Di zaman di mana jempol lebih banyak ditekan daripada kaki yang melangkah ke bilik suara, fenomena anak muda yang “melek politik” namun tampak “apatis” menjadi paradoks cukup nyata. Menurut berita Detik “Merangsang Minat Anak Muda Bandung Melek Politik Jelang Pemilu 2024”, kaum milenial dan Gen Z memang diprediksi akan mendominasi suara dalam Pemilu 2024 namun masih banyak yang acuh terhadap isu politik di kalangan mereka.
Lebih lanjut, kegiatan seperti #DemiIndonesia di Surabaya digelar oleh KPU Jatim dengan harapan agar literasi demokrasi bagi anak muda makin baik dan menghindari sikap apatis.
Jadi, kita bisa melihat: ada kesadaran bahwa “anak muda harus terlibat”, tapi kenyataannya banyak yang tak bergerak lebih jauh dari sekadar like, share, retweet. Pertanyaannya: mengapa gap antara melek dan aksi ini masih tetap ada?
“Melek Politik” Kenapa Anak Muda Terlihat Peduli
Generasi muda saat ini memiliki posisi demografis yang sangat penting dalam politik Indonesia. Sebuah kolom Detik menyebut bahwa pemilih milenial+Gen Z diperkirakan mencapai 56,45 {066c5e27c046ccad1da8686acefeb533f867f6b66191ea97f3a9b5263a020c41} dari total DPT pada Pemilu 2024.
Selain itu, media dan lembaga politik sendiri telah menyadari bahwa menyasar generasi muda adalah kunci. Sebagai contoh, program ‘SQUAD Dewan: Suara Kita untuk Demokrasi’ di Jawa Timur menyasar siswa SMA/SMK agar memahami lembaga legislatif dan proses demokrasi — demi menghindari generasi yang hanya “menonton” politik, bukan “bermain” di dalamnya.
Dari sisi motivasi, antara lainnya: anak muda punya akses teknologi dan media sosial yang tinggi, sehingga isu politik juga lebih mudah dijangkau mereka tentang kebijakan, pemerintahan, hingga figur publik (baik positif maupun negatif). Sebuah kolom Detik “Pendidikan Politik Gaya Baru bagi Gen Z” menyebut bahwa karakter Gen Z berbeda: lebih digital, lebih terbiasa dengan perubahan, dan punya potensi besar bila diberi ruang.
Dengan demikian, wajar jika kita menyimpulkan bahwa “kesadaran politik” di kalangan anak muda memang sedang tumbuh bahkan mungkin tumbuh cepat.
Tetapi Apatis, Kenapa Aksi Nyata Masih Minim
Namun demikian, muncul banyak tanda bahwa meskipun “melek“, partisipasi politik anak muda dalam ranah yang lebih dalam masih terbatas. Contoh konkret: program literasi seperti #DemiIndonesia (Surabaya) yang digelar agar anak muda “tidak apatis” terhadap politik.
Juga di Bandung, Wakil Ketua DPRD Kota Bandung menyampaikan bahwa masih banyak anak muda yang apatis terhadap politik dan ia mendorong agar kaum muda menyempatkan diri memilih.
Analisis yang lebih sistematis dalam kolom Detik “Komitmen Politik Mewujudkan Generasi Emas” menyebut bahwa meskipun potensi besar, generasi muda menghadapi ancaman seperti politik yang masih dijalankan secara pragmatis, figur yang kurang mewakili, dan sistem politik yang terasa jauh dari bahasa mereka.
Beberapa faktor yang bisa kita identifikasi sebagai penyebabnya:
Skeptisisme terhadap institusi: Banyak anak muda merasa partai politik, pemilu, dan proses politik “tidak menarik”, penuh politik uang atau permainan elit.
Kesenjangan antara konsumsi dan partisipasi: Seringkali anak muda aktif di media social komentar, like, share namun belum masuk ke partisipasi formal seperti relawan, partai, atau aktivitas keorganisasian politik. Kolom Detik “Anak Muda dan ‘Political Engagement’ dalam Survei” mencatat bahwa banyak survei menunjukkan bahwa partisipasi yang dalam masih rendah.
Kurangnya jalur partisipasi yang ramah muda: Sistem politik formal dan institusional cenderung kaku dan kurang “menarik” bagi generasi muda yang terbiasa dengan kecepatan dan kreativitas.
Prioritas dan isu yang berbeda: Anak muda mungkin lebih tertarik isu ekonomi, sosial, lingkungan ketimbang politik tradisional sehingga jika partai atau kampanye politik tak menyentuh isu-isu tersebut, antusiasme bisa rendah.
Jembatan antara Melek dan Aksi – Apa yang Perlu Dilakukan
Karena gap ini nyata, maka bagaimana supaya anak muda yang “melek” itu bisa benar-benar “bertindak”? Ada beberapa strategi yang bisa dimunculkan:
- Pendidikan politik yang relevan dan kreatif: Edukasi demokrasi tidak boleh monoton; seperti program SQUAD Dewan yang memakai pendekatan interaktif untuk pelajar.
- Menghadirkan jalur partisipasi yang mudah diakses: Partai politik, organisasi masyarakat, relawan kampanye harus membuka pintu yang lebih ramah, serta mempermudah anak muda untuk masuk tanpa harus “terlalu lama nunggu”. Kolom “Mendorong Anak Muda Berpolitik” di Detik mengatakan bahwa partai tetap adalah tempat yang potensial namun sering tidak dilirik oleh anak muda.
