Renungan Senin Pagi
Sering kali seseorang merasa kecil ketika berada di tengah orang-orang yang lebih berilmu, lebih berpengalaman, lebih saleh, atau lebih berhasil. Perasaan minder itu adalah sesuatu yang manusiawi. Namun, bagi seorang mukmin, keadaan tersebut seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman terhadap harga diri, melainkan sebagai kesempatan emas untuk belajar, memperbaiki diri, dan terus bertumbuh menuju ridha Allah. Islam mengajarkan bahwa kemuliaan bukanlah karena merasa paling hebat, melainkan karena kerendahan hati untuk terus mencari ilmu, menerima nasihat, dan memperbaiki amal hingga akhir hayat.
Dalam kehidupan, seseorang akan tumbuh sesuai dengan lingkungan yang mengelilinginya. Apabila ia berada di tengah orang-orang yang mencintai ilmu, gemar beribadah, berakhlak mulia, serta berlomba dalam kebaikan, maka lambat laun ia akan terdorong untuk mengikuti kebiasaan baik tersebut. Sebaliknya, apabila seseorang merasa cukup dengan dirinya sendiri, enggan belajar dari orang lain, dan selalu ingin menjadi yang paling menonjol, maka sesungguhnya ia sedang menghambat pertumbuhan dirinya sendiri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Firman-Nya:
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, ‘Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu,’ maka berdirilah. Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11).
Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang memiliki ilmu memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Oleh sebab itu, berada di tengah orang-orang yang lebih berilmu bukanlah sesuatu yang memalukan, melainkan kesempatan agar kita ikut memperoleh keberkahan ilmu dan termotivasi untuk terus belajar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan motivasi yang sangat besar kepada setiap muslim agar senantiasa menuntut ilmu.
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah).
Hadis ini menegaskan bahwa proses belajar tidak mengenal usia, jabatan, maupun status sosial. Selama hayat masih dikandung badan, seorang muslim dituntut untuk terus memperbaiki pemahamannya terhadap agama maupun ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan.
Sikap rendah hati merupakan kunci utama agar seseorang dapat mengambil manfaat dari orang-orang yang lebih baik darinya. Kesombongan justru menjadi penghalang datangnya ilmu. Orang yang merasa dirinya paling pintar akan sulit menerima nasihat. Sebaliknya, orang yang menyadari kekurangannya akan selalu haus akan ilmu dan terbuka terhadap setiap pelajaran yang Allah hadirkan melalui siapa pun.
Allah juga mengingatkan bahwa di atas setiap orang yang berilmu masih ada yang lebih berilmu.
﴿ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ ﴾
“Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan masih ada yang lebih mengetahui.” (QS. Yusuf: 76).
Ayat ini mengajarkan agar manusia tidak mudah berbangga diri dengan ilmu yang dimiliki. Seluas apa pun pengetahuan seseorang, masih ada orang lain yang lebih memahami, dan di atas semuanya Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).
Hadis ini memberikan kabar gembira bahwa setiap langkah yang ditempuh untuk belajar, menghadiri majelis ilmu, membaca buku, mendengarkan nasihat, ataupun berdiskusi dengan orang-orang saleh merupakan jalan yang bernilai ibadah dan menjadi sebab dimudahkannya jalan menuju surga.
Karena itu, janganlah merasa rendah ketika berada di tengah orang-orang hebat. Jadikan mereka sebagai sumber inspirasi, bukan sebagai alasan untuk iri atau berkecil hati. Lihatlah kelebihan mereka sebagai motivasi untuk memperbaiki diri. Bertanyalah ketika tidak memahami, dengarkan ketika mereka memberikan nasihat, dan syukurilah kesempatan yang Allah berikan untuk berada dalam lingkungan yang penuh ilmu dan kebaikan.
Orang-orang saleh terdahulu tidak pernah malu belajar kepada siapa pun. Mereka rela menempuh perjalanan yang sangat jauh hanya demi memperoleh satu hadis. Mereka tidak merasa gengsi duduk sebagai murid, meskipun telah menjadi ulama besar. Kerendahan hati itulah yang menjadikan ilmu mereka terus bertambah dan keberkahannya dirasakan oleh umat hingga sekarang.
Pada akhirnya, tujuan hidup seorang mukmin bukanlah menjadi orang yang paling dipuji manusia, melainkan menjadi hamba yang terus bertumbuh dalam iman, ilmu, dan amal saleh. Setiap hari hendaknya menjadi kesempatan untuk menjadi lebih baik daripada hari sebelumnya. Selama hati tetap rendah, pikiran tetap terbuka, dan niat tetap ikhlas karena Allah, maka setiap perjumpaan dengan orang-orang yang lebih hebat akan menjadi jalan menuju kematangan diri dan semakin dekat kepada-Nya. Semoga Allah menghimpunkan kita bersama orang-orang berilmu, menganugerahkan hati yang tawadhu, memudahkan langkah kita dalam menuntut ilmu, serta menjadikan setiap ilmu yang dipelajari sebagai cahaya yang menerangi kehidupan di dunia dan mengantarkan kepada kebahagiaan di akhirat. Aamiin. (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
