𝐊𝐚𝐛𝐚𝐫 𝐊𝐚𝐞𝐋𝐞𝐬-Dakwah Islam di Nusantara tak lepas dari peran kaum sufi dan tarekat. Begitu pula di Lombok, NTB. Daerah berjulukan Pulau Seribu Masjid itu memunculkan banyak salik karismatik. Di antara mereka adalah Tuan Guru Haji (TGH) Najmuddin Makmun.
1. Perjalanan TGH Najmuddin Menuntut Ilmu
Ia dikenal sebagai seorang mursyid. TGH Najmuddin lahir dengan nama Ma’arif di Kampung Karang Lebah, Praya, Lombok Tengah, pada 1920. Ayahnya, TGH Makmun (wafat 1947), pernah menjadi pemimpin Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Kelak, peran ini dijalankan pula oleh Ma’arif alias TGH Najmuddin.
Ma’arif muda tumbuh dalam lingkungan keluarga yang saleh. Mula-mula, ia belajar agama kepada bapaknya sendiri. Di Lombok, ia mengaji pada banyak guru terkait berbagai cabang ilmu keislaman. Di antara mereka adalah TGH Muhammad Ra’is Sekarbela, TGH Thaha Pesinggahan, TGH Ibrahim Lomban, dan TGH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.
Dari TGH Ra’is, dirinya mempelajari ilmu tata bahasa Arab. Kitab Matan Alfiyah karangan Ibnu Malik (wafat 1274) juga dikhatamkannya dengan pengawasan gurunya tersebut. Selanjutnya, ada pula guru-gurunya yang lain, seperti TGH Muham mad Badarul Islam, TGH Abdul Kadir, serta KH Dimyathi al-Bantani dari Cidahu, Banten (bil ijazah).
Di Pancor, Ma’arif sempat menghabiskan waktu tiga bulan lamanya. Di bawah arahan TGH M Zainuddin Abdul Majid, ia mempersiapkan diri untuk meneruskan studi ke Tanah Suci, Makkah al-Mukarramah. Dalam usia belia, ia pun mengadakan rihlah ke kota kelahiran Rasulullah SAW itu. Setelah menunaikan ibadah haji, ia mengganti namanya menjadi Muhammad Najmuddin.
Perjalanannya menuntut ilmu-ilmu agama pun dimulai. Najmuddin mendaftarkan diri di Madrasah Darul Ulum al-Diniyah. Lembaga itu didirikan antara lain Sayyid Muhsin al-Musawwa. Ulama asal Palembang, Sumatra Selatan, itu cukup lama berkiprah di Makkah.
Tak ingin menyia-nyiakan waktu selama di Tanah Suci, Najmuddin selalu belajar dengan penuh ketekunan dan kedisiplinan. Di luar sekolah, putra daerah Lombok itu berguru pada banyak ulama setempat, termasuk yang berasal dari Nusantara.
Misalnya, Syekh Muhammad Yasin al-Fadani dan Syekh Idris al-Bantani. Syekh Yasin al-Fadani bergelar Musnid ad-Dunya (‘Gudang Sanad Dunia’) atau Bahr al-‘Ulum (‘Samudra Ilmu’). Kepadanya, Najmuddin belajar banyak hal, terutama ilmu hadis. Bahkan, bisa dikatakan bahwa alim asal Minangkabau itu merupakan guru utamanya.
Ada pun Syekh Idris al-Bantani mengajarkan kepadanya ilmu-ilmu Alquran, qiraat, dan tasawuf. Ijazah Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah juga diterimanya dari gurunya tersebut.
Selain nama-nama di atas, ada pula sejumlah ulama lain yang menjadi tempat bagi Najmuddin menimba ilmu-ilmu agama selama di luar negeri. Misalnya, Syekh Muhammad Nuri Trengganu (Malaysia), Syekh Abdul Karim Mandailing, Syekh Usman Tungkal, dan Syekh Faisal al-Baweani.
Di Makkah, ia juga belajar pada beberapa masyaikh setempat yang berasal dari Pulau Lombok. Di antara mereka adalah TGH Mukhtar, TGH Ibrahim al-Khalidi, dan TGH Musthafa.
2. Awal Dakwah TGH Najmuddin
Lima tahun lamanya Najmuddin merantau di kota suci. Sekitar tahun 1941, ia pun kembali ke Tanah Air sebagai seorang mubaligh yang dihormati. Beberapa waktu kemudian, ia membuka pengajian umum di kediamannya sendiri. Masyarakat setempat sangat antusias mengikuti majelis ilmu yang digelar TGH Najmuddin.
Pada 1943, TGH Najmuddin mendirikan suatu madrasah yang dinamakannya Nurul Yaqin (‘cahaya keyakinan’) di Karang Lebah, Praya. Waktu itu, Kira-kira lima tahun kemudian, Madrasah Nurul Yaqin kian berkembang,
Pada 1970-an, pemerintah daerah (pemda) setempat mendukung pengembangan Perguruan Nurul Yaqin. Pemda Kabupaten Lombok Tengah pun menghibahkan area tanah seluas 3,2 hektare (ha) untuk dijadikan lokasi baru bagi pondok pesantren yang hendak didirikan TGH Najmuddin. Peletakan batu pertama dilakukan pada 14 Juli 1971. Kelak, sang alim menamakannya Madrasah Muhajirin.
