Renungan Selasa Pagi
Manusia sering mencari kebahagiaan jauh ke luar dirinya, padahal kunci ketenangan ada pada kedekatan kepada Allah, perawatan diri, dan makna hidup yang seimbang antara ibadah, kesehatan, serta hubungan sosial yang baik. Ketika seseorang mencintai hidupnya dengan cara yang benar, ia akan menemukan bahwa setiap aktivitas harian dapat menjadi jalan menuju keberkahan, ketenteraman, dan keselamatan dunia akhirat yang hakiki dan abadi
Hidup ini pada hakikatnya bukan untuk disia-siakan, bukan pula untuk dijalani dengan kelalaian yang panjang. Islam mengajarkan bahwa setiap detik adalah amanah, setiap napas adalah kesempatan untuk kembali kepada Allah dengan hati yang bersih. Ketika seseorang mulai mencintai hidupnya, ia tidak lagi merusaknya dengan kebiasaan sia-sia, tetapi mengisinya dengan cahaya ibadah, kebaikan, dan kesadaran bahwa dirinya sedang berjalan menuju لقاء الله (pertemuan dengan Allah).
Rasa cinta terhadap hidup bukan berarti memanjakan diri dalam maksiat atau kelalaian, tetapi justru menata diri agar lebih dekat kepada Allah. Bangun di sepertiga malam untuk tahajud adalah tanda bahwa hati masih hidup. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
Artinya: “Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)
Dan Allah berfirman:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
Artinya: “Dan pada sebagian malam lakukanlah shalat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra: 79)
Setelah tahajud, hati yang hidup akan melanjutkan dengan witir, doa, dan istighfar. Lalu pagi hari dimulai dengan dzikir, tilawah Al-Qur’an, dan shalat dhuha yang menjadi sedekah bagi seluruh persendian tubuh. Rasulullah ﷺ bersabda:
يُصْبِحُ عَلَىٰ كُلِّ سُلَامَىٰ مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ
Artinya: “Setiap persendian salah seorang di antara kalian di pagi hari wajib dikeluarkan sedekahnya.” (HR. Muslim)
Maka dhuha menjadi tanda syukur bahwa tubuh ini masih diberi kesempatan untuk bergerak dalam kebaikan.
Cinta pada hidup juga berarti menjaga tubuh yang Allah titipkan. Makan yang halal dan baik, berolahraga, menjaga kebersihan, serta berpakaian yang menambah rasa percaya diri dalam kebaikan adalah bagian dari ibadah. Allah berfirman:
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Artinya: “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)
Ayat ini menegaskan bahwa merawat diri bukanlah kesombongan, melainkan bagian dari ketaatan selama tidak melampaui batas.
Rasulullah ﷺ juga menegaskan pentingnya kekuatan dan kesehatan:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ
Artinya: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim)
Kekuatan di sini mencakup fisik, mental, dan spiritual. Maka olahraga, disiplin, dan pola hidup sehat bukan sekadar duniawi, tetapi bagian dari ibadah yang menguatkan jalan menuju Allah.
Namun hidup yang dicintai bukan hanya tentang tubuh, tetapi juga tentang jiwa. Jiwa perlu diisi dengan Al-Qur’an, dzikir pagi dan petang, serta majelis ilmu. Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ketika hati penuh dzikir, maka kegelisahan dunia akan mengecil, dan manusia akan mampu memilih mana yang bermakna dan mana yang sia-sia.
Lingkungan pergaulan juga menentukan kualitas hidup. Bertemanlah dengan orang-orang saleh yang mengingatkan kepada Allah, bukan yang menyeret pada kelalaian. Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Artinya: “Seseorang itu berada di atas agama temannya, maka hendaklah kalian memperhatikan siapa yang menjadi temannya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Persahabatan yang baik akan menuntun kepada kebaikan, sedangkan lingkungan yang buruk akan mengikis keberkahan hidup sedikit demi sedikit.
Mencintai hidup juga berarti meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Rasulullah ﷺ bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
Artinya: “Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)
Maka waktu yang dihabiskan tanpa arah, percakapan kosong, dan kebiasaan yang tidak membawa manfaat harus perlahan ditinggalkan. Sebab hidup terlalu berharga untuk dihabiskan dalam kekosongan makna.
Pada akhirnya, mencintai hidup adalah mencintai cara Allah mengatur hidup itu sendiri. Ada ibadah yang menenangkan, ada kerja yang bernilai ibadah, ada istirahat yang menjadi kekuatan, dan ada hubungan sosial yang menjadi ladang pahala. Ketika semua itu dilakukan dengan niat yang benar, maka hidup akan terasa ringan meski penuh ujian.
Maka siapa yang ingin hidupnya bercahaya, mulailah dari hal kecil: bangun sebelum subuh, basahi lidah dengan dzikir, jaga makanan, pilih teman yang baik, isi waktu dengan ilmu, dan jauhkan diri dari kesia-siaan. Sebab hidup yang dicintai bukan hidup yang paling mewah, tetapi hidup yang paling dekat dengan Allah dan paling banyak memberi manfaat. (Penulis : Dr.Muhtadi Hairi, M.Pd)
