Mataram – Rencana kenaikan biaya University of Mataram English Proficiency Test (UMEPT)/TOEFL dari Rp25.000 menjadi Rp75.000 per tes menuai tanggapan dari kalangan mahasiswa.
Salah satu respons datang dari Hendra Noval Gunawan, President Animal Science English Community (ASEC) 2026, yang menilai kebijakan tersebut belum tepat apabila benar-benar diterapkan.
Menurut Hendra, kenaikan biaya hingga tiga kali lipat dinilai tidak sebanding dengan kualitas fasilitas yang digunakan selama pelaksanaan tes. Ia menyoroti masih adanya kendala teknis yang kerap dialami peserta, khususnya pada sesi listening.
“Apabila isu kenaikan biaya tes TOEFL ini benar akan diterapkan, saya menilai kebijakan tersebut kurang tepat. Fasilitas yang tersedia masih perlu dibenahi. Contoh yang sering dikeluhkan adalah kualitas speaker yang kurang jelas sehingga mengganggu peserta dalam menjawab soal listening,” ujar Hendra.
Selain persoalan fasilitas, Hendra juga menilai kebijakan tersebut berpotensi menambah beban ekonomi mahasiswa. Menurutnya, banyak mahasiswa yang telah menghadapi berbagai pengeluaran akademik sehingga kenaikan biaya tes dapat menjadi kendala bagi mereka yang memiliki keterbatasan finansial.
“Tidak semua mahasiswa memiliki kondisi ekonomi yang sama. Kenaikan biaya ini dikhawatirkan akan semakin membebani mahasiswa yang harus memenuhi berbagai kebutuhan akademik lainnya,” tambahnya.
Hendra berharap pihak Universitas Mataram dapat mempertimbangkan kembali rencana tersebut dengan mengedepankan peningkatan kualitas fasilitas dan pelayanan sebelum melakukan penyesuaian tarif. Ia juga mendorong adanya dialog antara pihak universitas dan mahasiswa agar kebijakan yang diambil dapat mempertimbangkan aspirasi seluruh pihak.
