Kita sering banget mendengar kalimat seperti, “Aelah, itu cuma becandaan anak-anak.” “Itu normal waktu itu, namanya juga anak-anak.” Atau, “Dia terlalu sensitif, jangan diambil hati kali”, ” ah, baperan amat, ga seru lu” Kalimat-kalimat ini, tanpa disadari, menjadi tameng untuk perilaku yang sebenarnya merusak apalagi biasa merusak mental dari korban bullying: bullying. Di lingkungan pendidikan, dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, bahkan ada juga di lingkungan kampus, bullying bukan hanya tentang perkelahian di kantin atau di area sekolah, atau menahan uang saku. Bullying mengambil bentuk yang lebih halus dan menyakitkan. Bullying verbal (penghinaan, ejekan, dan julukan yang merendahkan), perundungan sosial (pengucilan, gosip), dan sekarang, yang semakin marak: cyberbullying. Di media online, sosmed, pelecehan dapat menyebar 24/7, tanpa henti. Korban merasa tidak memiliki tempat yang aman, bahkan di kamar mereka sendiri. Apa dampaknya? Bukan hanya kesedihan satu atau dua hari saja. Ini tentang anak-anak yang menolak pergi ke sekolah karena takut. Ini tentang nilai yang buruk karena konsentrasi mereka hancur dan terganggu. Ini tentang hancurnya rasa percaya diri, dan mulai menyendiri menjauhkan diri dari orang lain, dan kemudian itu yang dapat menyebabkan depresi, kecemasan parah, dan bahkan pikiran untuk mengakhiri segalanya. Ini adalah luka yang dapat terbawa hingga dewasa (trauma). Pernahkah gas kita membayangkan seorang anak yang menjadi korban bullying berjuang setiap hari hanya untuk bernapas lega di lingkungan yang seharusnya menjadi tempat mereka belajar dan tumbuh?
Tapi siapa yang harus disalahkan? Pelakunya? Ya, jelas. Tetapi lingkungan juga seringkali menjadi penonton yang diam. Sistem pendidikan kita terkadang terlalu fokus pada nilai akademik, sementara iklim sosial dan kesehatan mental siswa menjadi perhatian sekunder. Guru dan orang tua seringkali melewatkan berita tersebut. Seringkali, kasus perundungan ditemukan setelah terlambat, seperti pada kasus kasus yang kita lihat di media sosial.
Jadi, apa solusinya? Pertama, jangan menganggapnya enteng apalagi mengganggap kasus bullying itu adalah hal yang kecil atau sepele. Setiap keluhan anak tentang perlakuan buruk harus ditanggapi dengan serius. Kedua, pendidikan karakter bukan hanya teori dalam buku teks. Harus ada program konkret tentang empati, menghormati perbedaan, dan bagaimana menyelesaikan konflik secara sehat. Ketiga, buka saluran komunikasi yang aman dan tanpa penghakiman. Anak-anak perlu tahu bahwa ada seseorang yang dapat mereka ajak bicara tanpa takut dicap “lemah” atau “cengeng.”
Dan yang terpenting, Bullying adalah tanggung jawab bersama. Bukan hanya korban dan pelaku, tetapi juga guru, orang tua, teman sekelas yang menyaksikannya, dan kebijakan sekolah yang tegas. Sekolah harus menjadi zona bebas Bullying, di mana setiap anak merasa diterima dan dilindungi, so please atop bullying atau cyberbullying. Bedakan mana becanda dan mana aksi bullying, becanda itu ketika kalian sama sama terhibur tanpa ada pihak yang merasa tidak nyaman atau tersinggung dengan apa yang sedang dibercandakan, tapi kalo ada salah satu pihak merasa tidak nyaman atau merasa terpojokkan dengan becandaan itu, maka please stop karna itu termasuk tindakan bullying.
Stop bullying/cyberbullying, ini bukanlah misi yang tidak bisa dilakukan apalagi mustahil dilakukan. Tetapi ini membutuhkan komitmen. Ini membutuhkan keberanian untuk bersuara, untuk membela diri ketika kita melihat ketidakadilan, dan untuk mengatakan, “Cukup. Di sini, kita semua berhak merasa aman.” Karena di balik setiap hinaan yang menyakitkan, setiap ejekan di media sosial, dan setiap tatapan yang mengisolasi, ada seorang anak yang berjuang. Dan mereka pantas dibela. Bukan besok, bukan nanti, tetapi sekarang juga. Aksi bullying biasa merusak mental korban dan membuat korban menjadi trauma, ayo teman teman stop bullying, dan mulailah menjadi manusia yang memanuiakan manusia, kita semua sama dimata tuhan.
Penulis: BAIQ FADYA ARTHA ZAHRA MAHASISWI PRODI ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM, ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MATARAM