Ceritanya bermula pada 1972. Waktu itu, TGH Najmuddin menunaikan ibadah haji. Kesempatan ini dimanfaatkannya untuk berjumpa lagi dengan guru-gurunya dahulu selama di Tanah Suci. Nama madrasah atau pesantren yang belum lama dibangun TGH Najmuddin pun diubah menjadi Darul Muhajirin. Sampai saat ini, Pondok Pesantren Darul Muhajirin terus berkembang.
Hingga akhir hayatnya, TGH Najmuddin aktif dalam mendakwahkan Islam dan mengajar ilmu-ilmu agama. Tidak hanya di lembaga pendidikan yang didirikannya. Ia pun membuka tak kurang dari 153 majelis taklim di seputar Pulau Lombok.
Masyarakat mengenangnya sebagai seorang ulama yang berilmu tinggi, berpribadi zuhud, dan teladan. Dari segi keilmuan, TGH Najmuddin menaruh perhatian besar pada ilmu fikih. Bagaimanapun, ia pun mengamalkan tasawuf. Bahkan, di Lombok ia melanjutkan peran ayahnya, TGH Makmun, sebagai mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.
Posisi ini dilakoninya setelah menerima ijazah irsyadah (kemursyidan) dari ayahnya sendiri serta Syekh Idris al-Bantani al-Makki. Silsilah tarekat dari jalur ayahnya itu bersambung hingga TGH Sidiq Karangkelok. Ulama asal Mataram itu merupakan salah satu khalifah Syekh Abdul Karim Banten, yang pernah berguru pada Syekh Achmad Khotib al-Syambasi –pendiri Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.
3. Menyelaraskan Habluminallah dan Habluminannas
Pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Pulau Lombok, terbilang signifikan. Di antara nama-nama tokoh mursyidnya ialah TGH Muhammad Najmuddin Makmun. Selain sebagai pemimpin tarekat, ia juga ahli dalam bidang ilmu syariat.
Bagi masyarakat setempat, ulama kelahiran tahun 1920 itu adalah sosok teladan. Tidak hanya berkutat pada amalan-amalan tarekat. Ia pun aktif dalam kehidupan sosial keagamaan di tengah khalayak. Ini adalah salah satu bukti pengejawantahan ajaran Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Tarekat ini menekankan pentingnya keselarasan antara hubungan vertikal antara seorang hamba dengan Allah SWT (hablu minallah) dan hubungan horizontal (hablumina an-nas).
4. TGH Najmuddin membuka berbagai lembaga pendidikan Islam dan majelis taklim.
Dalam menjalankan ibadah sosial ini, ia turut dibantu sejumlah alim ulama setempat. Untuk menyebutkan beberapa di antaranya, ialah TGH L Sam’an, TGH Ahmad Ibrahim, TGH Mukti Ali, dan TGH Muslim Thahir.
Penduduk Lombok tentunya tak asing dengan ketokohannya. Sebab, ayahandanya –TGH Makmun (wafat 1947)– pernah menjadi mursyid tarekat yang sama serta aktif dalam syiar Islam di Pulau Seribu Masjid.
Selain itu, TGH Makmun juga dikenang sebagai pahlawan pada masa penjajahan Belanda. Pemerintah kolonial berkali-kali memburu sang alim, tetapi selalu gagal. Mereka tak mampu melihatnya meskipun sudah memeriksa seluruh kampung ayahanda TGH Najmuddin itu di Karang Lebah.
Sejak 1970-an, dakwah TGH Najmuddin boleh dikatakan berpusat di Pondok Pesantren Darul Muhajirin, Praya, Lombok Tengah.
TGH Najmuddin memperoleh ijazah Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah pertama-tama dari ayahandanya sendiri. Bersama dengan kakaknya, TGH Muhsin Makmun, ia pun membesarkan perkumpulan sufi itu hingga memiliki jumlah pengikut yang cukup banyak di NTB.
Secara silsilah, mata rantai tarekat yang diajarkan TGH Najmuddin bersambung hingga ke Imam Ali bin Abi Thalib dan Rasulullah Muhammad SAW.
Tokoh ini berpulang ke rahmatullah pada 18 Juni 2013. Lautan manusia mengiringi pemakamannya. Kepergian TGH Najmuddin menyisakan duka tidak hanya bagi kaum Muslimin Lombok, melainkan juga umat Islam pada umumnya.
Legasinya tak hanya berbagai lembaga pendidikan dan dakwah. Sebab, ia telah menghasilkan cukup banyak karya di sepanjang hayatnya.
Beberapa karangannya ialah, Sejarah Ringkas Deside Wali Nyato (1993); Fawa’idul Hifzhi li Jama’ati Majalisi at-Ta’imi Da-ril Muhajirin (2001); Majmu’atul Aurod (1995); Sejarah Ringkas Datu Pejanggik (tulisan tangan, belum diterbitkan); Sifat Dua Puluh; Inggih Tiang Matur (dalam bahasa Sasak); serta sejumlah catatan dalam tulisan tangan yang berkaitan tentang ilmu tasawuf. (KK)
