Lombok Timur – Di perbatasan antara Rensing Bat dan Rensing Raya, berdiri sebuah saksi bisu yang bukan sekadar tumpukan batu dan semen. Ia adalah Jembatan Do’a. Sebuah nama yang lahir bukan dari papan proyek pemerintah, melainkan dari tetesan air mata dan lantunan zikir masyarakat puluhan tahun silam.
Kembali ke tahun 1970-an, jembatan ini lahir dari sebuah peristiwa spiritual yang luar biasa. Di bawah bimbingan almarhum TGH. Muhammad Fadhil Dayen Kubur, sebuah pengajian digelar bukan hanya untuk menyiram rohani, tapi untuk menyatukan tekad lahiriah.
Di sanalah, masyarakat menyisihkan receh demi receh, menyumbangkan apa yang mereka punya demi sebuah akses persaudaraan.

Keajaibannya nyata. Tanpa sebatang besi pun sebagai tulang punggungnya, jembatan ini berdiri tegak. Ia hanya dirajut dari batu, kapur, dan sedikit semen, namun dikokohkan oleh kekuatan yang jauh lebih besar yaitu Do’a.
Selama setengah abad, ia telah memikul beban ribuan langkah kaki dan roda kendaraan, menghubungkan silaturahmi dua desa tanpa pernah mengeluh.
Namun kini, sang pejuang tua itu mulai renta. Tubuhnya yang sudah berusia lebih dari 50 tahun tak lagi mampu menyembunyikan kerapuhannya. Retakan-retakan besar mulai menjalar di sisi kanan dan kiri, seolah memberi isyarat bahwa ia sudah mencapai batas kekuatannya.
Demi keselamatan, warga berinisiatif memasang pagar darurat di tepi jembatan. Kayu-kayu sederhana itu menjadi benteng terakhir agar tak ada pengendara yang terperosok ke bawah. Pagar itu adalah bentuk kepedulian warga, sekaligus simbol kegelisahan yang mendalam.
Narasi tentang perbaikan jembatan ini seolah menjadi “lagu lama” yang selalu diputar namun tak pernah selesai. Di setiap Musrenbang Kecamatan Sakra Barat, namanya selalu muncul sebagai prioritas. Pemerintah Desa Rensing Bat dan Rensing Raya telah bersuara lantang hingga ke tingkat Kabupaten dan Provinsi. Namun, hingga detik ini, harapan itu hanya berakhir di atas kertas.

Harapan masyarakat seringkali dibenturkan pada janji-janji yang menguap begitu saja. Bagi pemerintah, mungkin ini hanyalah satu dari sekian ribu titik infrastruktur. Namun bagi warga Rensing Bata dan Rensing Raya, jembatan ini adalah urat nadi kehidupan dan warisan keramat dari guru mereka.
Jembatan Do’a kini menanti keajaiban kedua. Jika dulu ia dibangun dengan doa dan swadaya, mungkinkah kini ia harus menunggu hingga roboh baru mendapat perhatian? Masyarakat tidak butuh sekadar kata “prioritas” di meja rapat, mereka butuh kepastian agar warisan TGH. Muhammad Fadhil ini tetap tegak berdiri, menghubungkan dua desa, dan menjaga keselamatan raga para pelintasnya.
