Renungan Jumat Pagi
Ada kebaikan yang tidak selalu tampak oleh mata, tetapi sangat berharga di sisi Allah. Memilih diam ketika mampu mempermalukan, menahan amarah ketika mampu membalas, dan menjaga rahasia ketika mampu menyebarkannya merupakan tanda kematangan iman. Sebab, akhlak mulia bukan sekadar menghadirkan kebahagiaan, melainkan juga mencegah orang lain terluka akibat perkataan dan perbuatan kita.
Dalam kehidupan ini, tidak semua kebaikan harus diumumkan, tidak semua kebenaran harus disampaikan dengan cara yang menyakitkan, dan tidak semua cerita yang kita ketahui layak disebarluaskan. Ada kalanya kemuliaan seseorang justru terlihat ketika ia mampu mengendalikan dirinya, menjaga lisannya, serta menahan tangannya dari tindakan yang dapat merusak kehormatan sesama. Orang yang berakhlak mulia bukanlah orang yang tidak pernah memiliki kesempatan untuk menyakiti, melainkan orang yang memilih tidak menyakiti meskipun ia mampu melakukannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 70:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
Ayat ini mengajarkan bahwa lisan seorang mukmin harus berada dalam kendali ketakwaan. Perkataan yang benar bukan hanya perkataan yang sesuai kenyataan, tetapi juga harus disampaikan dengan mempertimbangkan tujuan, keadaan, dan akibatnya. Kebenaran tidak boleh dijadikan alasan untuk menghina, membuka aib tanpa alasan yang dibenarkan, atau merendahkan martabat orang lain. Ada perbedaan antara menasihati demi memperbaiki dan berbicara demi memuaskan ego sendiri.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam.”
Hadis ini merupakan pedoman penting dalam menjaga hubungan antarmanusia. Sebelum berbicara, hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri: apakah perkataan ini membawa manfaat, apakah disampaikan dengan cara yang baik, dan apakah ada kemungkinan perkataan ini melukai seseorang tanpa alasan yang benar? Jika tidak mendatangkan kebaikan, diam sering kali lebih mulia daripada berbicara panjang lebar.
Diam bukan berarti membenarkan kebatilan atau membiarkan kezaliman. Diam yang terpuji ialah ketika kita menahan perkataan yang sia-sia, menghindari penghinaan, dan tidak ikut menyebarkan keburukan. Adapun ketika seseorang membutuhkan pertolongan, mengalami kezaliman, atau menghadapi bahaya, kita tetap berkewajiban membantu dengan cara yang benar.
Kebaikan lainnya ialah menjaga rahasia dan kehormatan orang lain. Kita mungkin mengetahui kelemahan, kesalahan, atau kisah pribadi seseorang. Namun, pengetahuan itu bukanlah izin untuk menjadikannya bahan pembicaraan. Bisa jadi seseorang bercerita karena percaya kepada kita, berharap memperoleh ketenangan, atau membutuhkan tempat untuk mengungkapkan kesedihannya. Mengkhianati kepercayaan tersebut dapat meninggalkan luka yang jauh lebih dalam daripada yang kita bayangkan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surah Al-Hujurat ayat 12:
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Artinya: “Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
Perumpamaan tersebut menunjukkan betapa buruknya perbuatan menggunjing. Karena itu, jangan menjadikan aib orang lain sebagai hiburan, bahan candaan, atau sarana mendapatkan perhatian. Jika suatu informasi harus disampaikan demi mencegah bahaya atau menegakkan keadilan, sampaikanlah sebatas yang diperlukan kepada pihak yang tepat, bukan untuk mempermalukan seseorang di hadapan khalayak.
Begitu pula ketika menghadapi orang yang menyakiti kita. Tidak setiap penghinaan harus dibalas dengan penghinaan, dan tidak setiap perlakuan buruk harus dijawab dengan kemarahan. Allah berfirman dalam surah Fussilat ayat 34:
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
Artinya: “Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.”
Ayat ini mengajarkan keluhuran akhlak dalam menghadapi konflik. Membalas dengan cara yang lebih baik dapat memadamkan permusuhan, sedangkan membalas dengan keburukan sering kali memperpanjang pertikaian. Namun, berbuat baik bukan berarti menyerahkan diri kepada kezaliman. Kita boleh menjaga jarak, menetapkan batasan, mencari pertolongan, dan menuntut hak secara adil tanpa kehilangan kendali atas akhlak.
Marilah kita berusaha menjadi pribadi yang menghadirkan rasa aman. Jadilah orang yang dapat dipercaya ketika seseorang bercerita, yang tidak mempermalukan ketika menemukan kesalahan, dan yang tidak menggunakan kelemahan orang lain sebagai senjata. Sebelum tidur, periksalah kembali perkataan dan perbuatan kita. Apakah hari ini ada hati yang kita lukai? Apakah ada rahasia yang kita khianati? Apakah ada kesempatan berbuat baik yang kita abaikan?
Jika pernah melakukan kesalahan, segeralah bertobat, meminta maaf, dan memperbaiki akibatnya. Jangan menunggu sampai orang yang kita sakiti kehilangan kepercayaan atau menjauh tanpa mampu mengungkapkan alasannya.
Semoga Allah melembutkan hati kita, menjaga lisan kita, mengendalikan amarah kita, serta membimbing kita untuk senantiasa menghormati kehormatan sesama. Semoga kehadiran kita menjadi tempat yang aman bagi orang lain untuk menemukan ketenangan, bukan sumber luka yang harus mereka pulihkan. Sebab, salah satu keindahan akhlak seorang mukmin ialah ketika orang lain selamat dari keburukan tangannya, lisannya, dan niatnya. Aamiin. (Dr. H. Muhtadi Hairi, M.Pd)
