Mataram — Suasana teduh, nyaman, dan penuh kebahagiaan menyelimuti acara Walimatussafar Haji yang digelar oleh calon jamaah haji Muhammad Haszairyn bersama istri tercinta, Ainun Jariah, di kawasan Perumahan Seraya Mutiara, Jalan Banda Seraya, Pagutan Barat, Kota Mataram, Sabtu (18/4/2026).
Acara yang berlangsung khidmat tersebut menjadi momentum penuh haru sekaligus doa bersama bagi kedua calon tamu Allah yang InsyaAllah akan segera berangkat ke Tanah Suci dalam keadaan sehat walafiat. Dijadwalkan, keduanya akan memasuki Asrama Haji NTB pada 3 Mei 2026 sebagai bagian dari rangkaian keberangkatan menuju Tanah Suci.
Menghadirkan penceramah muda inspiratif asal Kabupaten Lombok Utara, Al Ustadz H. Muhammad Ulil Huda, S.Hi., Lc., CTNLP — yang akrab disapa Ustadz Ulil Huda atau Ustadz Milenial — acara ini semakin bermakna dengan tausiyah yang menyentuh hati. Sosok dai yang dikenal luas melalui akun Instagram ustadzmilenialofficial dan kanal YouTube Ustadz Milenial Official tersebut menyampaikan pesan-pesan mendalam tentang hakikat ibadah haji.
Dalam ceramahnya, Ustadz Ulil Huda menegaskan bahwa ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki dimensi spiritual luar biasa. Ia mengisahkan kembali dialog antara Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam tentang rukun Islam, di mana haji menjadi puncak ibadah bagi mereka yang mampu.
“Ibadah haji bukan perjalanan biasa. Ini adalah perjalanan cinta menuju Sang Maha Cinta,” ungkapnya dengan penuh penghayatan.
Ia menggambarkan betapa haji adalah panggilan langsung dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba-Nya. Layaknya seorang kekasih yang rindu pertemuan, seorang hamba yang terpanggil akan meninggalkan segala kesibukan demi memenuhi undangan Ilahi.
Dalam suasana penuh kekhusyukan, Ustadz Ulil juga menjelaskan makna talbiyah — “Labbaik Allahumma labbaik” — sebagai bentuk jawaban seorang hamba atas panggilan Allah. Ucapan tersebut mencerminkan kerendahan hati manusia yang datang dari berbagai penjuru dunia untuk menghadap Sang Maha Agung.
Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya menjaga sikap selama menjalankan ibadah haji. Mengacu pada firman Allah, ia menekankan tiga larangan utama: tidak berkata kotor (rafats), tidak berbuat maksiat (fusuq), dan tidak berdebat (jidal).
“Semua ucapan jamaah haji berpotensi menjadi doa yang dikabulkan. Maka jagalah lisan, perbuatan, dan hati,” pesannya.
Ia juga menambahkan bahwa keutamaan berdoa di Tanah Suci memiliki keistimewaan luar biasa, di mana doa di Masjidil Haram dilipatgandakan hingga seratus ribu kali, dan di Masjid Nabawi hingga seribu kali lipat.
Acara Walimatussafar ini pun ditutup dengan doa bersama, penuh harap agar Muhammad Haszairyn dan Ainun Jariah diberikan kelancaran, kesehatan, serta menjadi haji yang mabrur dan mabruroh.
Perjalanan suci ini bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan perjalanan jiwa menuju keabadian cinta Ilahi. Sebuah langkah mulia yang diiringi doa dan harapan dari keluarga serta masyarakat sekitar.
(Tim KM Abdi Mataram)
