
Sejak menghayalkannya agar menjadi sebuah tulisan seperti yang Anda baca sekarang, proses merenungkannya, ternyata jauh lebih sulit.
Karena seketika melesatkan sebuah pertanyaan yang sebenarnya tak sanggup saya jawab selain membagi perenungan itu kepada Anda dengan modal pengetahuan menulis yang apa adanya tapi tidak seadanya.
Pertanyaan itu muncul ketika secara acak informasi tentang Palestina muncul berganti ganti antara persiapan wukuf jutaan orang jamaah haji di Arafah.
Gambaran lautan manusia yang sedang memuncaki ritual penghambaan kepada Alloh seperti kontras dengan dunia yang mereka tinggalkan dibelakangnya.
Adapula imajinasi tentang berkumpulnya manusia manusia paling akhir dalam episode epic tentang kembalinya kehidupan pada rancangan awal seluruh alam semesta pada tujuannya yang memilah dan memilih mereka yang bersama kebenaran hingga akhir.
Bahkan tak seorangpun dalam lautan manusia yang sedang berhaji itu berani menjamin dirinya sendiri sebagai orang yang selamat kecuali karena pertolongan Alloh.
Maka penderitaan panjang orang Palestina, diamnya negara negara Arab ditengah menggilanya negara negara pengendali dunia nampak bak potongan potongan sketsa di panggung peradaban. Hanya saja, dalam epilog nanti, tak ada lagi penonton seperti sekarang yang separuhnya sudah meninggalkan gedung pertunjukan sementara sisanya menikmati dengan emosi yang hancur lebur dan sisanya lagi tertawa tawa sambil makan makan di balkon balkon paling atas. Tuhan menyaksikan sendiri karya dan kreasiNya memasuki babak akhir tepat seperti yang ditulisNya di lembaran takdir dan nasib alam semesta.
Dalam penantian perang nuklir, runtuhnya teknologi dan usainya kemanusiaan, mungkin saja inilah bentuk qurban sesungguhnya orang Palestina. Sementara kita yang kerap terjebak dalam perspektif duniawi, seluruh penderitaan orang Palestina cuma serupa korban kezhaliman rezim Firaun era paling modern yang dipimpin Israel, Amerika dan sekutunya (negara negara Arab) yang mati kutu. (Penulis – Jamie D)
