Kajian Ahad Pagi
Kegagalan sering kali dipandang sebagai akhir dari sebuah perjuangan. Padahal, dalam pandangan Islam, kegagalan bukanlah tanda bahwa Allah meninggalkan hamba-Nya, melainkan bagian dari proses pendidikan Ilahi yang menguatkan iman, membentuk akhlak, menyempurnakan ikhtiar, serta mengantarkan seorang mukmin menuju keberhasilan yang lebih besar sesuai hikmah, waktu, dan ketetapan-Nya yang terbaik.
Dalam kehidupan, hampir setiap manusia pernah merasakan pahitnya kegagalan. Ada yang gagal dalam pendidikan, pekerjaan, usaha, rumah tangga, dakwah, bahkan dalam meraih cita cita yang telah lama diperjuangkan. Saat kegagalan datang, tidak sedikit hati menjadi gundah, semangat melemah, dan harapan seakan sirna. Namun seorang mukmin tidak boleh memandang kegagalan hanya dari sudut pandang dunia. Ia harus melihatnya melalui cahaya iman, karena setiap takdir Allah pasti mengandung hikmah yang tidak selalu dapat dipahami saat itu juga.
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah menyia nyiakan usaha seorang hamba yang dilakukan dengan ikhlas. Bahkan setiap langkah, setiap tetes keringat, setiap air mata kesabaran, semuanya tercatat sebagai amal di sisi Allah. Karena itu, kegagalan bukanlah akhir perjalanan, tetapi salah satu tahapan yang Allah tetapkan agar seorang hamba menjadi lebih matang, lebih tawakal, lebih rendah hati, dan lebih dekat kepada-Nya.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Artinya:
“Wahai orang orang yang beriman, mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang orang yang sabar.”
QS. Al Baqarah ayat 153.
Ayat yang agung ini memberikan jaminan bahwa Allah bersama orang orang yang bersabar. Kebersamaan Allah bukan sekadar mengetahui keadaan mereka, tetapi berupa pertolongan, bimbingan, rahmat, perlindungan, dan kemenangan pada waktu yang paling tepat menurut hikmah-Nya.
Perjalanan para nabi menjadi bukti nyata bahwa kegagalan, ujian, dan penderitaan bukanlah tanda kemurkaan Allah. Justru melalui ujian itulah mereka dipersiapkan untuk menerima amanah yang jauh lebih besar.
Nabi Musa ‘alaihissalam pernah mengalami masa yang sangat berat. Setelah tanpa sengaja membunuh seorang lelaki dari kaum Fir’aun, beliau harus meninggalkan Mesir dalam keadaan takut dan sendirian. Selama bertahun tahun beliau hidup di Madyan sebagai penggembala. Dari sudut pandang manusia, semua itu tampak seperti kemunduran. Namun justru dalam masa itulah Allah mendidik beliau menjadi pribadi yang sabar, kuat, bijaksana, dan siap memimpin Bani Israil keluar dari penindasan Fir’aun.
Begitu pula Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Beliau dikhianati oleh saudara saudaranya sendiri, dimasukkan ke dalam sumur, dijual sebagai budak, difitnah, kemudian dipenjara tanpa kesalahan. Jika dilihat secara lahiriah, hidup beliau dipenuhi kegagalan dan penderitaan. Akan tetapi seluruh rangkaian itu ternyata merupakan jalan yang Allah siapkan agar akhirnya beliau menjadi pemimpin yang menyelamatkan Mesir dan sekitarnya dari bencana kelaparan.
Allah berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Artinya:
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
QS. Al Insyirah ayat 5 sampai 6.
Perhatikan bahwa Allah mengulang ayat tersebut dua kali sebagai penegasan bahwa setiap kesulitan selalu disertai kemudahan. Bukan setelah kesulitan, melainkan bersama kesulitan itu sendiri Allah telah menyiapkan jalan keluarnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memberikan kabar gembira kepada orang orang yang diuji.
Beliau bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Artinya:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.”
HR. Muslim.
Hadis ini mengajarkan bahwa tidak ada keadaan yang sia sia bagi seorang mukmin. Keberhasilan menjadi ladang syukur, sedangkan kegagalan menjadi ladang kesabaran. Keduanya sama sama bernilai ibadah apabila dihadapi dengan iman.
Karena itu, jangan pernah merasa rendah hanya karena pernah gagal. Jangan pula membandingkan perjalanan hidup dengan orang lain. Allah memberikan jalan yang berbeda kepada setiap hamba sesuai dengan hikmah dan kemampuan masing masing. Bisa jadi apa yang hari ini dianggap sebagai kegagalan justru menjadi pintu menuju keberhasilan yang jauh lebih besar di masa depan.
Yang dinilai Allah bukan hanya hasil akhir, tetapi juga keikhlasan niat, kesungguhan ikhtiar, kesabaran menghadapi ujian, serta keteguhan hati untuk tetap berada di jalan yang benar. Selama seseorang masih mau bangkit, memperbaiki diri, berdoa, bertawakal, dan tidak berputus asa dari rahmat Allah, maka sesungguhnya ia belum benar benar gagal.
Allah juga mengingatkan agar manusia tidak berputus asa.
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya:
“Katakanlah, wahai hamba hamba Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
QS. Az Zumar ayat 53.
Marilah menjadikan setiap kegagalan sebagai sarana muhasabah, memperbaiki niat, meningkatkan kualitas ikhtiar, memperbanyak doa, memperkuat tawakal, dan memperdalam kesabaran. Sebab, bisa jadi keberhasilan yang paling indah sedang Allah siapkan setelah kita berhasil melewati ujian dengan penuh keimanan. Orang yang sabar tidak pernah benar benar kalah, karena Allah selalu membersamainya. Ketika hati tetap yakin kepada Allah, langkah tidak berhenti berikhtiar, dan lisan terus berdoa, maka setiap kegagalan akan berubah menjadi tangga menuju kemuliaan di dunia dan kebahagiaan abadi di akhirat. (Dr.H.Muhtadi Hairi,M.Pd)
