwa manusia memiliki keterbatasan, sedangkan Allah memiliki kekuasaan tanpa batas.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pelajaran yang sangat mendalam kepada Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ
“Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan dapat mencelakakanmu kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini mengajarkan bahwa hati seorang mukmin harus tertambat kepada Allah semata. Ketika keyakinan ini tumbuh, maka rasa takut kepada makhluk akan berkurang dan rasa percaya kepada Allah akan semakin kuat.
Namun bergantung kepada Allah bukan berarti meninggalkan usaha. Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Seorang petani tetap menanam benih sebelum berharap panen. Seorang pedagang tetap bekerja sebelum mengharapkan keuntungan. Seorang pelajar tetap belajar sebelum mengharapkan keberhasilan. Setelah seluruh usaha dilakukan, barulah hasilnya diserahkan kepada Allah dengan penuh kerelaan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.”
(HR. Tirmidzi)
Perhatikanlah burung dalam hadis tersebut. Burung tidak berdiam diri di sarangnya menunggu makanan datang. Ia terbang, berusaha, dan mencari rezeki. Namun hatinya tetap tunduk kepada ketetapan Allah. Itulah hakikat tawakal yang diajarkan Islam.
Keyakinan bahwa Allah menguasai seluruh alam juga melahirkan ketenangan hidup. Banyak kegelisahan muncul karena manusia merasa dirinya yang mengendalikan segala sesuatu. Ketika rencana tidak berjalan sesuai keinginan, ia panik. Ketika kehilangan sesuatu, ia putus asa. Padahal seorang mukmin mengetahui bahwa segala urusan berada dalam genggaman Allah.
Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan keperluannya.”
(QS. Ath-Thalaq: 3)
Ayat ini menjadi cahaya bagi hati yang sedang dilanda kesulitan. Tidak ada masalah yang terlalu besar bagi Allah. Tidak ada kesedihan yang terlalu berat bagi-Nya untuk diangkat. Tidak ada jalan yang terlalu buntu bagi-Nya untuk dibukakan. Apa yang tampak mustahil di mata manusia sangat mudah bagi Allah Yang Maha Kuasa.
Karena itu, seorang mukmin hendaknya menjadikan Allah sebagai tempat bergantung dalam setiap keadaan. Ketika lapang ia bersyukur. Ketika sempit ia bersabar. Ketika berhasil ia tidak sombong. Ketika gagal ia tidak berputus asa. Ia memahami bahwa seluruh perjalanan hidup berada dalam pengawasan Rabb semesta alam.
QS Al-Baqarah ayat 107 mengajarkan bahwa jangan pernah menggantungkan hati kepada sesuatu yang fana. Harta akan ditinggalkan. Jabatan akan berakhir. Popularitas akan memudar. Kekuatan fisik akan melemah. Namun Allah tetap hidup dan kekal selama-lamanya. Barang siapa menjadikan Allah sebagai sandaran hidupnya, maka ia akan memperoleh ketenangan yang tidak dapat dibeli dengan kekayaan apa pun.
Marilah kita memperbarui tauhid dalam hati, memperkuat tawakal dalam jiwa, dan menanamkan keyakinan bahwa seluruh kerajaan langit dan bumi adalah milik Allah. Ketika keyakinan itu hidup dalam dada, kegelisahan akan berubah menjadi ketenangan, ketakutan akan berubah menjadi harapan, dan keputusasaan akan berubah menjadi optimisme. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang hanya bergantung kepada-Nya, hanya berharap kepada-Nya, dan hanya memohon pertolongan kepada-Nya hingga kelak kembali kepada kerajaan-Nya yang kekal dan abadi. Aamiin. (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
