Mataram – Program Studi Sosiologi, Fakultas Hukum, Ilmu Sosal, dan Ilmu Politik Universitas Mataram melalui program Praktik Kuliah Lapangan (PKL) menggandeng PLUT KUMKM Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagai mitra. Kegiatan PKL dirancang dalam rangka meningkatkan kompetensi dan adaptasi terhadap dinamika perubahan sosial dan bersaing di dunia kerja bagi mahasiswa semester enam. Jumat (19 Juni 2026)
Dalam hal ini PLUT KUMKM NTB menyelenggarakan layanan berbasis kebutuhan UMKM yang dikelompokkan menjadi 7 layanan utama: 1) Konsultasi Bisnis; 2) Pelatihan dan Peningkatan Kapasitas SDM; 3) Inkubasi Usaha; 4) Fasilitasi Akses Pembiayaan; 5) Fasilitasi Legalitas Usaha; 6) Digitalisasi dan Pemasaran Online;7) Fasilitasi Kemitraan dan Akses Pasar. Ketujuh layanan ini menjadi instrumen negara dalam menurunkan hambatan struktural yang dihadapi UMKM, sehingga relevan dikaji dari perspektif sosiologi kelembagaan.
Mahasiswa sosiologi UNRAM mempelajari Proses pembinaan di PLUT yang dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Tahap awal berupa pendataan dan pemetaan profil UMKM binaan untuk klasifikasi berdasarkan skala, sektor, dan permasalahan. Tahap kedua, adalah pelatihan teknis dan manajerial meliputi pencatatan keuangan sederhana, pengemasan produk, branding, hingga penggunaan marketplace. Pembinaan juga dilakukan melalui program inkubasi bagi UMKM startup agar memiliki model bisnis yang berkelanjutan. Mahasiswa Sosiologi Unram terlibat langsung dalam pendampingan dan observasi terhadap efektivitas program pembinaan tersebut.
Pelayanan di PLUT bersifat konsultatif dan gratis bagi UMKM. Pelaku usaha dapat mengakses layanan melalui pendaftaran, konsultasi one-on-one dengan business consultant, dan rujukan ke lembaga mitra seperti perbankan, Dinas Koperasi, serta BPOM untuk sertifikasi. Secara sosiologis, pelayanan ini membentuk relasi antara negara sebagai fasilitator dan masyarakat sebagai subjek pembangunan. Mahasiswa mengamati bagaimana kualitas pelayanan dipengaruhi oleh kapasitas SDM, beban kerja, dan tingkat literasi digital pelaku usaha yang dilayani.
Dari hasil observasi, PLUT memiliki struktur birokrasi yang memengaruhi kecepatan dan jangkauan layanan. Peran business consultant PLUT melampaui fungsi teknis; mereka juga berperan sebagai agen perubahan yang mentransformasi mindset pelaku UMKM dari pedagang tradisional menjadi wirausahawan adaptif. Relasi kuasa yang terjadi cenderung asimetris karena ketimpangan pengetahuan, namun PLUT berupaya membangun relasi partisipatif melalui forum dan kelompok binaan agar UMKM memiliki rasa memiliki terhadap program.
Kegiatan mahasiswa PKL menemukan bahwa tantangan utama pembinaan adalah rendahnya literasi digital dan keuangan, lambatnya pengurusan legalitas, serta terbatasnya anggaran dan SDM PLUT sehingga cakupan pendampingan belum merata. Bagi mahasiswa, PKL ini meningkatkan kompetensi dalam teknik wawancara, analisis data, dan penyusunan rekomendasi kebijakan berbasis bukti. Mahasiswa juga memahami bahwa keberhasilan pemberdayaan UMKM tidak hanya ditentukan oleh pelatihan, tetapi juga oleh struktur sosial, modal budaya, dan jaringan sosial pelaku usaha.
PKL di PLUT KUMKM NTB membuktikan relevansi ilmu Sosiologi dalam menganalisis kebijakan publik dan praktik pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Rekomendasi yang dapat diajukan: 1) Penambahan business consultant dan penguatan kapasitas digitalnya, 2) Program literasi digital dan keuangan yang lebih intensif dan berbasis komunitas, 3) Sinergi antara PLUT, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah untuk riset serta pendampingan berkelanjutan. Dengan demikian, diharapkan UMKM binaan PLUT dapat naik kelas secara inklusif dan berdaya saing tanpa mengabaikan nilai sosial budaya lokal. (Unram)
