“Dekatilah mereka itu dengan cara yang sebaik-baiknya sehingga mereka mengenal kita dan kita mengenal mereka. Sehingga perkenalan kita bertimbal balik, sama-sama memberi dan sama-sama menerima.” (Wasiat KH. Ahmad Dahlan kepada H. Soedja)
DALAM narasi sejarah arus utama, KH. Ahmad Dahlan sering kali dicitrakan sebagai sosok yang lemah lembut, sabar, dan penuh toleransi. Gambaran ini memang tidak salah, hanya saja, dalam majalah Adil No. 5 tanggal 29 Oktober 1938 terdapat catatan sejarah yang memberikan dimensi lebih luas mengenai karakter beliau.
Melalui tulisan sahabat KH. Ahmad Dahlan: R. Sosrosoegondo dalam majalah ini, kita mengenal sosok tokoh pendiri Muhammadiyah ini sebagai jembatan persatuan yang tegas, cerdas, dan tidak segan menghadapi keangkuhan intelektual demi tegaknya ukhuwah Islamiyah.
Misi Kyai Dahlan sebagai pemersatu umat diuji ketika beliau mendengar kabar tentang perpecahan hebat di kalangan tokoh agama di daerah Jombang. Di sana, para ulama lokal terjebak dalam perselisihan sengit mengenai masalah-masalah keagamaan. Alih-alih menjadi pelita bagi umat, para pemimpin agama ini justru terkotak-kotak dalam faksi yang saling menjauh dan tidak sudi untuk bersatu.
Kyai Dahlan memiliki prinsip teguh bahwa perbedaan pendapat seharusnya bukan menjadi alasan untuk bercerai-berai. Baginya, setiap perselisihan harus dicari titik temunya melalui musyawarah demi menemukan kebenaran yang hakiki. Maka, beliau memutuskan untuk turun tangan langsung ke lokasi konflik. Kedatangan beliau bukanlah sebagai hakim yang ingin mengadili siapa yang bersalah atau benar, melainkan membawa misi besar untuk membangun kembali jembatan persaudaraan yang telah retak.
Kyai Dahlan akhirnya berhasil mengumpulkan sembilan orang ulama yang selama ini saling bertikai dalam satu ruangan. Di hadapan mereka, beliau menyampaikan pidato yang sangat menyentuh hati, yang berlandaskan pada ajaran Al-Qur’an. Beliau menyerukan pentingnya bagi para pemuka agama untuk kembali “memegang tali Allah” dan berhenti saling berselisih. Beliau mengungkapkan penyesalan mendalam melihat para penjaga agama justru tidak mampu bersatu sesuai dengan perintah Tuhan.
Namun, suasana damai yang diharapkan Kyai Dahlan tidak segera terwujud. Suasana justru memanas karena para ulama tersebut mulai menunjukkan sikap unjuk gigi. Alih-alih mencari solusi persatuan, mereka berdiri satu per satu untuk memamerkan kealiman masing-masing. Mereka mengutip berbagai macam kitab secara mendalam hanya untuk membela pendapat kelompoknya sendiri. Puncaknya, ulama ketiga dengan sangat percaya diri menutup pembicaraannya dengan persyaratan yang sangat kaku:
“Apabila kawan-kawan oelama sama memakai sebagai apa jang saja terangkan itoe, saja dapat dan maoe bersatoe. Sebab apa! Jang saja kemoekakan itoe semoeanja memang perloe-perloe, tidak boleh dibantah, tidak boleh dihiraukan.”
Bagi ulama tersebut, pendapatnya adalah kebenaran mutlak yang harus diikuti oleh semua orang sebagai syarat persatuan. Ego intelektual semacam inilah yang selama ini mempertebal dinding pemisah di antara mereka.
