Renungan Kamis Pagi
Ziarah kubur merupakan salah satu amalan yang memiliki nilai spiritual sangat dalam apabila dilakukan sesuai tuntunan syariat. Islam tidak melarang umatnya mendatangi pemakaman, bahkan menganjurkannya sebagai sarana mendoakan orang yang telah wafat sekaligus mengingatkan diri bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara. Namun, setiap muslim hendaknya memahami adab dan batasannya agar ziarah tetap menjadi ibadah yang bernilai di sisi Allah semata.
Setiap manusia pada akhirnya akan menempuh perjalanan yang sama, yaitu meninggalkan kehidupan dunia menuju alam akhirat. Tidak ada seorang pun yang mampu menghindari ketetapan tersebut. Kekuasaan, jabatan, harta, keturunan, maupun kemasyhuran tidak akan mampu menunda datangnya kematian walau sesaat. Karena itulah Islam mengajarkan agar seorang mukmin senantiasa mengingat kematian, bukan untuk membuat hati menjadi putus asa, melainkan agar kehidupan dijalani dengan penuh kesadaran, tanggung jawab, dan bekal amal saleh.
Di antara amalan yang dapat menumbuhkan kesadaran tersebut adalah berziarah ke kubur. Dahulu Rasulullah ﷺ pernah melarang ziarah kubur pada masa awal Islam karena khawatir umat masih terpengaruh tradisi jahiliah yang mengagungkan kuburan secara berlebihan. Namun setelah akidah kaum muslimin semakin kokoh, beliau membolehkannya bahkan menganjurkannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْآخِرَةَ
“Aku dahulu pernah melarang kalian berziarah kubur. Maka sekarang berziarahlah, karena sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan kepada akhirat.” (HR. Muslim).
Hadis yang agung ini menunjukkan bahwa tujuan utama ziarah kubur bukanlah mencari sesuatu dari orang yang telah meninggal, melainkan mengambil pelajaran tentang kehidupan yang akan datang. Saat seseorang berdiri di hadapan deretan makam, ia menyaksikan bahwa semua manusia pada akhirnya kembali ke tempat yang sama. Tidak ada lagi perbedaan antara orang kaya dan miskin, pemimpin dan rakyat, yang tersisa hanyalah amal yang pernah dikerjakan selama hidup di dunia.
Allah Swt. mengingatkan dalam firman-Nya:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran: 185).
Ayat tersebut mengajarkan bahwa kematian bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan pintu menuju kehidupan yang kekal. Oleh sebab itu, ziarah kubur menjadi momentum untuk melakukan muhasabah. Hati yang sebelumnya lalai menjadi tersentuh. Jiwa yang dipenuhi ambisi dunia diingatkan bahwa semua itu suatu saat akan ditinggalkan. Orang yang rajin mengingat kematian biasanya lebih mudah menjaga lisan, mengendalikan hawa nafsu, memperbaiki ibadah, dan memperbanyak amal kebajikan.
Selain sebagai pengingat, ziarah kubur juga merupakan bentuk kasih sayang kepada saudara, keluarga, dan orang-orang beriman yang telah mendahului kita. Mereka tidak lagi mampu menambah amal, sementara doa dari orang-orang yang masih hidup menjadi salah satu bentuk kebaikan yang dapat Allah sampaikan kepada mereka.
Ketika berziarah, Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang penuh kelembutan:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ، نَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ
“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian wahai penghuni negeri ini dari kalangan orang-orang mukmin dan muslim. Sesungguhnya kami, insya Allah, akan menyusul kalian. Kami memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan bagi kalian.” (HR. Muslim).
Perhatikan bahwa doa tersebut seluruhnya ditujukan kepada Allah. Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan umatnya meminta kepada penghuni kubur. Inilah adab yang harus dijaga oleh setiap muslim. Orang yang telah meninggal adalah makhluk Allah yang kini berada di alam barzakh. Mereka membutuhkan doa dan ampunan, bukan menjadi tempat manusia menggantungkan harapan.
Allah Swt. berfirman:
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kamu menyembah dan berdoa kepada siapa pun selain Allah.” (QS. Al-Jinn: 18).
Dalam ayat lain Allah juga menegaskan:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5).
Kedua ayat tersebut menjadi fondasi utama akidah Islam bahwa segala bentuk doa, permohonan, harapan, dan istighatsah hanya ditujukan kepada Allah Yang Maha Hidup dan Maha Mendengar. Adapun orang yang telah wafat tidak lagi memiliki kemampuan untuk mengabulkan permintaan manusia. Karena itu, meminta keberkahan, keselamatan, rezeki, jodoh, kesembuhan, ataupun pertolongan langsung kepada penghuni kubur bukanlah tuntunan Rasulullah ﷺ.
Sebaliknya, jika seseorang datang ke makam orang tua, guru, ulama, ataupun kerabat, hendaknya ia memperbanyak doa agar Allah mengampuni dosa-dosa mereka, melapangkan kuburnya, menerima amal salehnya, serta menempatkannya bersama orang-orang yang beriman. Di saat yang sama, ia juga memohon kepada Allah agar dirinya diberi husnul khatimah ketika kelak tiba saat menghadap-Nya.
Ziarah kubur yang dilakukan sesuai tuntunan akan melahirkan banyak hikmah. Hati menjadi lebih lembut, kesombongan berkurang, cinta dunia tidak lagi berlebihan, dan semangat memperbaiki amal semakin kuat. Setiap langkah menuju pemakaman menjadi pengingat bahwa waktu hidup semakin berkurang. Setiap pandangan kepada nisan menjadi nasihat tanpa kata bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan yang sangat singkat.
Marilah menjadikan ziarah kubur sebagai ibadah yang memperkokoh tauhid, memperbanyak doa, dan meningkatkan kualitas kehidupan kita. Jangan sampai amalan yang semestinya mendekatkan diri kepada Allah justru berubah menjadi perbuatan yang menyelisihi tuntunan syariat. Semoga Allah memberikan kepada kita pemahaman agama yang benar, menjaga kemurnian akidah, menerima doa-doa kita untuk kaum muslimin yang telah wafat, serta mengaruniakan kepada kita akhir kehidupan yang penuh iman, husnul khatimah, dan kebahagiaan abadi di dalam surga-Nya. Aamiin. (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