- Menautkan isu politik dengan hidup sehari-hari anak muda: Politik tidak hanya soal pemilu dan kursi, tetapi soal pekerjaan, pendidikan, teknologi, media sosial, dan masa depan mereka. Ketika politik terasa “untukku”, maka partisipasi bisa meningkat. Kolom “Gelanggang Politik Muda Pasca Putusan 0{066c5e27c046ccad1da8686acefeb533f867f6b66191ea97f3a9b5263a020c41} Threshold” menyebut bahwa dengan aturan baru politik, anak muda punya kesempatan besar untuk berkontribusi.
- Memanfaatkan media sosial sebagai jembatan ke aksi nyata: Anak muda sudah banyak di ranah digital—campaign yang baik bisa memanfaatkan kanal ini untuk mengajak aksi konkret: ikut debat publik, menjadi relawan, ikut diskusi publik, ke TPS, atau bahkan maju sebagai calon generasi muda.
- Membangun representasi yang nyata: Anak muda perlu melihat tokoh politik muda yang relevan dan isu yang benar-benar mereka rasakan. Dengan melihat model yang nyata, mereka bisa lebih termotivasi untuk terlibat. Kolom “Gibran dan Ilusi Representasi Politik Anak Muda” menyoroti bahwa simbol politik muda saja tidak cukup tanpa substansi isu.
Mengapa Ini Penting – Dampak bagi Demokrasi dan Masa Depan
Jika anak muda yang melek politik namun tetap apatis, maka potensi besar bonus demografi bisa menjadi sia-sia. Sebaliknya, jika mereka aktif secara politik, implikasinya akan besar: keputusan politik akan lebih representatif, kebijakan lebih responsif terhadap kebutuhan generasi sekarang dan mendatang, dan demokrasi bisa lebih dinamis.
Menurut kolom Detik “Anak Muda dalam Pusaran Demokrasi Digital”, pemanfaatan bonus demografi akan mengalami hambatan jika sistem demokrasi tidak kuat.
Dengan banyaknya suara muda, maka ini kesempatan bagi “politik untuk kita” dari “politik untuk mereka”. Anak muda bukan hanya penonton, tetapi bisa menjadi aktor perubahan. Jika mereka memilih untuk diam, maka suara mereka bisa digantikan atau diabaikan dan konsekuensinya akan dirasakan oleh semua generasi.
Selain itu, bagi institusi politik dan negara, penting untuk menganggap kelompok ini serius bukan hanya sebagai potensi suara, tetapi sebagai pelaku yang punya hak dan kemampuan berkontribusi.
Jadi, teman-teman Generasi Z, milenial: apakah kita benar-benar “melek politik”? Ya dalam arti bahwa banyak yang mulai peduli, mempertanyakan, mengikuti isu. Tetapi kalau pertanyaannya: “Apakah kita aktif, terlibat, membuat dampak nyata?”, jawabannya: masih banyak yang belum.
Kini saatnya membuka jalan dari kesadaran menuju aksi. Kita bisa memulainya dari hal kecil: ikut diskusi kampus atau komunitas tentang politik, menjadi relawan di suatu acara pemilu, hadir di bilik suara dengan penuh kesadaran, atau bahkan mengajak teman-teman kita untuk peduli. Kita bisa menggunakan media sosial tidak hanya untuk komentar atau tonton-tonton, tapi untuk mendorong perubahan nyata.
Kalau bukan kita, siapa? Kalau bukan sekarang, kapan? Anak muda punya energi, teknologi, kreativitas tinggal bagaimana kita menggunakan semuanya untuk ikut membangun bangsa ini. Agar suara kita tidak hanya terdengar, tetapi juga terwakili dan berdampak.
Yuk, jadikan politik bukan hanya tentang “mereka di atas panggung”, tetapi kita di lapangan.
Disusun oleh : Helma elysia ( 240301079 ) PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM
Daftar Sumber
“Merangsang Minat Anak Muda Bandung Melek Politik Jelang Pemilu 2024” – DetikJabar, 17 Mar 2023.
“Ketua KPU Jatim Harap #Demi Indonesia Membuat Anak Muda Tak Apatis Politik” – DetikJatim, 5 Feb 2024.
“Pendidikan Politik Gaya Baru bagi Gen Z” – DetikNews, 6 Dec 2023.
“Pemuda, Politik dan Era Akselerasi” – DetikNews, 27 Oct 2023.
“SQUAD Dewan, Ali Kuncoro Ajak GenZ Melek Politik-Aktif Berdemokrasi” – DetikJatim, 21 Aug 2025.
“Komitmen Politik Mewujudkan Generasi Emas” – DetikNews, 13 Jan 2025.
“Anak Muda dan ‘Political Engagement’ dalam Survei” – DetikNews, 4 Jan 2024.
“Gelanggang Politik Muda Pasca Putusan 0{066c5e27c046ccad1da8686acefeb533f867f6b66191ea97f3a9b5263a020c41} Threshold” – DetikNews, 3 Jan 2025.
“Gibran dan Ilusi Representasi Politik Anak Muda” – DetikNews, 29 Oct 2023.
