Mataram- Menyulam selama ini identik dengan benang yang dirangkai menjadi aneka motif seperti bunga atau binatang. Namun berbeda dengan pelatihan kali ini, teknik menyulam dilakukan menggunakan pita yang dibentuk menjadi sulaman bunga nan cantik dan bernilai jual tinggi.
Kegiatan menyulam pita tersebut digelar Kamis, 5 Februari 2026, bertempat di PLUT NTB, dan diikuti oleh sekitar dua puluh peserta yang mayoritas merupakan kaum hawa dan ibu-ibu. Pelatihan ini dipandu oleh Ibu Yuni, instruktur asal Kediri, Lombok Barat, yang juga dikenal sebagai produsen pakaian tenun NTB sekaligus pelaku kerajinan rajut dan sulam pita.
Dalam pelatihan tersebut, para peserta diajarkan teknik sulam pita pada tote bag dengan memulai dari pola dasar. Menurut Ibu Yuni, dari satu pola dasar tersebut peserta dapat mengembangkan berbagai bentuk bunga seperti mawar, bunga matahari, kelopak bunga hingga daun, sesuai kreativitas masing-masing.
“Sekarang ini masih pola dasar dulu, tapi dari pola dasar itu bisa dibentuk bermacam-macam bunga. Jadi ibu-ibu dan adik-adik di sini bebas berekspresi,” ujar Ibu Yuni.
Hasil sulaman yang dibuat peserta pun dapat langsung dibawa pulang. Selain sebagai media latihan, tote bag dipilih karena memiliki fungsi ganda, baik sebagai tas belanja ramah lingkungan maupun produk siap jual.
Ibu Yuni menambahkan, kerajinan sulam pita sudah memiliki pasar tersendiri. Tidak hanya diaplikasikan pada tote bag, sulam pita juga bisa diterapkan pada jilbab maupun detail busana. Untuk satu buah tote bag sulam pita, harga jualnya berkisar antara Rp125.000 hingga Rp175.000, tergantung motif dan tingkat kerumitan.
Salah satu peserta pelatihan, dr. Oksi Cahya Wahyuni, Direktur Rumah Sakit Mandalika, mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut meski baru pertama kali mencoba sulam pita.
“Serius banget ini Pak, soalnya menegangkan,” ujarnya sambil tertawa. “Biasanya pegang jarum suntik, sekarang jarum sama pita.”
dr. Oksi menilai pelatihan ini memiliki peluang besar sebagai usaha di bidang industri kriya. Menurutnya, keterampilan seperti sulam pita dapat menjadi variasi skill yang menjanjikan, terutama bagi perempuan NTB untuk mengisi waktu luang sekaligus meningkatkan produktivitas.
“Industri kriya itu cukup menjanjikan. Skill seperti ini bagus untuk dikembangkan dan bisa jadi peluang usaha ke depan,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi keberadaan PLUT NTB sebagai wadah peningkatan keterampilan masyarakat, mulai dari seni kriya, kuliner, hingga rencana pelatihan kecantikan di masa mendatang.
Pelatihan menyulam pita ini diharapkan mampu mendorong lahirnya produk kreatif lokal sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi perempuan di Nusa Tenggara Barat. (Tim PPID Diskop UKM NTB)
