MATARAM — Tim PPID Dinas Koperasi UKM Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Asrobi Abdihi turun langsung melakukan monitoring dan peninjauan kondisi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) Abian Tubuh dan KDKMP Babakan, Kota Mataram, Kamis (17/9/2026).
Kegiatan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung kesiapan sarana, perkembangan usaha, ketersediaan barang, serta berbagai kendala yang dihadapi koperasi dalam menjalankan aktivitasnya di tingkat kelurahan.
Di KDKMP Abian Tubuh, Tim PPID Diskop UKM NTB, Asrobi Abdihi, diterima Kepala Lingkungan Abian Tubuh sekaligus Ketua KDKMP Merah Putih Abian Tubuh, Ahmad Lutfi, bersama Babinsa dan dua orang pendamping koperasi.
Ahmad Lutfi menjelaskan, secara fisik KDKMP Abian Tubuh saat ini telah memiliki berbagai fasilitas pendukung. Etalase dan pendingin ruangan (AC) telah tersedia dan terpasang. Selain itu, koperasi juga telah menerima dukungan kendaraan berupa satu unit truk dan dua unit kendaraan roda tiga.
“Alhamdulillah, sampai saat ini secara fisik KDKMP Abian Tubuh sudah terbangun lengkap. Etalase, AC dan kendaraan juga sudah tersedia,” ujar Ahmad Lutfi.
Meski demikian, ia mengungkapkan masih terdapat kendala pada ketersediaan barang yang akan dijual. Koperasi saat ini masih menunggu proses verifikasi dari Pemerintah Kota Mataram terkait kelayakan koperasi sebelum pasokan barang operasional dapat masuk secara lebih optimal.
Menurutnya, KDKMP Abian Tubuh sebelumnya telah menjalin kerja sama dengan Perum Bulog dan ID FOOD untuk pengadaan sejumlah kebutuhan pokok, seperti minyak goreng dan beras SPHP.
Namun, pengambilan barang masih terbatas mengikuti kebijakan dan ketersediaan stok dari pemasok. Dalam kondisi tertentu, koperasi mengambil barang ketika stok tersedia.
“Kebutuhan warga cukup tinggi, terutama minyak dan gula, karena di sini banyak UMKM yang menggunakannya. Ketika barang datang, biasanya cepat habis,” katanya.
Ia menyebutkan, KDKMP Abian Tubuh telah beberapa kali melakukan pengambilan barang dari Bulog dan ID FOOD, meskipun frekuensinya saat ini masih terbatas sekitar satu kali dalam sebulan.
Untuk komoditas LPG, koperasi juga masih menghadapi kendala. Meskipun perizinan dari tingkat pusat telah memperoleh persetujuan, kerja sama dengan agen LPG setempat belum dapat berjalan karena masih berkaitan dengan kesiapan modal dan persyaratan pengadaan.
“Perizinan dari pusat sebenarnya sudah disetujui. Namun, kesiapan untuk bekerja sama dengan pihak LPG atau Pertamina setempat masih menjadi kendala, terutama terkait modal dan persyaratan,” jelasnya.
Dari sisi permodalan, KDKMP Abian Tubuh saat ini mengandalkan simpanan anggota. Simpanan pokok tercatat sekitar Rp9 juta, sedangkan simpanan wajib sekitar Rp3 juta. Setiap anggota dikenakan simpanan wajib Rp10 ribu per bulan dan simpanan pokok sebesar Rp100 ribu.
Jumlah anggota saat ini telah mencapai lebih dari 100 orang, termasuk pengurus dan pengawas. Untuk memperluas keanggotaan, pengurus melakukan pendekatan melalui kepala lingkungan, ketua RT, kader dan tokoh masyarakat.
Ahmad Lutfi mengatakan, salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah membangun kepercayaan masyarakat. Kondisi koperasi yang belum beroperasi secara maksimal membuat sebagian masyarakat masih menunggu perkembangan sebelum bergabung menjadi anggota.
“Kami terus memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa koperasi ini dibangun untuk mengembangkan usaha secara gotong royong, termasuk mendukung usaha mikro, kecil dan menengah,” katanya.
KDKMP Abian Tubuh juga telah melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) untuk tahun buku 2025 pada 2026. Namun, karena kegiatan usaha belum berjalan maksimal, koperasi belum dapat memberikan hasil usaha kepada anggota.
Ke depan, pengurus berharap penerima manfaat berbagai program bantuan pemerintah dapat menjadi bagian dari keanggotaan KDKMP. Menurut Ahmad Lutfi, koperasi diharapkan dapat menjadi wadah untuk mendukung penerima manfaat, baik dalam penyediaan bahan baku maupun pengembangan dan pemasaran usaha.
Hal tersebut dinilai relevan dengan kondisi Abian Tubuh yang memiliki cukup banyak pelaku UMKM, seperti usaha tahu, tempe, kerupuk dan berbagai usaha makanan lainnya.
Sejumlah pelaku UMKM bahkan telah memanfaatkan koperasi untuk memperoleh kebutuhan produksi, seperti gula dan minyak goreng. Harga yang lebih terjangkau menjadi salah satu daya tarik bagi pelaku usaha.
“Kalau koperasi sudah berjalan dan barang selalu tersedia, saya optimistis masyarakat akan semakin banyak yang tertarik menjadi anggota,” ujarnya.
KDKMP Babakan Hadapi Kondisi Serupa
Sementara itu, hasil peninjauan Tim PPID Diskop UKM NTB di KDKMP Babakan Kota Mataram menunjukkan kondisi yang relatif serupa. Koperasi masih menghadapi tantangan dalam mengoptimalkan kegiatan usaha, terutama berkaitan dengan ketersediaan barang, permodalan, operasional dan membangun kepercayaan masyarakat.
Monitoring lapangan tersebut menjadi bagian penting dalam memperoleh gambaran faktual mengenai perkembangan KDKMP di Kota Mataram sekaligus mengidentifikasi berbagai kebutuhan dan kendala yang perlu mendapatkan perhatian.
Melalui monitoring dan evaluasi secara langsung, diharapkan keberadaan KDKMP tidak hanya memenuhi aspek fisik dan kelembagaan, tetapi juga mampu berkembang menjadi wadah ekonomi masyarakat yang aktif, produktif dan memberikan manfaat bagi anggota serta pelaku UMKM di lingkungan masing-masing. (Tim PPID Diskop UKM NTB)