Kritik Tajam demi Menyadarkan Umat
Melihat realita yang menyedihkan tersebut, Kyai Dahlan tetap tenang. Beliau menyimak setiap argumen yang dilontarkan dengan saksama hingga semua ulama selesai berbicara. Di balik ketenangannya, beliau telah menyiapkan sebuah teguran yang sangat tajam, namun bertujuan untuk menyadarkan kembali esensi ilmu bagi ukhuwah. Beliau berkata:
“Kjahi, menilik pidato toean tadi, ternjata, bahwa toean itoe memang alim betoel. Oleh karena itoelah, maka menimboelkan penjesalan saja. Adapoen jang mendjadikan hati saja menjesal itoe demikian: Seumpama saja alimnja sebagai toean saja pandang dengan amat ringan, kalau hendak mempersatoekan orang 9 sadja.”
Makna dari kalimat ini sangat menghujam jantung ego para tokoh tersebut. Kyai Dahlan ingin menegaskan sebuah logika fundamental yang sering dilupakan: bahwa kealiman sejati seharusnya membuat urusan persatuan umat menjadi ringan, bukan malah menjadi beban yang merusak hubungan antarmanusia. Beliau menyindir bahwa ilmu setinggi langit tidak ada gunanya jika hanya untuk menyatukan sembilan orang dalam satu ruangan saja seseorang merasa tidak mampu tanpa memaksakan kehendaknya.
Momen tegang ini disaksikan langsung oleh keponakan Kyai Dahlan yang berprofesi sebagai dokter. Sang dokter merasa sangat kagum sekaligus heran melihat kecerdikan pamannya dalam menjatuhkan ego para ulama besar tersebut tanpa harus bersikap kasar atau menghujat. Kyai Dahlan mampu menjembatani perbedaan tersebut dengan cara membenturkan intelektualitas dengan realitas sosial persatuan.
Dalam ingatan saksi sejarah, muncul istilah “Engklek” (pincang atau lumpuh) untuk menggambarkan fenomena yang terjadi pada para ulama tersebut. Istilah ini menggambarkan kondisi seseorang yang memiliki ilmu sangat tinggi secara teori, namun cacat atau “pincang” dalam kearifan bertindak sehingga ilmunya tidak mampu membawa manfaat sosial nyata berupa persatuan umat.
Warisan Jembatan Ukhuwah
Catatan dalam majalah ADIL ini memberikan pelajaran berharga bahwa warisan terbesar KH. Ahmad Dahlan bukan sekadar pendirian organisasi besar atau amal usaha yang melimpah. Warisan beliau yang paling berharga adalah keberanian moral untuk menjembatani perbedaan dan meruntuhkan tembok kesombongan demi tegaknya kebenaran serta persatuan umat.
Beliau telah memberikan contoh nyata bahwa menjadi seorang alim (berilmu) tidak boleh dipisahkan dari semangat persaudaraan. Sebagaimana ditunjukkan dalam misinya di Jombang, Kyai Dahlan mengajarkan bahwa ukuran kehebatan seorang ulama bukanlah dari seberapa banyak kitab yang ia hafal atau seberapa dalam ia mampu berdebat, melainkan dari seberapa besar ilmu tersebut mampu menjadi jembatan bagi kedamaian, kemaslahatan, dan ukhuwah Islamiyah di tengah-tengah masyarakat.
Tanaman persatuan yang beliau semai dengan air mata pengorbanan dan ketabahan menghadapi fitnah itu kini telah tumbuh menjadi pohon yang rindang. Tugas generasi sekarang adalah merawat jembatan ukhuwah yang telah dibangun beliau, agar Islam tetap menjadi rahmat dan perekat bagi seluruh bangsa Indonesia.
Dalam rapat tahunan pertama Muhammadiyah, KH. Ahmad dalam pidatonya pernah berkata, “Tujuan Muhammadiyah adalah untuk menyelesaikan semua sengketa dan membuat semua kelompok Islam saling bergandengan tangan.” (Abdul Mu’thi dkk, KH. Ahmad Dahlan 1868-1923, 125) (MBS) : (Hidayatullah.com)
